Sidang Pengadilan

di Dalam

Kaabah Kesucian Sorga

[Wahyu pasal 4, 5, dan 6]

 

 

Bagian I

 

 

 

 

 

Penyimpulan dari semua persoalan ialah: Takutlah akan Allah dan patuhilah perintah-perintah-Nya, karena inilah keseluruhan kewajiban bagi manusia. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke hadapan pengadilan, berikut setiap perkara yang rahasia, apakah itu baik ataupun jahat.” -- Penghotbah 12 : 13 - 14.

 

  D

 

osa ialah pelanggaran hukum, dan upah dosa adalah m a u t.   Kerajaan sorga sebagai sebuah negara hukum akan senantiasa menjunjung tinggi h u k u m dan k e a d i l a n untuk mempertahankan ketertiban di antara semua penghuninya. Sesudah Jesus berhasil menebus kembali umat manusia yang berdosa untuk diselamatkan ke sorga, maka tak dapat tiada perlu adanya suatu lembaga Peradilan untuk mengadili siapa-siapa yang pantas untuk diselamatkan, dan siapa-siapa yang patut dihukum. Tentu saja tidak semua orang dengan begitu saja dapat mengambil manfaat dari upaya penebusan Jesus yang berhasil itu untuk selanjutnya diselamatkan ke sorga, tanpa mematuhi berbagai persyaratan hukum yang sudah digariskan di dalam Kesaksian, ataupun Kesaksian  Jesus Kristus yang kemudian telah menjadi ROH NUBUATAN  itu.

 

            Dengan adanya lembaga Peradilan itu, maka tentunya sudah akan diselenggarakan suatu Sidang Pengadilan atau Sidang Pehukuman, atau juga disebut Sidang Penghakiman yang akan bertempat di dalam sorga, untuk mengadili semua umat yang berdosa di bumi ini. Dengan demikian tak dapat tiada harus ada seorang Hakim, sejumlah orang yang akan bertindak sebagai J u r i, seorang Pembela, para Saksi-Saksi, para t e r d a k w a dan para hadirin yang akan ikut menyaksikan jalannya sidang-sidang. Karena  yang akan diadili pada Sidang Pengadilan itu adalah h a n y a  warga kerajaan yang  berdosa,  maka  kepada kita tak dapat tiada akan lebih dulu diberitahu  k a p a n  dan d i m a n a pengadilan itu akan berlangsung. Dengan demikian kita akan dapat mempersiapkan diri dengan memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia, agar kita dapat dibebaskan daripada sanksi hukuman yang akan dijatuhkan oleh Hakim.   

Pengumuman Akan Adanya Sidang   

Yahya Pewahyu menuliskannya sebagai berikut:

 

            “Maka aku tampak seorang malaikat lain beterbangan di tengah langit, sambil membawa Injil yang kekal untuk dihotbahkan kepada m e r e k a  yang diam di bumi, dan kepada setiap bangsa, dan suku bangsa, dan bahasa, dan u m a t. Katanya dengan suara besar:  Takutlah  akan Allah  dan  muliakanlah  Dia,  karena j a m  p e h u k u m a n (pengadilan)Nya itu sudah tiba; dan sembahlah  Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air.  Kemudian menyusul seorang malaikat lain yang mengatakan: Sudah roboh Babil, sudah roboh, kota yang besar itu, karena ia sudah membuat mabuk segala bangsa oleh air anggur murka zinahnya. Lalu malaikat yang ketiga menyusul keduanya, sambil mengatakan dengan suara besar: Jika seseorang menyembah binatang itu dan patungnya, dan menerima tandanya pada dahinya atau di dalam tangannya, maka orang yang sama itu akan minum air anggur murka Allah, yang akan dituangkan tanpa campuran ke dalam cawan murka-Nya; maka iaitu akan disiksa dengan api dan belerang di hadapan kehadiran malaikat-malaikat yang suci, dan di hadapan kehadiran Anak Domba itu. Maka asap dari siksaan mereka itu akan naik ke atas untuk selama-lamanya; dan mereka tidak akan beristirahat baik siang maupun malam, yaitu mereka yang menyembah binatang itu dan patungnya, dan siapa saja yang menerima tanda namanya.”  -- Wahyu  14  :  6 - 11.

 

            M a l a i k a t di dalam buku Wahyu melambangkan dua objek yang berbeda.  Malaikat yang diam akan melambangkan para pemimpin. Contoh: para malaikat dari tujuh Sidang Jemaat di Asia itu melambangkan para penguasa dari GEREJA - GEREJA yang bersangkutan. Malaikat yang berseru dengan suara besar di atas akan melambangkan pekabaran Injil atau doktrin Alkitab. Jadi perlu sekali diketahui bahwa pekabaran dari ketiga malaikat di atas itu  melambangkan  doktrin Alkitab perihal Sidang Pengadilan atau Pehukuman yang sudah akan mulai duduk semenjak dari pekabaran itu diberitakan kepada penduduk bumi. Tetapi doktrin Alkitab itu sendiri masih harus dicari di tempat lain. Lalu akan ditemukan dimana?

           

Yang Mengumumkan Adanya Sidang Itu

 

            Karena buku Wahyu adalah pelengkap dari buku Daniel, dan karena buku Daniel  itu sendiri baharu akan terungkap pengertiannya di akhir zaman, di dalam GEREJA  milik Tuhan Allah di akhir zaman, maka doktrin Alkitab perihal Sidang Pengadilan Sorga itu tak dapat tiada harus dapat ditemukan hanya di dalam GEREJA dari Sidang Jemaat Laodikea. Yahya Pewahyu sejak mulanya telah menuliskannya sebagai berikut:

 

            Wahyu dari Jesus Kristus, yang diberikan Allah kepada-Nya itu, untuk menunjukkan kepada para hamba-Nya perkara-perkara yang tak dapat tiada a k a n  j a d i segera k e m u - d i a n; lalu Jesus mengirimkan dan menunjukkannya (Wahyu itu) oleh perantaraan malaikatNya kepada hamba-Nya Yahya.

 

            “Dari Yahya kepada tujuh Sidang Jemaat  yang di Asia ..........“Aku, Yahya, yang juga adalah saudaramu dan rekanmu dalam kesusahan  ......... Aku berada dalam Roh  pada hari Tuhan, maka terdengarlah olehku  dari belakang suatu suara besar seperti suara trompet yang mengatakan, Akulah Alpha dan Omega, yang pertama dan yang terakhir; maka apa yang engkau saksikan itu, tuliskanlah di dalam sebuah buku, dan kirimkanlah buku itu kepada t u j u h  sidang Jemaat  yang di Asia: kepada Epesus, dan kepada Smyrna, dan kepada Pergamus, dan kepada Thyatira, dan kepada Sardis, dan kepada Philadelfia, dan kepada  L a o d i k e a.” -- Wahyu  1 : 1, 4, 9, 10, 11.

 

            Karena Tuhan Allah memiliki h a n y a  s a t u Sidang Jemaat-Nya pada sepanjang sejarah dunia, maka yang dilambangkan oleh “tujuh Sidang Jemaat”  itu tak dapat tiada dimaksud kepada Sidang Jemaat yang ketujuh, yang telah menjelajahi seluruh tujuh periode sejarah Wasiat Baru. Jadi kegenapan dari kata-kata nubuatan Wahyu itu baharu akan berlaku kepada Sidang Jemaat Laodikea, karena baharu di akhir zaman berbagai rahasia dari buku Wahyu itu terungkap di dalam GEREJA dari Sidang Jemaat Laodikea. Perkataan: “Laodikea“ itu sendiri berasal dari dua suku kata dari bahasa Gerika, Lao dan Dekei, yang berarti berkata dan pehukuman. Jadi Sidang Jemaat Laodikea ialah  GEREJA yang memberitakan pekabaran perihal Pehukuman atau Pengadilan itu. 

 

            Kini jelaslah bagi kita bahwa yang akan memberitakan pekabaran tiga malaikat dari Wahyu 14  :  6 -  11 itu kepada dunia tak dapat tiada h a n y a GEREJA dari Sidang Jemaat Laodikea saja, sebab h a n y a kepadanyalah Wahyu dari Jesus Kristus itu diperuntukkan. Bacalah Wahyu 1 : 1 dan 4.

           

           Karena berbagai nubuatan dari nabi Daniel dan Yahya Pewahyu sudah  selengkapnya diinterpretasikan ke dalam  ROH NUBUATAN, maka  keseluruhan doktrin Alkitab perihal pekabaran tiga malaikat dari Wahyu 14 : 6 - 11 itu tak dapat tiada akan ditemukan di dalam ROH NUBUATAN itu juga. Pekabaran tiga malaikat dari  Wahyu  14  : 6 - 11  itulah yang melambangkan Roh Nubuatan dari Nyonya Ellen G. White  yang telah dihotbahkan dan dibukukannya  kepada kita  semenjak dari tahun l844 sampai kepada kematiannya dalam tahun 1915.  Namun  karena  pekabaran  tiga malaikat  atau Roh Nubuatan dari hamba Tuhan Nyonya White itu  baharu hanya berbicara  perihal pengadilan  terhadap  umat yang sudah mati, maka kita tak dapat tiada masih harus diberikan lagi sebuah pekabaran baru, yang akan berbicara perihal pengadilan orang hidup, yang akan menghakimi k i t a yang masih hidup ini.

 

            Demikian itulah, maka telah datang kemudian semenjak dari tahun 1929 yang lalu pekabaran dari malaikat Wahyu 18 : l. Rasul Yahya menuliskannya sebagai berikut:  “Maka sesudah segala perkara ini aku tampak seorang malaikat lain turun ke bumi, dengan kuasa besar; maka bumi diterangi oleh kemuliaannya.”  Wahyu 18 : 1. 

 

             ROH NUBUATAN menjelaskannya: “Kemudian aku tampak seorang malaikat perkasa lainnya bertugas turun ke bumi, untuk menggabungkan suaranya dengan malaikat yang ketiga, dan memberikan kuasa dan tenaga bagi pekabarannya. ..........Pekabaran ini tampaknya merupakan suatu tambahan bagi pekabaran yang ketiga yang bergabung dengannya bagaikan seruan tengah malam yang telah bergabung dengan pekabaran malaikat yang kedua dalam tahun 1844.” -- Early Writings, p. 277.

 

            Jadi jika pekabaran tiga malaikat atau pekabaran malaikat yang ketiga itu melambangkan buku-buku terbitan Roh Nubuatan dari Nyonya Ellen G. White, maka pekabaran malaikat Wahyu 18 : 1 tak dapat tiada melambangkan buku-buku terbitan Tongkat Gembala dari Victor T. Houteff. Ini jelas dipahami, sebab pekabaran dari malaikat yang terakhir itu langsung menggabungkan diri dengan pekabaran yang ketiga, menciptakan terang besar yang menerangi bumi. Artinya, setelah pekabaran dari malaikat-malaikat itu bergabung ke dalam ROH NUBUATAN, maka terungkaplah pengertian dari seluruh i s i Alkitab itu di akhir zaman. Kemudian nasib dari planet bumi ini berikut semua penghuninya  menjadi jelas dan terang.

 

Mengenai Kapan Sidang Pengadilan itu Dimulai

 

“Maka katanya kepadaku : ‘Sampai dua ribu tiga ratus hari,

baharu kaabah kesucian itu akan dibersihkan.” -- Daniel 8 : 14.

 

          Satu hari nubuatan = satu tahun kalender. Ini dapat diketahui dari ucapan  nubuatan nabi Jehezkiel pada Jehezkiel 4 : 5 dan 6 yang pada bagian akhirnya  berbunyi: “................. Telah kutentukan bagimu masing-masing hari itu untuk s a t u  t a h u n.”

 

            Sampai dua ribu tiga ratus tahun baharu kaabah kesucian itu akan dibersihkan. Kaabah kesucian yang manakah yang akan dibersihkan? Untuk menjawab pertanyaan ini kita hendaknya waspada, bahwa nubuatan Daniel itu baharu terungkap pengertiannya di akhir zaman, di dalam Sidang Jemaat Laodikea. Jadi kita harus mencarikan pengertiannya di dalam ROH NUBUATAN. Dari ROH NUBUATAN itu juga akan kita ketahui bahwa jangka waktu dua ribu tiga ratus tahun itu dimulai dari tahun 457 s.TM sampai tahun 1844 saat  dimulainya masa periode dari Sidang Jemaat Laodikea. Hamba Tuhan menuliskannya di dalam ROH NUBUATAN sebagai berikut:

 

            “Perintah untuk membangun kembali Jerusalem sebagaimana yang telah disempurnakan dengan keputusan raja Artaxerxes Longimanus mulai berlaku dalam tahun 457 s.TM. Bacalah Ezra 6 : 14; 7 : 1, 9.”  Prophets and Kings, pp.  698, 699.

 

            Dalam pasal yang ketujuh dari buku Ezra perintah itu ditemukan. Ayat 12  - 26. Dalam bentuk i s i nya yang lengkap iaitu dikeluarkan oleh Artaxerxes raja  Persia pada tahun 457 s.TM. Tetapi di dalam Ezra 6 : 14 rumah Tuhan di Jerusalem itu dikatakan telah dibangun ‘sesuai dengan perintah (keputusan,  bagian akhir) Kores dan Darius dan Artaxerxes raja dari Persia.’ Ketiga raja ini dalam mengadakan, meneguhkan kembali serta menyempurnakan keputusan itu, telah melengkapi keputusan itu seperti yang dipersyaratkan di dalam nubuatan untuk membuktikan permulaan dari masa 2.300 tahun itu.”The Great Controversy,  pp. 326 – 327.

 

            Sebagaimana halnya imam besar memasuki tempat maha suci sekali setahun  untuk membersihkan kaabah kesucian dunia, maka demikianlah Jesus memasuki tempat maha suci di sorga pada akhir dari 2.300 hari dari nubuatan Daniel 8, dalam tahun 1844, untuk melaksanakan suatu penebusan terakhir bagi semua orang yang dapat memperoleh manfaat dari pembelaan-Nya, lalu dengan demikian Ia membersihkan tempat yang maha suci itu.”-- Early  Writings, p. 253.

 

            Pada waktu ini kaabah kesucian  yang terdiri dari tempat suci dan tempat maha suci yang dipisahkan oleh tirai yang besar itu sudah tidak ditemukan lagi di bumi ini. Kaabah kesucian yang terakhir di Jerusalem itu sudah berakhir fungsinya setelah Jesus menghembuskan nafasnya yang terakhir di bukit Golgotha. Itulah sebabnya, maka setelah Jesus kembali ke sorga dalam tahun 31 TM  tidak ada lagi jabatan imam ataupun imam besar yang bertugas di dalam tempat suci maupun tempat maha suci di bumi ini.

 

            Namun karena Jesus belum juga menanggalkan jubah keimmamatan-Nya sampai kepada hari ini, maka sebagai Imam Besar di dalam kaabah kesucian sorga, Ia sudah akan menyelesaikan tugas-Nya di dalam tempat yang maha suci disana terhitung sejak tahun 1844 yang lalu.

 

            Pembersihan kaabah ialah pembuangan dosa dan orang-orang berdosa  keluar dari kaabah Allah. Karena berkaitan dengan pelanggaran hukum, maka proses pembersihan kaabah itu juga akan merupakan proses hukum melalui sidang Pengadilan. Jadi sidang Pengadilan itulah yang akan berlangsung di dalam kaabah kesucian sorga, di dalam ruangan dari tempat yang maha suci.  

 

Dari Persidangan Yang Sudah Dimulai

           

            Yahya Pewahyu telah dibawa dalam Roh untuk menyaksikan ke dalam kaabah kesucian itu setelah Sidang Pengadilan itu duduk. Bahkan pada kenyataannya, Yahya bukan saja menyaksikan Sidang Pengadilan itu berlangsung, melainkan ia telah menyaksikan seluruh proses pengadilan itu semenjak dari mulanya sampai akhir. Untuk itulah kita ikuti bagaimana Yahya  menuliskannya di bawah ini: 

 

            Sesudah ini aku tampak, maka tengoklah, sebuah pintu terbuka di dalam sorga, maka suara yang pertama sekali kudengar adalah bagaikan dari sebuah trompet yang berbicara kepadaku, yang mengatakan: ‘Naiklah kemari, maka aku akan menunjukkan kepadamu perkara-perkara yang tak dapat tiada harus jadi kemudian. Maka segeralah aku berada dalam Roh, lalu tengoklah, sebuah tahta dipersiapkan di dalam sorga, dan seseorang duduk di atas tahta itu.

 

            Maka dia yang duduk itu rupanya seperti sebuah permata yasip dan sebuah batu akik; dan terdapat sebuah pelangi yang mengelilingi tahta itu, seperti sebuah zamrud rupanya. Dan sekeliling tahta itu ada dua puluh empat tempat duduk, dan pada tempat-tempat duduk itu aku tampak dua puluh empat tua-tua sedang duduk, yang berpakaian putih-putih, dan mereka memiliki di atas kepalanya makota-makota emas.

 

            “Maka dari tahta itu keluar kilat-kilat dan guruh-guruh dan suara-suara, dan adalah di sana tujuh buah pelita dari api yang bernyala-nyala di hadapan tahta itu, yaitu tujuh Roh Allah.

 

            Dan di hadapan tahta itu terdapat suatu lautan kaca seperti kristal rupanya, dan di tengah-tengah, dan sekeliling tahta itu terdapat empat binatang yang penuh dengan mata di depan dan di belakang. Maka binatang yang pertama itu adalah seperti seekor singa, dan binatang yang kedua bagaikan seekor anak lembu, dan binatang yang ketiga itu memiliki wajah seperti wajah seorang laki-laki, dan binatang yang keempat itu adalah seperti seekor burung garuda yang terbang.

 

            Maka empat binatang itu masing-masingnya memiliki enam sayap di sekelilingnya, dan mereka adalah penuh dengan mata di dalamnya; dan tiada mereka itu berhenti siang dan malam mengatakan: ‘Suci, suci, suci, Tuhan Allah  Yang Maha Kuasa, Yang dahulu ada, dan Yang ada, dan Yang akan datang.’

 

            “Maka bilamana binatang-binatang itu memuliakan dan memberi hormat dan mengucapkan syukur kepada Dia yang duduk di atas tahta itu, yang hidup selama-lamanya, maka sujudlah dua puluh empat tua-tua itu di hadirat Dia yang duduk di atas tahta itu dan menyembah Dia yang hidup selama-lamanya, sambil mereka itu menanggalkan mahkota-mahkota mereka di hadapan tahta itu, dan  mengatakan:

 

            “Ya Tuhan berlayaklah Engkau untuk menerima kemuliaan dan hormat dan kuasa, karena Engkau telah menciptakan segala perkara, dan karena kesenangan-Mu juga sekaliannya itu ada dan telah diciptakan. 

 

            “Maka aku tampak di dalam tangan kanan Dia yang duduk di atas tahta itu sebuah kitab yang tertulis di dalamnya dan di luarnya, yang tersegel dengan tujuh buah meterai.

 

            “Maka aku tampak seorang malaikat perkasa memberitakan dengan suatu suara besar: ‘Siapakah yang layak untuk membuka kitab itu, dan melepaskan meterai-meterainya?’ Maka baik di sorga, baik di bumi, atau di bawah bumi, tak seorangpun yang mampu membuka kitab itu ataupun memandanginya. Maka sangatlah aku menangis sebab tiada seorangpun di dapati layak untuk membuka dan membaca kitab itu, ataupun untuk memandang padanya.

 

            “Maka salah seorang dari para tua-tua itu mengatakan kepadaku: ‘Jangan menangis; tengoklah, singa dari suku bangsa Jehuda, yaitu Akar Daud itu, sudah menang untuk membuka kitab itu, dan untuk melepaskan tujuh meterainya.’

 

            “Maka aku tampak, dan, heran, di tengah-tengah tahta dan di tengah-tengah empat binatang itu, dan di tengah-tengah para tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba yang bagaikan sudah disembelih rupanya, yang bertanduk tujuh dan bermata tujuh, yaitu tujuh Roh Allah yang sudah diutus ke seluruh bumi.

 

            Maka datanglah Anak Domba itu lalu mengambil kitab itu dari dalam tangan kanan Dia yang duduk di atas tahta itu. Dan setelah diambilnya kitab itu, maka empat binatang dan dua puluh empat tua-tua itu bersujudlah di hadapan Anak Domba itu, masing-masing mereka memegang kecapi dan bokor emas yang penuh bau-bauan, yaitu doa-doa dari orang-orang suci.

 

            Maka menyanyilah mereka itu suatu nyanyian yang baru bunyinya: ‘Layaklah Engkau mengambil kitab itu dan membuka meterainya, karena Engkau sudah tersembelih, dan oleh darah-Mu Engkau t e l a h menebus k a m i bagi Allah daripada setiap suku bangsa, dan bahasa, dan umat, dan bangsa, dan Engkau telah membuat kami menjadi raja-raja dan imam-imam bagi Allah kami; maka kami akan memerintah di bumi.

 

            “Maka aku tampak, dan aku dengar suara dari banyak malaikat yang mengelilingi tahta dan binatang-binatang dan para tua-tua itu: maka angka bilangan mereka itu adalah sepuluh ribu kali sepuluh ribu, dan beribu ribu; yang mengatakan dengan suara besar: ‘Layaklah Anak Domba yang tersembelih itu untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan berkat.

 

            “Maka setiap mahluk yang di dalam sorga, dan di bumi, dan di bawah bumi, dan sedemikian ini yang ada di dalam laut, dan semua yang ada di  dalamnya,  aku  dengar mengatakan: ‘Bagi Dia yang duduk di atas tahta dan bagi Anak Domba itu, adalah berkat, dan hormat, dan kemuliaan, dan kuasa sampai selama-lamanya.

           

            “Maka empat binatang itu mengatakan:  ‘Amin.  Lalu dua puluh empat tua-tua itupun bersujudlah dan menyembah Dia yang hidup untuk selama-lamanya.”   Wahyu pasal 4 dan 5.

 

  

 

Beberapa hal penting yang perlu dicatat dari tulisan Wahyu pasal 4 dan 5 itu adalah sebagai  berikut : 

  1. Yahya telah menyaksikan sebuah pintu terbuka di dalam sorga, yang  membuktikan bahwa Sidang Pengadilan itu berlangsung di dalam sorga, bukan di bumi.     
  2. Sementara Yahya memandang ke dalamnya, maka tampak olehnya seseorang yang duduk di atas tahta. Melihat kepada tugasnya, maka orang itu tak dapat tiada adalah Allah Bapa sendiri, yang akan bertugas sebagai Hakim. Di dalam tangan kanan-Nya ada sebuah kitab yang tersegel dengan tujuh meterai. Kitab itu kemudian telah dibukakan daripada meterai-meterainya, sehingga kepada Yahya telah diperlihatkan  seluruh gambaran dari isi kitab itu. Bahwa semua yang ditulisnya perihal isi dari kitab itu memberikan kepada kita apa yang dimaksud oleh Wahyu itu, yaitu perkara-perkara termeterai yang dibukakan, perkara-perkara  rahasia yang diungkapkan.      
  3. Dari Wahyu 20 : 12  terbukti masih ada lagi kitab-kitab lainnya  yang tidak tersegel namun  kepada Yahya tidak diperlihatkan isi dari kitab-kitab itu.                
  4. Sementara itu ada dua puluh empat tua-tua yang duduk mengelilingi tahta, menunjukkan bahwa mereka sesungguhnya adalah p a r a  j u r i  pada Sidang Pengadilan itu.
  5. Anak Domba yang juga disebut singa itu melambangkan Jesus. Dialah satu-satunya yang dapat membuka kitab itu daripada meterai-meterainya, karena Dia sudah tersembelih untuk penebusan mereka yang nama-namanya tercatat di dalam  kitab itu.
  6. Adanya beribu-ribu malaikat berdiri di sekeliling tahta membuktikan bahwa     mereka itu adalah para saksi yang ikut menyaksikan Sidang-Sidang yang  berlangsung itu.
  7. Sementara itu para terdakwa telah diperlihatkan kepada Yahya dalam bentuk empat binatang. Mereka itu adalah umat kesucian yang berada di dalam persidangan itu mewakili semua  umat Allah di bumi, yang sedang diadili pada Sidang Pengadilan itu. Ini jelas terbukti dari ucapan mereka sendiri yang berbunyi: “.......karena Engkau sudah tersembelih dan sudah menebus k a m i bagi Allah oleh darah-Mu, keluar daripada setiap suku  bangsa, dan bahasa, dan umat, dan bangsa.”  Wahyu 5 : 9.           

ROH NUBUATAN menjelaskan sebagai berikut :   

            Sidang Pengadilan itu oleh Ilham dijelaskan terdiri dari seorang Hakim, yaitu DIA yang tiada berkesudahan hari-Nya itu; para saksi, yaitu malaikat-malaikat; seorang pembela, yaitu Anak Domba itu; suatu dewan J u r i, yaitu para tua-tua itu; para terdakwa, yaitu binatang-binatang itu; dan Pemimpin  mereka, yaitu singa dari suku bangsa Jehuda itu.” -- To The Seven Churches, p. 14.

 

Dimulai Dengan Pengadilan Orang Mati

 

Dari ROH NUBUATAN kita baca sebagai berikut :

 

            “Setiap perkara sudah akan diputuskan bagi hidup atau mati. Sementara Jesus bertugas di dalam kaabah kesucian, maka pengadilan itu terus berlangsung mengadili semua  u m a t   yang  s u d a h   m a t i,  dan kemudian mengadili umat kesucian yang masih h i d u p.”  -- The Story of Redemption, pp. 402, 403. 

 

            Pengadilan itu kini masih berlangsung di dalam kaabah kesucian yang di atas. Empat puluh tahun sudah pekerjaan ini berlangsung. Segera --- tidak seorangpun tahu berapa segeranya ------ iaitu akan berlangsung terhadap perkara-perkara dari orang-orang yang h i d u p. Di hadapan hadirat Allah yang menakutkan itu semua kehidupan kita akan muncul terbuka untuk ditinjau kembali. Pada waktu ini di atas segala-galanya yang lain, demi kepentingan setiap jiwa kita supaya memperhatikan nasehat Juruselamat yang berbunyi: ‘Berjagalah dan berdoalah selalu, karena tidak engkau ketahui kapan waktu itu tiba.’” --- Spirit of Prophecy, vol. 4, p. 315.

 

            Nama-nama dari para terdakwa yang akan diadili itu akan ditemukan di dalam kitab yang tersegel dengan tujuh meterai itu. Kitab itu telah dibagi dalam tujuh bagian dan masing-masing bagiannya telah disegel tersendiri dengan sebuah meterai. Karena hanya Jesus yang berhak membuka bagian-bagian kitab itu daripada meterai-meterainya, maka bagian-bagian dari kitab itu tak dapat tiada berisikan bagian-bagian sejarah berikut nama para terdakwa yang hidup di dalam bagian sejarah yang bersangkutan. Sejarah dunia ini ternyata telah dibagi ke dalam tujuh periode sesuai dengan adanya tujuh meterai tersebut. 

         

          Dalam pada itu Yahya juga menyaksikan ke dalam Sidang Pengadilan itu, bahwa ada terdapat disana e m p a t jenis binatang yang berbeda - beda:  binatang yang pertama adalah bagaikan seekor singa, binatang yang kedua seperti seekor anak lembu, binatang yang ketiga memiliki wajah dari seorang laki-laki, dan binatang yang keempat adalah seperti seekor burung garuda yang terbang. Karena binatang-binatang itu juga melambangkan semua umat kesucian yang akan diadili di dalam Sidang Pengadilan itu, maka keempat binatang itupun akan melambangkan empat  bagian sejarah  dunia  ini. Binatang yang pertama melambangkan orang-orang yang hidup dalam bagian sejarah yang pertama semenjak dari kejadian dunia sampai kepada nabi Musa. Inilah  bagian dari sejarah dunia sebelum Alkitab dibukukan. Binatang yang kedua melambangkan  bagian sejarah yang kedua semenjak dari Musa sampai kepada saat Jesus menyerahkan nyawa-Nya bagi penebusan umat manusia pada tahun 31 TM. Binatang yang ketiga melambangkan bagian sejarah yang ketiga semenjak dari tahun 31 TM sampai kepada akhir Sidang Pengadilan bagi orang mati. Dan binatang yang keempat melambangkan  bagian sejarah yang keempat  semenjak dari pembersihan Sidang Jemaat Laodikea (Jehezkiel pasal 9) sampai  kepada akhir masa kasihan yang akan datang.

           

            Setelah Jesus membuka meterai yang ketujuh, maka terjadilah  suasana  d i a m di dalam sorga  selama kira-kira  setengah  jam nubuatan,  yaitu kira-kira tujuh hari lamanya di bumi ini. Baca Wahyu 8 : 1. Keadaan itulah yang membuktikan bahwa Sidang yang menghakimi orang-orang yang sudah mati telah berakhir. Dan untuk sementara Jesus sebagai Imam Besar meninggalkan medzbah keemasannya turun ke bumi, untuk meresmikan berdirinya Kerajaan  Daud di Gunung Sion, Palestina.

 

Pengadilan Orang Hidup

 

            Dari Wahyu 8 : 3 - 5 tampak  kemudian, bahwa Jesus telah berdiri kembali bertugas pada medzbah keemasannya di dalam kaabah kesucian sorga setelah kembali dari bumi. Ini membuktikan bahwa Sidang Pengadilan itu sudah dimulai kembali untuk menghakimi orang-orang yang masih hidup.

 

            Berbeda dengan Pengadilan Orang Mati yang hanya berlangsung di dalam kaabah kesucian sorga, maka pada Pengadilan Orang Hidup proses penghakiman itu akan dimulai di bumi ini, baharu kemudian dilanjutkan di dalam kaabah kesucian sorga. Proses Pengadilan Orang Mati di dalam kaabah kesucian sorga itu dilakukan melalui buku-buku. Mereka yang didapati tidak atau tidak sepenuhnya bertobat sampai kepada akhir hayatnya, nama-namanya akan dialihkan dari buku kehidupan ke dalam buku kematian. Mereka itulah yang baharu akan dibangkitkan pada akhir dari seribu tahun millenium yang akan datang. Dan kebangkitan itulah yang dikenal sebagai kebangkitan yang kedua.

           

            Tetapi pada Pengadilan Orang Hidup yang akan datang, proses penghakiman itu akan dimulai dengan  pelaksanaan eksekusi, yaitu pembantaian yang dinubuatkan pada Jehezkiel pasal 9. ROH NUBUATAN menuliskannya sebagai berikut:

 

            Pengadilan Orang Hidup di bumi dimulai dengan Jehezkiel pasal 9,  tetapi di dalam sorga (di dalam buku-buku) adalah sesudah Jehezkiel pasal 9.  Pengadilan Orang Hidup itu adalah dalam dua tahapan: Tahap pertama ialah  suatu pemisahan yang akan menyingkirkan keluar orang jahat dari antara orang-orang benar, Jehezkiel pasal  9. Tahap kedua ialah pemrosesan melalui b u k u  (book work) sewaktu dilakukan pemeriksaan, dan sewaktu dosa-dosa  dari orang benar dan nama-nama dari orang jahat dihapuskan dari berbagai catatan di dalam sorga. Tahap yang kedua inilah yang merupakan  persidangan hukum itu, yang akan dimulai s e s u d a h Jehezkiel pasal 9.” -- The Symbolic Code, vol. 12, No. 3, pp. 19, 20.        

         

          Kita mungkin saja akan bertanya: Bagaimanakah mungkin eksekusi hukuman dari Jehezkiel pasal 9 itu dapat dilaksanakan, padahal persidangan yang mengadili terdakwanya sendiri belum dimulai? Bagaimanakah mungkin  para tua-tua dan begitu banyak umat kesucian yang berasal dari bumi ini dapat dibawa masuk ke sorga, dan menampakkan diri kepada Yahya sejak tahun 96 yang lalu, padahal Sidang Pengadilannya sendiri baharu dimulai dalam tahun 1844 ?     

           

            Perlu sekali diketahui bahwa semua orang yang diadili pada Sidang Pengadilan itu adalah h a n y a warga kerajaan sorga, yaitu mereka yang tunduk kepada Sepuluh Perintah dari Hukum Torat dan Kesaksian Jesus atau ROH NUBUATAN. Nama-nama mereka itu sedianya sudah ada di dalam buku kehidupan. Karena mereka itu ternyata tidak lagi terjerumus jatuh  ke dalam jenis dosa yang tak terampuni lagi  sampai kepada akhir hayatnya, maka Tuhan Allah dan Jesus sudah dapat memutuskan langsung nasib mereka. Sebaliknya, oleh begitu banyaknya anggota Sidang Jemaat Laodikea yang terus berdosa karena menolak sebagian atau seluruh ROH NUBUATAN di akhir dunia sekarang ini,  maka mereka itu tentunya tidak lagi terampuni dosa-dosanya, baik pada saat kejatuhannya maupun di akhirat (Bacalah Matius 12 : 32). Artinya nama-nama mereka itu semenjak dari kejatuhannya tidak akan lagi dipertahankan di dalam buku kehidupan di dalam sorga. Nabi Solaiman mengatakan: “Karena orang benar itu jatuh tujuh kali lalu bangkit kembali, tetapi orang jahat itu akan jatuh ke dalam celaka.”  Amzal Solaiman 24 : 16.

           

            Sekalipun dua jenis umat (orang benar dan orang jahat) itu kini bersama-sama  berada di dalam Sidang Jemaat Laodikea yang sama, namun h a n y a  orang benar itulah yang nama-namanya akan dipertahankan di dalam buku kehidupan sampai kepada tiba gilirannya untuk diperiksa. Orang jahat sejak dari kejatuhannya dalam dosa melawan ROH NUBUATAN tidak lagi dipertahankan nama-namanya di dalam buku kehidupan, sebab mustahil mereka dapat kembali bertobat. Orang jahat dalam pengertian hukum Alkitab ialah orang-orang yang telah jatuh berdosa melawan Roh Suci. Janganlah kita mencampur-adukkan  “orang jahat” dalam pengertian masyarakat umum dengan “orang jahat” dalam pengertian hukum Alkitab, agar supaya keyakinan kita pada kebenaran Alkitab tidak goyah.

 

Daniel dan Yahya sama-sama Menyaksikan

Pengadilan itu dalam khayal

 

          Apa yang telah disaksikan oleh Yahya di atas adalah sebuah ramalan  perihal peristiwa yang s a m a dengan apa yang telah diungkapkan Tuhan kepada nabi Daniel sebelumnya.  Dan itulah Sidang Pengadilan di dalam kaabah kesucian sorga yang dimulai dalam tahun 1844. Ikutilah perbandingan singkat ucapan dari kedua hamba Allah itu di bawah ini.

 

Khayal dari Daniel

(Daniel pasal 7)

 

Khayal dari Yahya

(Buku Wahyu)

1.

“Aku tampak sampai tahta-tahta itu ditaruh.” Ayat 9

 

 

“Maka aku tampak beberapa tahta.” -- Wahyu 20 : 4

 

 

2.

“Dan Yang Tiada Berkesudahan Hari-Nya itu duduk.” Ayat 9

 

 

“Dan seseorang duduk di atas tahta itu.” – Wahyu 4 : 2.

 

 

3.

“Suatu sungai api mengalir dan keluar dari hadapanNya.” Ayat 10

 

 

“Dan aku tampak seakan-akan suatu lautan kaca yang bercampur dengan api.” Wahyu 15 : 2.

 

 

4.

“Seseorang seperti Anak manusia itu datang…. kepada Yang Tiada Berkesudahan Hari-Nya itu, lalu mereka menghantarkan-Nya ke hadapan hadirat-Nya.” Ayat 13

 

 

 

“Di tengah-tengah tahta dan di tengah-tengah empat binatang itu…… berdiri seekor Anak Domba.” – Wahyu 5 : 6.

5.

“Kitab-kitab dibuka.” Ayat 10.

 

 

“Dan kitab-kitab dibuka.” – Wahyu 20 : 12.

 

 

6.

“Beribu-ribu berbakti kepada-Nya, dan sepuluh ribu kali sepuluh ribu berdiri di hadapan hadirat-Nya.” Ayat 10.

 

 

“Ku dengar suara dari banyak malaikat yang mengelilingi tahta itu …. dan angka bilangan mereka itu adalah sepuluh ribu kali sepuluh ribu, dan beribu-ribu banyaknya.” – Wahyu 5 : 11.

 

 

7.

Pengadilan itu duduk dan kitab-kitab dibuka.” Ayat 10

 

 

Jam pehukumanNya sudah tiba.” – Wahyu 14 : 7.  “Maka aku tampak segala orang mati itu, kecil dan besar, berdiri sekaliannya dihadapan hadirat Allah; dan kitab-kitab dibuka, dan sebuah kitab lainnya juga dibuka, yaitu kitab kehidupan; maka segala orang mati itu diadili menurut segala perkara itu yang tertulis di dalam kitab-kitab itu, sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka.” – Wahyu 20 : 12

 

            Daniel dan Yahya sebagai saksi telah menyatakan dengan tegas, bahwa peristiwa yang mereka saksikan itu ialah Sidang Pengadilan. Perbedaan di antara kedua khayal mereka itu ialah, bahwa Daniel telah dibawa untuk melihat ke dalam Kaabah Kesucian itu selagi berbagai persiapannya sedang dibuat menjelang Sidang. Sedangkan Yahya telah dibawa untuk memandang ke dalam Kaabah Kesucian itu sesudah Sidang itu dimulai. Pada kenyataannya, Yahya bukan saja menyaksikan Sidang Pengadilan itu berlangsung, tetapi ia melihat keseluruhan kejadian itu semenjak dari mulainya sampai kepada akhirnya.

 

            Sebagai contoh: Daniel menyaksikan perkara-perkara itu sewaktu tahta-tahta itu sedang diletakkan, sewaktu Dia Yang Tiada Berkesudahan Hari-Nya  itu  sedang beralih  atau pindah dari tahta Adminstrasi  (tahta dimana Kristus duduk pada sebelah kanan Bapa-Nya --- Wahyu 22 : 1) ke tahta Pengadilan (tahta yang berada di dalam kaabah kesucian). Kemudian seseorang seperti Anak Manusia datang, lalu mereka menghantarkan-Nya dekat ke hadapan hadirat Dia Yang Tiada Berkesudahan Hari-Nya itu (Daniel 7 : 13), dan b u k a n pada sebelah kanan-Nya.  Sementara itu orang-orang yang akan duduk pada tahta-tahta atau tempat-tempat duduk yang lainnya yang sedang diletakkan itu belum lagi datang. Sekalipun demikian sewaktu Yahya melihat ke dalam, ia menyaksikan dua puluh empat tua-tua itu s u d a h duduk pada tahta-tahta itu.

 

            Daniel melihat seseorang seperti Anak Manusia sewaktu Ia itu sedang dibawa hampir ke hadapan Dia Yang Tiada Berkesudahan Hari-Nya itu. Tetapi Yahya melihat-Nya s e s u d a h Ia dibawa ke sana.

 

            Kepada Yahya kedatangan-Nya itu tampak bagaikan seekor Anak Domba, dan salah seorang dari para tua-tua itu memanggil-Nya, “singa dari suku bangsa Jehuda.” Di samping itu Yahya juga menyaksikan disana empat ekor binatang, kaki pelita, dan kitab yang masih terbuka. Jadi Daniel menyaksikan hanya sebagian dari persiapan-persiapannya, sedangkan Yahya melihat pembukaan Sidang Pengadilan itu berikut seluruh kejadian yang menyusul kemudian.

 

Bagaimana Keadilan Ditegakkan

 

            Sekalipun Sepuluh Perintah dari Hukum Torat itu tidak pernah berubah sepanjang zaman, namun Kesaksian atau Kesaksian Jesus Kristus maupun ROH NUBUATAN, sebagai peraturan-peraturan pelaksanaannya terus bertambah semenjak dari mulanya.  Jadi dengan terus bertambahnya  generasi  manusia  semenjak dari  mulanya  sampai kepada hari ini, maka demikian itu pula terus bertumbuh dan berkembang kebenaran dari Alkitab itu sampai di akhir dunia sekarang ini. Makin bertambah generasi, makin bertambah pula peraturan pelaksanaan bagi Hukum Torat  itu, dan makin bertambah pula tanggung jawab yang dibebankan pada orang-orang dari generasi - generasi yang bersangkutan untuk  mematuhinya.

                        

 

            Para terdakwa dari bagian sejarah yang pertama, yang dilambangkan oleh singa semasa hidupnya bertanggung jawab untuk melaksanakan pembakaran korban di atas medzbah. Kemudian para terdakwa dari bagian sejarah yang kedua semenjak dari Musa dan para pengikutnya yang dilambangkan oleh  lembu muda, wajib melakukan upacara kurban setiap harinya di dalam bilik yang suci dari kaabah kesucian mereka di waktu itu, dan setiap tahun sekali upacara kurban dilakukan di dalam bilik yang maha suci bagi seluruh umat. Kemudian para terdakwa dari bagian sejarah yang ketiga, yang dilambangkan oleh binatang yang berkepala seperti kepala manusia itu, ternyata tidak perlu lagi melakukan upacara kurban yang dibakar di atas medzbah. Dan para terdakwa dari bagian sejarah yang keempat yang dilambangkan oleh burung garuda yang dapat terbang itu ternyata wajib mematuhi seluruh isi Alkitab selengkapnya, termasuk pula semua perkataan nubuatan yang pasti yang baharu terungkap di akhir zaman. Jadi, masing-masing generasi bertanggung jawab untuk mematuhi seluruh kebenaran yang terungkap di masa hidup mereka. Hamba Tuhan menuliskannya di dalam ROH NUBUATAN sebagai berikut:

           

            Berbagai periode yang berbeda dalam sejarah GEREJA telah ditandai  oleh berkembangnya sesuatu kebenaran yang khusus, yang disesuaikan bagi berbagai kebutuhan umat Allah pada waktu itu. Setiap kebenaran baru telah menempuh jalannya menghadapi kebencian dan tantangan; orang-orang yang telah diberkahi dengan terangnya telah diuji dan dicobai. Tuhan memberikan kepada umat-Nya sesuatu kebenaran khusus dalam keadaan yang mendesak. Siapakah yang berani menolak memberitakannya ?”  -- The Great Controversy, p.  609.

 

            Manusia akan diadili sesuai dengan takaran terang yang telah diberikan kepada mereka. Tidak seorangpun akan diminta bertanggung jawab untuk kegelapan dan kekeliruan-kekeliruannya jika terang itu belum disampaikan kepada mereka. Mereka tidak akan berdosa karena tidak menyambut a p a  yang tidak diberikan kepada mereka. Semua orang akan diuji sebelum Jesus meninggalkan kedudukan-Nya di dalam tempat yang maha suci.” 1 Testimony Treasures, p. 285.

 

            Apabila pehukuman kelak duduk bersidang, dan buku-buku dibuka, dan setiap orang kelak diadili sesuai dengan perkara-perkara yang tercatat di dalam buku-buku itu, maka log-log batu (dua log batu yang berisikan sepuluh perintah Torat) itu yang disembunyikan Allah sampai kepada hari itu, akan diserahkan ke hadapan dunia sebagai standar ukuran kebenaran. Kemudian semua pria dan wanita akan kelak menyaksikan bahwa persyaratan bagi penyelamatan mereka adalah k e p a t u h a n  pada Hukum Allah yang sempurna. Tidak seorangpun akan menemukan maaf untuk dosa. Oleh prinsip-prinsip kebenaran dari hukum itu manusia akan menerima keputusan mereka bagi h i d u p atau m a t i.” --  Ellen G. White, SDA Bible Commentary, vol. 7 - A, p. 41.

                       

            Ternyata di samping pengelompokan seluruh umat Allah ke dalam empat kelompok besar dari empat bagian sejarah yang panjang itu, masih adalah lagi  pengelompokan lainnya yang dilakukan ke dalam tujuh kelompok yang lebih kecil seperti yang terdapat pada kitab yang termeterai dengan tujuh meterai itu.   Keadaan itulah yang membuktikan betapa adilnya Tuhan Allah dan Jesus  menegakkan keadilan di dalam Sidang  pemeriksaan Pengadilan itu. Setiap kelompok bertanggung jawab untuk mematuhi semua petunjuk Kesaksian  atau Kesaksian Jesus yang terungkap dalam masa sejarah mereka. Dan setiap pribadi bertanggung jawab untuk mematuhi semua petunjuk Kesaksian atau Kesaksian Jesus maupun ROH NUBUATAN yang berada dalam jangkauannya.

           

            “Tuhan Allah tidak akan mempersalahkan seseorang di Pengadilan  karena mereka  dengan jujur mempercayai sesuatu kebohongan, atau secara sadar menganut kekeliruan; melainkan  karena mereka  melalaikan  berbagai kesempatan  yang dapat membuat diri mereka berkenalan dengan kebenaran. Orang kapir akan  dipersalahkan b u k a n karena ia adalah seseorang yang tidak percaya, melainkan  karena ia t i d a k memanfaatkan berbagai sarana yang sudah Allah letakkan dalam jangkauannya untuk memungkinkan dia menjadi seorang Kristen.” --- Testimonies to Ministers, p. 437.

 

            Rasul Paulus adalah seseorang rasul yang sangat unik pengalaman hidupnya. Ia dikenal sebagai rasul yang bekerja khusus bagi penyelamatan  bangsa-bangsa  yang bukan Jahudi.  Namun  semua yang diajarkannya di waktu  itu baharu terbatas sampai dengan Injil Wasiat Baru saja, sebab berbagai nubuatan dari Wasiat Lama dan buku Wahyu, serta berbagai perumpamaan Jesus di dalam Wasiat Baru belum selengkapnya terungkap  di masa  hidupnya. Oleh sebab itu, maka sekiranya rasul yang sangat rendah hati itu masih diperpanjangkan usianya untuk hidup sampai kepada hari ini,  maka  ia tak dapat tiada  hanya dapat ditemukan di dalam GEREJA dari Sidang Jemaat Laodikea  saja, karena hanya di dalam Sidang Jemaat yang terakhir inilah akan ditemukan  Sepuluh Perintah dari Hukum Torat berikut kelengkapan peraturan-peraturan pelaksanaannya di dalam ROH NUBUATAN.

 

            Demikian pula halnya dengan DR. Martin Luther  yang terkenal  dengan pokok doktrin Alkitabnya yang berjudul “Orang Benar Hidup Oleh I m a n.”   Sekalipun ia sudah dapat dikategorikan sebagai salah seorang n a b i dalam sejarah Wasiat Baru sesuai kriteria yang diberikan oleh rasul Paulus di dalam Injil Epesus 4 : 11 - 14,  namun  ia sama sekali  belum  menghayati  Perintah yang ke empat dari Hukum Torat perihal kewajiban menyucikan Hari Sabat  pada  setiap hari yang ketujuh setiap minggu. Dia juga belum sampai kepada pengetahuan perihal baptisan yang harus diselenggarakan bagi orang dewasa  dengan cara diselamkan di dalam air. Bahkan belum ada satupun nubuatan Alkitab yang terungkap di masa hidupnya.  Namun  tak dapat disangkal, bahwa tanpa kehadirannya di bumi  ini  dalam sejarah yang lalu, maka tidak seorangpun dari kita semua dapat mengakui dirinya Kristen. Oleh sebab itu, sekiranya   Luther yang sangat rendah hati itu masih dapat diperpanjang usianya untuk hidup sampai kepada hari ini, maka sebagai warga Kerajaan kita semua sudah akan berada di dalam Gereja dari Sidang Jemaat Laodikea yang sama.     

 

Tanggung Jawab Hukum

[Jahya 15 : 22]

           

Hamba Tuhan menuliskannya di dalam ROH NUBUATAN sebagai berikut :

           

            “Mereka yang memiliki kesempatan untuk mendengar kebenaran, tetapi tidak mau berusaha untuk mendengarkannya atau memahaminya, mengira  bahwa jika mereka tidak mendengar, mereka tidak akan memikul tanggung jawab, mereka justru akan diputuskan bersalah  di  hadapan  Allah  s a m a  s e p e r t i  sekiranya  mereka sudah  mendengar  dan m e n o l a k.  T i d a k  akan   a d a  m a a f  bagi mereka itu yang memilih berjalan dalam kesalahan apabila mereka dapat mengerti a p a artinya kebenaran itu. Dalam penderitaan dan kematian-Nya Jesus telah menebus s e m u a dosa karena ketidak tahuan, namun tidak akan ada penebusan disediakan bagi kebutaan yang disengaja............

           

            “Kita tidak akan dituntut bertanggung jawab untuk terang yang belum sampai ke pengertian kita, terkecuali untuk terang yang sudah kita hindari dan menolak. Seseorang tidak dapat memahami kebenaran yang belum pernah disampaikan kepadanya, maka sebab itu ia tidak mungkin dapat dipersalahkan  karena terang yang belum pernah dimilikinya. Tetapi sekiranya ia memiliki kesempatan untuk mendengar pekabaran itu, dan untuk mengenal kebenaran itu, tetapi menolak untuk memanfaatkan kesempatannya, maka ia akan terdapat di antara orang-orang yang oleh Kristus dikatakan: “Kamu tidak mau datang kepada-Ku, agar dapat kamu memperoleh h i d u p.” Mereka yang dengan sengaja menempatkan dirinya dimana mereka tidak akan berkesempatan untuk mendengar kebenaran, mereka akan diperhitungkan masuk golongan orang-orang yang s u d a h mendengar  kebenaran, tetapi dengan gigih menentang  semua kenyataannya.”-- Ellen G. White,  SDA Bible Commentary, vol. 7 - A, p. 265.

 

            “Saudara-Saudariku, perhatikanlah dan pelajarilah s e m u a   k e b e n a r a n  yang telah dikaruniakan Allah bagimu dan bagi anak-anakmu. Janganlah menghabiskan waktumu untuk berusaha mengetahui  a p a  s a j a  yang tidak akan membantu secara rohani. ‘Apakah yang harus saya perbuat untuk mewarisi hidup yang kekal?’ Inilah pertanyaan  yang  maha  penting, dan  iaitu  sudah  dijawab  dengan jelas. 'Apakah yang tertulis   d i  d a l a m   H u - k u m?   B a g a i m a n a k a h   e n g k a u   m e m b a c a n y a ?’ “ --- E. G. White, SDA Bible  Commentary, vol. 7 - A, p. 422.

 

            “B e r b a h a g i a l a h   d i a   yang   m e m b a c a   dan  m e r e k a   yang  m e n d e - n g a r  semua perkataan dari nubuatan ini, lalu mematuhi  perkara-perkara itu yang tertulis di dalamnya: karena masa itu sudah singkat.”  -- Wahyu  1  :  3.           

      

       Kita harus menyelidiki (membaca) s e n d i r i kebenaran itu. Tidak seorangpun boleh diharapkan untuk berpikir bagi kita. Siapapun juga orangnya,  atau apapun juga jabatan yang didudukinya, kita tidak boleh  memandang  pada seseorang untuk menjadi teladan bagi kita. Kita harus saling mendengar dan saling tunduk satu kepada yang lainnya, tetapi pada saat yang sama kita harus menggunakan kemampuan yang telah dikaruniakan Allah kepada kita untuk mencari tahu a p a kebenaran itu.” – E. G. White, Testimonies to Ministers, pp. 109, 110.

 

Tanggung Jawab Timbal Balik

 

            “H u k u m  mengenai  ketergantungan  dan pengaruh  yang saling timbal balik harus diakui dan dipatuhi. Tidak seorangpun dari kita hidup bagi dirinya sendiri.”  --- E. G. White, Testimonies for the Church, vol. 6, p. 242.

 

            “Apabila firman-Ku kepada orang jahat itu, ‘engkau akan mati,’ dan tiada engkau menasehatkan  dia ataupun mengamarkan  dia  daripada  jalannya  yang  jahat itu, untuk menyelamatkan  jiwanya, sehingga  orang jahat itu mati dalam kejahatannya, maka d a r a h  n y a akan Kutuntut daripadamu.” --- Jehezkiel  3 : 18.

 

            Banyak orang Kristen pada waktu ini berlomba-lomba untuk mempromosikan “kasih” nya kepada orang lain. Kebanyakan mereka itu menawarkan k a s i h nya hanya berupa barang dan j a s a, dan sedikit saja dari mereka yang mencoba menawarkannya berupa kebenaran Alkitab yang menyelamatkan itu. Karena tidak sepenuhnya menguasai faham dari kebenaran Alkitabnya sendiri, maka apabila kepada mereka itu ditawarkan sesuatu faham baru yang lebih unggul (ROH NUBUATAN), maka mereka akan selalu  cenderung untuk menolaknya, tanpa terlebih dulu membuktikan kepalsuan faham itu kepada orang yang  menawarkannya.  Demikian itulah yang dikatakan oleh hamba Tuhan, Nyonya E. G. White berikut ini :

 

           Berbagai periode yang berbeda dalam sejarah GEREJA telah ditandai oleh berkembangnya sesuatu kebenaran khusus, yang disesuaikan bagi berbagai kebutuhan umat Allah pada masa itu. Setiap kebenaran baru telah menempuh jalannya sendiri melawan k e b e n c i a n dan t a n t a n g a n;  mereka yang diberkahi dengan terangnya telah diuji dan dicobai.” -- The Great Controversy, p. 609.

           

            Kebanyakan orang Kristen di waktu ini tidak lagi mengerti a p a artinya  kebenaran Alkitab yang menyelamatkan itu. Mereka meyakini kebenarannya  bukan karena  iaitu benar dan  sudah tahan uji, melainkan  hanya karena mereka sudah bernaung di bawah nama besar dari Organisasi GEREJA nya, serta oleh berbagai mujizat yang tampak sebagai hasil dari d o a - d o a dari para pendetanya. Padahal tanggung jawab timbal balik itupun adalah kewajiban hukum, yang kelak harus dipertanggung jawabkan di dalam Sidang Pengadilan sorga. Ini berarti, setelah artikel ini berhasil dibaca dan dimengerti, maka  kita semua berkewajiban untuk mematuhi semua kebenaran yang tertuang di dalamnya, atau sebaliknya kita sudah harus bertanggung jawab untuk menyelamatkan penulisnya dengan kebenaran  yang lebih unggul, sekiranya memang ia  telah  keliru dan sesat. Tanggung jawab timbal balik ini dikenal juga dengan sebutan tanggung jawab darah artinya, kita semua bertanggung jawab untuk saling menyelamatkan. Saya harus menyelamatkan anda dengan kelengkapan kebenaran yang saya miliki, atau sebaliknya saya harus diselamatkan oleh  anda  apabila  kebenaran yang anda miliki jauh lebih unggul dan tahan uji. Tidak seorangpun dari kita hidup untuk dirinya sendiri.  Dan tidak seorangpun umat Allah dapat diselamatkan ke sorga tanpa mempertanggung jawabkan berbagai kelalaiannya karena tidak memberitahukan kepada para sesamanya  berbagai kekeliruan dan pelanggaran mereka.                                                        

 

K e s i m p u l a n

 

            Sidang Pengadilan yang sedang berlangsung di atas adalah dalam rangka penyucian Gereja kita, yaitu kerajaan sorga yang kini terdiri dari kelas lima anak dara yang bijaksana di satu pihak, dan kelas lima anak dara yang bodoh di lain pihak. Apabila tiba saatnya bagi kita yang masih hidup ini untuk diadili, maka semua anak dara yang bodoh akan selengkapnya dibinasakan dan disingkirkan. Akhirnya akan muncul sebuah kerajaan sorga yang baru, yang  terdiri dari hanya 144.000 anak-anak dara yang bijaksana saja. “Inilah mereka itu yang tidak tercemar dirinya dengan wanita-wanita, karena mereka adalah anak-anak dara……Dan di dalam mulut mereka tidak didapati tipu karena mereka adalah tidak bercacad cela di hadapan tahta Allah.” – Wahyu 14 : 4, 5.

 

Bersambung Ke : Bagian II

Pemecahan Tujuh Buah Meterai

 

 

*  *  *  *