Satu-Satunya Cara
Membudayakan
Kasih Allah
dengan Benar



“Barangsiapa yang tidak mengasihi
tidak akan mengenal Allah, karena Allah ialah k a s i h.”
--- 1 Jahya 4 : 8 ---




Pendahuluan

Setiap umat beragama yang pernah menyebut nama Allah sebagai Khalik Penciptanya, tak dapat tiada telah melandaskan agamanya pada ajaran agama yang pertama sekali telah dibukukan di bumi ini oleh nabi Musa. Nabi Musa dikenal di bumi ini sebagai penulis buku Alkitab yang pertama sekali, yang terdiri dari lima buah bukunya yang terkenal, yaitu : KEJADIAN, KELUARAN, IMMAMAT, BILANGAN, dan ULANGAN.

Karena bukan hanya nabi Musa yang ditugaskan Allah untuk mempersiapkan dan membukukan Alkitab-Nya itu bagi seluruh umat Allah pada sepanjang sejarah bumi ini, maka kita tak dapat tiada akan menemukan lagi penulis-penulis lainnya, yang pada akhirnya sampailah kita pada penulis rasul Paulus dengan buku-bukunya dan rasul Jahya penulis buku Wahyu yang sangat misterius itu. Buku Wahyu adalah yang terakhir ditulis dalam tahun 96 Tarikh Masehi yang lalu.

Salah satu ucapan nabi Musa yang paling mendasar untuk selalu diingat oleh semua umat Allah di bumi ini adalah sebagai berikut :

“Perkara-perkara yang rahasia itu adalah bagi Tuhan Allah kita : tetapi perkara-perkara itu yang diungkapkan adalah bagi kita dan bagi anak cucu kita sampai selama-lamanya, s u p a y a dapat kita melakukan semua perkataan dari h u k u m  torat ini.”Ulangan 29 : 29.

Perkara-perkara yang rahasia itu adalah bagi Tuhan Allah saja, artinya, sekaliannya itu t i d a k diperuntukkan bagi kita. Dan kalaupun ada iaitu tersedia di dalam Alkitab, maka iaitu pasti tidak akan diungkapkan pengertiannya bagi kita. Contohnya adalah perihal tujuh guntur dari Wahyu 10 : 4.

Tetapi perkara-perkara itu yang diungkapkan di dalam Alkitab sampai dengan buku Wahyu yang sangat misterius itu, sekaliannya itu adalah bagi milik umat Allah sampai ke akhir dunia ini, s u p a y a semuanya itu dianut dan dipatuhi dalam rangka mematuhi seluruh Sepuluh Perintah dari Hukum Torat itu.

Jadi, dapatlah dimengerti bahwa Alkitab yang kini sudah dikenal di seluruh muka bumi ini sebagai satu-satunya BUKU AGAMA yang tertua, iaitu tak dapat tiada akan dikenal juga sebagai satu-satunya H U K U M   A L L A H yang terdiri dari UNDANG-UNDANG DASAR TORAT di satu pihak dan Undang-Undang Biasa, yang berisikan berbagai Peraturan Pelaksanaan dari Hukum Torat itu di lain pihak.

Satu lagi ucapan rasul Paulus yang paling banyak dilalaikan orang di akhir dunia sekarang ini adalah sebagai berikut :
 
“Maka ia memberikan sebagian orang rasul-rasul, dan sebagian orang nabi – nabi, dan sebagian orang penginjil-penginjil, dan sebagian orang gembala-gembala dan guru-guru ; untuk melengkapi umat kesucian bagi tugas melayani, untuk membangun tubuh Kristus (to edify the body of Christ  =  membangun moral umat Kristen), sampai kita semua masuk dalam kesatuan iman, dan pengetahuan akan Anak Allah, menjadi manusia yang sempurna sesuai ukuran kedewasaan Kristus. Supaya kita sejak sekarang dan seterusnya tidak lagi seperti anak-anak yang diombang-ambingkan dan disesatkan dengan setiap angin doktrin, oleh tipu muslihat orang-orang berikut kelincahan  mereka yang licik, oleh mana mereka akan menjerat dan menyesatkan.” Epesus 4 : 11 – 14.

Sekalipun rasul-rasul sudah semuanya meninggal dunia dalam abad yang pertama, kita seharusnya meyakini, bahwa umat Tuhan masih terus berada di bawah bimbingan nabi-nabi pilihan Allah sampai di akhir zaman ini. Sidang Jemaat Laodikea semenjak dari permulaannya dalam tahun 1844 yang lalu ternyata telah dikendalikan oleh Tuhan Allah sendiri melalui hamba-hambaNya para nabi, yaitu : Nyonya Ellen G. White dan Sdr. Victor T. Houteff. Untuk itulah, maka perihal nabi Musa dan penulisan buku-buku yang membentuk Alkitab itu, hamba Tuhan Nyonya White telah mengatakan sebagai berikut :

“Selama dua ribu lima ratus tahun pertama dari sejarah manusia, belum ada satupun wahyu yang tertulis. Orang-orang yang telah diajari langsung oleh Allah, telah  mengkomunikasikan pengetahuan mereka kepada orang-orang lainnya, maka iaitu telah disampaikan dari bapa turun kepada anak, sepanjang generasi-generasi berikutnya. Pekerjaan mempersiapkan firman tertulis itu dimulai di zaman Musa. Wahyu-wahyu yang diilhami itu kemudian telah dipersatukan di dalam sebuah buku ilham. Pekerjaan ini terus berlangsung selama masa periode yang panjang, seribu enam ratus tahun, --- semenjak dari Musa, ahli hukum dan ahli sejarah kejadian dunia itu, sampai kepada Yahya, pencatat kebenaran-kebenaran Injil yang sangat mulia itu.” The Great Controversy, p. 7.

Ajaran-ajaran agama yang telah diajarkan kepada Adam dan Hawa sebagai manusia-manusia pertama yang telah diciptakan mendiami planet bumi ini, sampai kepada yang diajarkan kepada umat Israel di Mesir di zaman nabi Musa, sekaliannya itu juga yang telah dibukukan oleh nabi Musa di bawah kendali Ilham dari Tuhan Allah sendiri, sesudah 2.500 tahun kemudian, setelah planet bumi ini didiami oleh Adam dan Hawa sebagai penghuninya yang pertama. Jadi, sesuai dengan ucapan nabi Musa di atas bahwa,
 
“Perkara-perkara yang rahasia itu adalah bagi Tuhan Allah kita : tetapi perkara-perkara itu yang diungkapkan adalah bagi kita dan bagi anak cucu kita sampai selama-lamanya, s u p a y a dapat kita melakukan semua perkataan dari hukum torat ini.”Ulangan 29 : 29.

Akan kelak terbukti, bahwa ajaran-ajaran agama yang telah diajarkan oleh Tuhan Allah semenjak dari mula pertama adanya manusia di bumi ini akan terdiri dari hanya : (1) SEMUA PERKATAAN DARI HUKUM TORAT di satu pihak, dan (2) PERKARA-PERKARA ITU YANG DIUNGKAPKAN SAMPAI DI AKHIR DUNIA INI, di lain pihak.

Semua perkataan dari Hukum Torat itu berisikan SEPULUH PERINTAH dari UNDANG-UNDANG DASAR KERAJAAN ALLAH di sorga. Dan PERKARA-PERKARA YANG DIUNGKAPKAN ITU ialah UNDANG-UNDANG BIASA yang berisikan semua peraturan pelaksanaan dari UNDANG-UNDANG DASAR itu.

Bagaimana Jesus
mengajarkan Kasih-Nya melalui Sepuluh Perintah dari UNDANG-UNDANG DASAR KERAJAAN-NYA

Dari Alkitab kita baca sebagai berikut :

“Kemudian salah seorang dari mereka itu, seorang ahli hukum, menanyakan kepadaNya, sambil mencobai Dia : “Guru, hukum manakah yang utama di dalam hukum Torat itu ?”

“Jawab Jesus kepadanya : “Kamu harus mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap pikiranmu. Inilah perintah yang pertama dan terutama. Dan perintah yang kedua yang sama dengan itu, Kamu harus mengasihi sesamamu seperti akan dirimu sendiri. Pada kedua perintah ini bergantung semua hukum dan nabi-nabi.”
Matius 22 :  35 – 40.

Ucapan Jesus itu dalam gambar bagan akan terlihat sebagaimana di bawah ini :

 
 
“Pada kedua perintah itu bergantung semua hukum dan nabi-nabi.”Matius 22 :  40.  Artinya, pada kedua Perintah yang utama itu bergantung Hukum Torat, yang terdiri dari empat perintah yang pertama yang berisikan petunjuk-petunjuk hukum mengenai bagaimana seharusnya manusia mengasihi Tuhan Allah dengan sepenuh hati, dan dengan sepenuh jiwa, dan dengan sepenuh pikirannya, dan enam perintah yang kedua yang berisikan petunjuk-petunjuk hukum mengenai bagaimana manusia seharusnya mengasihi sesamanya seperti akan dirinya sendiri. Dan nabi-nabi, ialah tulisan dari para nabi Wasiat Lama di dalam Alkitab Wasiat Lama yang berisikan berbagai peraturan pelaksanaan dari Hukum Torat.  

PERHATIAN ! Ucapan Jesus pada Injil Matius 22 : 35 - 40 itu dikeluarkan sewaktu Injil Wasiat Baru belum ditulis, dan belum tersedia di waktu itu.

Hamba Tuhan nabi Nyonya E. G. White mengatakan :

“Dalam ilmu pengetahuan yang benar tidak akan terdapat sesuatu pertentangan apapun dengan ajaran dari firman Allah, karena keduanya itu berasal dari Sumber Penulis yang sama. Suatu pemahaman yang benar terhadap keduanya akan selalu membuktikan keduanya berada dalam kecocokan. Kebenaran, apakah itu di dalam alam ataupun di dalam wahyu, akan cocok dengan sendirinya dalam semua manifestasinya. Tetapi pikiran yang tidak diterangi oleh Roh Allah akan senantiasa berada dalam gelap terhadap kuasa-Nya. Inilah sebabnya, maka berbagai pendapat manusia yang berkenan terhadap ilmu pengetahuan seringkali bertentangan dengan ajaran dari firman Allah.” 8 Testimonies, p. 258.

Jadi, sesuai pengetahuan hukum yang dikenal di bumi ini, maka H U K U M yang dimaksud oleh ucapan Jesus pada Injil Matius 22 : 40 di atas tak dapat tiada dimaksudkanNya kepada UNDANG-UNDANG DASAR dari Kerajaan Allah saja. Dan itulah yang dimaksudkanNya kepada Sepuluh Perintah dari Hukum Torat itu saja.

Karena Undang-Undang Dasar dari sesuatu Negara pada dasarnya mencerminkan sifat tabiat, kehendak, dan cita-cita dari bangsa Negara yang bersangkutan, maka tepatlah apabila perihal Undang-Undang Dasar dari Kerajaan Sorga hamba Tuhan  nabi Nyonya E. G. White mengatakan :

“Hukum Allah itu adalah s a m a sucinya dengan AllahNya sendiri. Iaitu merupakan ungkapan dari kehendak-Nya, suatu salinan dari tabiat-Nya, ekspresi dari k a s i h dan kebijakan Ilahi-Nya.”Patriarchs and Prophets, p. 52.

 

“Barangsiapa yang tidak mengasihi
tidak akan mengenal Allah karena Allah
ialah k a s i h.” (1 Yahya 4 : 8)

Semua orang Indonesia tahu betul, bahwa PANCASILA merupakan satu-satunya sumber hukum dari UNDANG-UNDANG DASAR 1945 Republik Indonesia. Olehnya itu pula, maka semua umat beragama seharusnya tahu  dan memahami betul, bahwa K A S I H  A L L A H itulah satu-satunya sumber hukum dari Undang-Undang Dasar Kerajaan Sorga yang dikenal di bumi ini.

Jadi apabila semenjak dari dulu Jesus telah berbicara oleh perantaraan rasul Yahya yang mengatakan : “Barangsiapa yang tidak mengasihi tidak akan mengenal Allah, karena Allah ialah k a s i h.“  – 1 Jahya 4 : 8., maka hendaklah mulai sekarang ini juga kita memperbaharui janji kita kepada Allah untuk mau mengasihi : Mengasihi Tuhan Allah dengan sepenuh hati, dengan sepenuh jiwa, dan dengan sepenuh pikiran ; dan mengasihi sesama kita seperti akan diri kita sendiri.
 
Ini berarti, kita hendaknya mulai sekarang juga kembali kepada Allah dengan cara mematuhi seluruh SEPULUH PERINTAH dari UNDANG-UNDANG DASAR KERAJAANNYA dengan cara mematuhi seluruh Peraturan Pelaksanaan dari UNDANG-UNDANG DASAR itu di dalam Alkitab (Alkitab dari Wasiat Lama dan Wasiat Baru).

Karena Tuhan Allah itu kekal keberadaan-Nya, dan tidak pernah berubah sifat-Nya, maka sifat “K A S I H” Nya itupun tidak akan pernah berubah sepanjang segala zaman. Untuk itulah, maka perlu sekali untuk diingat bahwa UNDANG-UNDANG DASAR KERAJAAN SORGA itupun adalah kekal sifatnya dan tidak pernah berubah pada segala masa.

Tetapi tidaklah demikian halnya dengan UNDANG-UNDANG BIASA yang berisikan berbagai peraturan pelaksanaan dari UNDANG-UNDANG DASAR. Jika sewaktu Jesus masih di Palestina dahulu, Alkitab yang berisikan berbagai peraturan pelaksanaan dari UNDANG-UNDANG DASAR itu masih terbatas pada hanya tulisan nabi-nabi di dalam Injil dari Wasiat Lama, maka di akhir zaman sekarang ini Injil Wasiat Lama itu sudah lebih dilengkapi lagi dengan Injil dari Wasiat Baru yang terakhir dibukukan dalam tahun 96 yang lalu, dan juga ROH NUBUATAN yang terakhir dibukukan bagi kita oleh nabi-nabi akhir zaman : Nyonya E. G. White dan Sdr. Victor T. Houteff  semenjak dari tahun 1844 sampai dengan tahun 1955 yang lalu.

Dengan demikian, maka kita sebagai umat akhir zaman tidak lagi cukup bagi kita untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia kita berdasarkan pada h a- n y a  HUKUM  dan n a b i – n a b i  yang tersedia di zaman Jesus dahulu. Kita harus mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita berdasarkan HUKUM dan Alkitab yang sudah seluruhnya diinterpretasikan ke dalam ROH NUBUATAN. Dan ROH NUBUATAN itulah yang dilambangkan oleh “Mangkok Emas” di dalam nubuatan Zakharia pasal 4. Untuk itulah, maka hamba Tuhan Nyonya White mengatakan, “Bacalah dan pelajarilah pasal yang ke - 4 dari Zakharia !”Testimonies to Ministers, p. 188. Gambar bagan dari nubuatan Zakharia pasal 4 itu akan tampak sebagai berikut :

 
 
Kedua pohon zait yang berdiri pada kedua sisi dari kaki pelita itu melambangkan Alkitab Wasiat Lama dan Baru. Dari kedua pohon zait itu telah mengalir keluar minyak emas melalui pipa-pipa ke dalam mangkok emas yang berada di atas kaki pelita. Kaki pelita itu melambangkan sidang jemaat atau Gereja Tuhan Allah di akhir zaman ini. Jadi kedua pipa yang besar itu melambangkan para nabi akhir zaman yang bertugas menginterpretasikan Alkitab ke dalam ROH NUBUATAN yang dilambangkan oleh mangkok emas itu. Sementara tujuh pipa-pipa kecil yang mengalirkan minyak keemasan dari mangkok ke kaki pelita di bawahnya itu akan melambangkan guru-guru pilihan Ilahi yang disebut oleh rasul Paulus di dalam Epesus 4 : 11 – 14.    

 

J E S U S   :
“Jika kamu mengasihi Aku, patuhilah perintah-perintah-Ku.” (Jahya 14 : 15)
 

 
Umat Kristen di bumi ini tahu betul dan benar-benar memahami bagaimana Tuhan Allah Bapa dan Allah Anak sebagai Raja dan Pencipta seluruh alam semesta berikut langit dan bumi ini telah merelakan Allah Anak Jesus turun ke bumi ini untuk menderita sampai mati, hanya untuk m e n e b u s kembali manusia-manusia ciptaan mereka yang terkena hukuman mati yang kekal karena telah berdosa melanggar Hukum. Dosa karena pelanggaran H u k u m itu telah dimulai semenjak dari Adam dan Hawa sendiri. Tahukah anda bagaimanakah mereka itu melanggar H u k u m  Dasar Kerajaan Allah itu ?

Sejak dari mulanya Tuhan Allah sendiri telah berkomunikasi langsung dengan Adam dan Hawa. Tuhan Allah sendiri yang telah menyampaikan Sepuluh Perintah Torat dari Undang-Undang Dasar Kerajaan-Nya kepada mereka berdua. Dan salah satu peraturan pelaksanaan atau petunjuk pelaksanaan dari Undang-Undang Dasar-Nya itu adalah, agar buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat yang ada di tengah-tengah kebun Eden itu supaya tidak dimakan, sebab pada hari mereka memakannya mereka akan mati untuk selama-lamanya.

Kemudian daripada itu Iblis atau Setan telah datang menemui mereka. Iblis dengan berbagai bujuk rayunya telah memperdaya Adam dan Hawa agar buah pengetahuan baik dan jahat itu dimakan saja, agar supaya pengetahuan mereka akan kelak sama dengan Tuhan Allah. Terdorong oleh cantiknya buah dari pohon yang terlarang itu, serta keinginan tahu yang begitu besar untuk memiliki pengetahuan yang terkandung di dalamnya, maka pada akhirnya mereka telah memakannya. Akibat yang pertama sekali dialaminya, mereka telah kehilangan pakaian kesuciannya yang begitu mulia, lalu didapati dalam keadaan telanjang tanpa busana. Dan kini mereka tahu betul bahwa sebentar lagi mereka akan mati. Tahukah anda perintah-perintah mana saja yang telah mereka langgar ? 

Karena lebih percaya pada suara Iblis daripada suara Allahnya sendiri, maka mereka telah berdosa terhadap Perintah Ke - I dari UNDANG-UNDANG DASAR KERAJAAN yang berbunyi : “JANGAN ADA PADAMU ILAH-ILAH YANG LAIN DI HADAPAN-KU.” – Keluaran 20 : 3.

Dan kemudian karena mereka sudah akan mati pada hari itu juga, maka terbukti mereka telah makan buah pohon yang beracun. Mereka ternyata dengan sengaja telah merencanakan untuk bunuh diri. Untuk itulah mereka telah terlibat dalam dosa karena melanggar Perintah Ke - VI, yang berbunyi: ”JANGAN KAMU MEMBUNUH.” – Keluaran 20 : 13.

Pelanggaran mereka itu tampaknya hanya suatu kekeliruan yang fatal. Tetapi mengapakah Tuhan Allah yang maha pengasih dan pengampun tidak langsung saja memaafkannya ? Sama halnya apabila kita juga bertanya : Penggantian Perintah Ke - IV (Keluaran 20 : 8 – 11) yang mewajibkan manusia menyucikan Sabat, Hari yang ketujuh di dalam Minggu, dengan Hari Minggu, hari yang pertama, oleh penguasa Romawi  yang lalu, yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya sampai kepada hari ini; mengapakah tidak dimaafkan saja oleh Tuhan demi keselamatan begitu banyak penganut Hari Minggu di bumi ini, dengan cara mengamandemenkan saja Perintah Ke - IV itu di dalam Undang-Undang Dasarnya ?

Tuhan Allah segala langit itu sesungguhnya tidak mau membiarkan kita bodoh terhadap hal itu, maka melalui berbagai ilmu pengetahuan, serta melalui hamba-Nya sendiri, maka kepada kita telah diberitahukan sebagai berikut :  

“Hukum Allah itu adalah s a m a sucinya dengan AllahNya sendiri. Iaitu merupakan ungkapan dari kehendak-Nya, suatu salinan dari tabiat-Nya, ekspresi dari k a s i h dan kebijakan Ilahi-Nya.”Patriarchs and Prophets, p. 52.

“Kalau saja hukum dapat dirubah, maka manusia dapat saja diselamatkan tanpa pengorbanan dari Kristus; namun dari kenyataan bahwa adalah perlu bagi Kristus untuk melepaskan nyawa-Nya bagi bangsa manusia yang jatuh, membuktikan bahwa hukum Allah tidak dapat membebaskan manusia yang berdosa daripada berbagai tuntutan hukum atas dirinya. Telah diperlihatkan bahwa upah dosa itu adalah maut. Pada waktu Kristus mati, kebinasaan Setan lalu dibuat pasti. Tetapi sekiranya hukum itu dihapus pada kayu salib, sebagaimana yang dikatakan banyak orang, maka penderitaan dan kematian dari Putera kesayangan Allah itu dialami hanya untuk memberikan kepada Setan justru apa yang dikehendakinya; lalu penghulu kejahatan itu berhasil menang, berbagai tuduhannya melawan pemerintahan Ilahi lalu dikuatkan. Kenyataan yang kuat bahwa Kristus telah memikul hukuman karena pelanggaran manusia, adalah suatu argumentasi yang sangat kuat bagi semua mahluk ciptaan yang berakal, bahwa hukum adalah tidak berubah, bahwa Allah adalah benar dan adil, penuh rahmat, dan mau berkorban; dan bahwa keadilan dan rahmat yang tak terhingga bergabung dalam penyelenggaraan pemerintahan-Nya.” - Patriarchs and Prophets, p. 70.

Hukum Allah itu ternyata adalah sama sucinya dan sama kekalnya dengan Tuhan Allahnya sendiri, baik Allah Bapa maupun Allah AnakNya Jesus. Oleh sebab itu, maka jika kita benar-benar jujur mau mengasihi Jesus, maka beragamalah yang benar. Dan beragama yang benar itu ialah mematuhi H U K U M N Y A. Untuk itulah Jesus sendiri menjawabnya sebagai berikut : 

“Jawab Jesus …… : “Kamu harus mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap pikiranmu. Inilah perintah yang pertama dan terutama. Dan perintah yang kedua yang sama dengan itu, Kamu harus mengasihi sesamamu seperti akan dirimu sendiri. Pada kedua perintah ini bergantung semua hukum dan nabi-nabi.”Matius 22 :  35 – 40.

Hukum-Nya itulah yang sudah berkembang sampai di akhir zaman ini sebagai berikut :
                                                        

 
 
     

Hanya ada satu “K A S I H” yang dikenal di seluruh alam semesta ciptaan Allah, yaitu Kasih yang berasal dari tabiat Tuhan Allah sendiri. KASIH ALLAH itu sudah dituangkan ke dalam H U K U M N Y A, yang kemudian telah dijabarkan ke dalam dua Perintah yang Utama. Perintah Utama yang pertama berisikan empat perintah, yang mewajibkan manusia mengasihi Tuhan Allahnya dengan segenap hati, dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap pikirannya. Dan Perintah Utama yang kedua mewajibkan manusia mengasihi sesamanya seperti akan dirinya sendiri.

Dalam ilmu pengetahuan, “H u k u m  P u b l i k“ dikenal sebagai peraturan-peraturan hukum yang mengatur hubungan di antara masyarakat di satu pihak dan penguasa Pemerintah di lain pihak. Dan “H u k u m  P e r d a t a” dikenal sebagai peraturan-peraturan hukum yang mengatur hubungan di antara anggota masyarakat yang satu dengan anggota masyarakat lainnya. Demikian itulah, maka Perintah Utama yang pertama dengan keempat perintahnya itu menunjukkan kepada kita bagaimana manusia dapat mengasihi Tuhan Allahnya, dan Perintah Utama yang kedua dengan enam perintahnya itu menunjukkan bagaimana manusia dapat mengasihi sesamanya dengan benar. 

Sadar ataupun tidak sadar orang harus mengakui, bahwa karena Tuhan Allah dan Jesus sudah membudayakan Hukum Kasih-Nya itu di bumi ini semenjak dari mula pertama, adanya manusia di bumi ini, maka tidaklah mengherankan apabila Perintah Utama yang kedua untuk mengasihi sesama manusia seperti akan diri sendiri itulah, yang paling mudah dikenal dan dipahami, untuk diandalkan oleh semua agama di akhir zaman ini sebagai satu-satunya landasan dari Agama Yang Benar. 

Sementara itu Perintah Utama yang pertama, yang mewajibkan orang untuk lebih dulu mengasihi Tuhan Allahnya dengan segenap hatinya, dan dengan segenap jiwanya, dan dengan segenap pikirannya, tidak banyak lagi dihiraukan.  Sebab di samping masih banyak sekali nubuatan dari para nabi Wasiat Lama, buku Wahyu yang sangat misterius itu, dan berbagai perumpamaan Jesus di dalam Wasiat Baru, yang belum pernah berhasil digali pengertiannya di dalam semua Gereja Kristen yang ada, Gereja Kristen sendiri kini sudah pecah ke dalam begitu banyak sekte dan paham yang tak mungkin lagi dapat dipersatukan. Sementara itu alasan utamanya adalah, karena Dunia Kristen di akhir zaman ini sudah tidak lagi kenal akan nabi-nabi dan guru-guru pilihan Allah mereka, yang disebut oleh rasul Paulus di dalam Injil Epesus 4 : 11 – 14 di atas.  Keadaan inilah yang sejak jauh-jauh hari sebelumnya telah diramalkan kepada kita melalui nubuatan dari nabi Jesaya yang mengatakan :

“Maka pada hari itu tujuh orang perempuan akan berpegang pada seorang laki-laki, sambil mengatakan : Kami akan makan roti kami sendiri, dan mengenakan pakaian kami sendiri : hanya biarkanlah kami dipanggil dengan namamu, untuk membuang kejelekan kami.” Jesaya 4 : 1.

Karena ucapan nubuatan nabi Jesaya di atas ini baharu akan menemukan kegenapan sejarahnya di akhir zaman, menyusul terungkapnya rahasia dari buku Daniel dan buku Wahyu sesudah tahun 1844 yang lalu, maka hamba Tuhan nabi Victor T. Houteff telah menginterpretasikannya bagi kita sebagai berikut :

“Maka pada hari itu ……….. Artinya, di akhir zaman pada waktu anak-anak puteri Zion begitu sombongnya, maka tujuh orang perempuan (semua Gereja-Gereja pada waktu itu) dalam hatinya akan mengatakan kepada Kristus, orang laki-laki itu, Kami akan makan roti kami sendiri, kami akan memakai pakaian-pakaian kami sendiri, kami akan sepenuhnya bebas dari Kamu. Hanya ada satu hal yang kami butuhkan daripada-Mu : Hanya biarkanlah kami dipanggil dengan nama-Mu, KRISTEN, untuk membuang semua kejelekan kami.” Inilah bagaimana Tuhan Allah menyaksikan Sidang Jemaat-Nya terbelenggu oleh dunia.”Timely Greetings, vol. 1, No. 6, p. 33.

Dalam nubuatan Alkitab, “perempuan” digunakan untuk melambangkan Gereja, atau sidang jemaat. Angka “tujuh” melambangkan semua atau lengkap.

Di antara begitu banyak Gereja Kristen di akhir zaman ini Tuhan Allah sesungguhnya masih memiliki satu saja Gereja-Nya yang terakhir di waktu ini. Gereja itu di dalam nubuatan Wahyu telah diramalkan sebagai “Sidang Jemaat Laodikea”, yaitu Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh sejak mulanya dalam tahun 1844. Dan ciri-ciri kerohaniannya dapat diketahui dari tulisan Yahya Pewahyu berikut ini  :

“Maka naiklah amarah naga akan perempuan itu, lalu pergi memerangi mereka yang tersisa daripada benihnya, yaitu mereka yang memeliharakan Hukum-Hukum Allah dan berpegang pada Kesaksian Jesus Kristus.Wahyu 12 : 17.

“…………sembahlah Allah, karena Kesaksian Jesus itu ialah ROH NUBUATAN.”Wahyu 19 : 10 (bagian akhir).
 
CATATAN  !  Wanita = sidang jemat/gereja;  Anaknya = Jesus Christ ;
                           Benihnya = orang-orang Kristen ; Yang tersisa daripada
                           benihnya = orang-orang Kristen yang hidup di akhir zaman ini. 
                
Ciri-ciri kerohanian dari Gereja yang terakhir ini adalah pemelihara Hukum Allah sebagai Undang-Undang Dasar (Basic Law) dan pemegang Kesaksian Jesus Kristus atau ROH NUBUATAN sebagai Undang-Undang Biasa (By-laws) yang berisikan Peraturan-Peraturan Pelaksanaan dari Undang-Undang Dasar itu. Namun karena terus diserang oleh amarah naga atau Iblis yang tua itu, maka Gereja yang terakhir inipun sudah jatuh dan tidak tertolong lagi. Demikian itulah, maka ketujuh orang perempuan yang dinubuatkan pada Jesaya 4 : 1 di atas sudah akan meliputi juga Gereja Tuhan Allah yang terakhir ini. Hukum Allah sebagai Undang-Undang Dasar dan ROH NUBUATAN sebagai Undang-Undang Biasa sudah tidak lagi dikenal di dalamnya.

Satu demi satu Gereja-Gereja Kristen yang dibangun oleh nabi-nabi pilihan Allah semenjak dari zaman DR. Martin Luther dengan Gereja Protestannya yang terkenal itu sudah jatuh. Dan terakhir Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yang dibangun oleh nabi Nyonya E. G. White itupun sudah jatuh. Sekalipun demikian, janganlah mengira bahwa mereka itu sudah lenyap sama sekali dari panggung sejarah dunia. Sekali-kali tidak. Semua mereka itu masih tetap berdiri dengan megahnya, sekalipun mereka tidak lagi diakui oleh sorga dan semua penghuninya sebagai bagian dari kerajaan sorga yang ada di bumi ini. Demikian itulah genaplah ucapan Jesus yang mengatakan :

Pada waktu itu Kerajaan Sorga kelak disamakan dengan sepuluh anak dara, yang membawa pelita-pelita mereka, lalu pergi keluar untuk menyambut mempelai lelaki. Maka lima dari mereka itu adalah bijaksana, dan lima lainnya itu adalah bodoh.”Matius 25 : 1, 2.

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh adalah satu-satunya Gereja milik Allah di akhir zaman ini yang oleh Jesus pada Matius 25 : 1 dan 2 di atas telah diumpamakan dengan kerajaan sorga yang memiliki dua kelas umat di dalamnya.

Pada waktu ini ucapan nubuatan dari nabi Jesaya 4 : 1 di atas maupun perumpamaan Jesus pada Matius 25 : 1, 2 itu sedang menemui kegenapan sejarahnya di depan kita. Gereja Tuhan yang terakhir kini sudah jatuh dan sedang dikuasai sepenuhnya oleh mereka anak-anak dara yang bodoh itu. Sementara lima anak-anak dara yang bijaksana itupun masih harus berjuang keras, karena masih juga terdapat di tengah-tengahnya anak-anak dara bijaksana yang memiliki tipu di dalam mulutnya. Perihal anak-anak dara bijaksana yang memiliki tipu di mulutnya itu rasul Yahya Pewakyu menuliskannya sebagai berikut : 

“Dan aku tampak, maka heran ada seekor Anak Domba berdiri di gunung Sion, maka bersama dengan-Nya  ada 144.000 orang yang memiliki nama Bapa-Nya tertulis pada dahi-dahi mereka .…………….… Inilah mereka itu yang tidak tercemar dirinya dengan wanita-wanita karena mereka adalah anak-anak dara .………. Dan di dalam mulut mereka tidak didapati t i p u, karena mereka itu tidak bercacad cela di hadapan tahta Allah.”Wahyu 14 : 1, 4, dan 5. 

Apa yang dinubuatkan pada Wahyu 14 : 1 dan 4 itu belum pernah digenapi, tetapi akan segera digenapi sebentar lagi. Sesuai dengan nubuatan itu Jesus dalam statusNya yang masih sebagai Anak Domba atau Penebus umat manusia, jauh sebelum sidang pengadilan di dalam kaabah kesucian sorga berakhir, bahkan jauh sebelum kedatangan-Nya yang kedua kali sebagai Raja, Ia akan pertama sekali bertemu dan berdiri bersama mereka anak-anak dara yang bijaksana itu di Gunung Sion di Palestina. Itulah anak-anak dara bijaksana yang tidak tercemar dirinya dengan wanita-wanita, dan yang di dalam mulut mereka itu tidak didapati tipu.

Anak-anak dara yang bijaksana itu ternyata masih akan kembali disaring, sebab masih ada di antara mereka itu dara-dara bijaksana yang masih memiliki tipu di dalam mulutnya. Hasil dari penyaringan itu akan muncul dua kelompok umat di depan kita, yaitu mereka dari kelompok gandum murni di satu pihak, dan mereka yang masuk kelompok sekam (sampah sekam) di lain pihak. Untuk inilah hamba Tuhan Nyonya White sudah sejak jauh-jauh hari sebelumnya meramalkannya bagi kita sebagai berikut :

“Allah akan membangunkan umat-Nya; jika cara-cara lain gagal, maka berbagai faham yang saling bertentangan akan masuk di antara mereka, yang akan menyaring mereka itu, memisahkan s e k a m daripada g a n d u m. Tuhan menyerukan kepada semua yang percaya pada firmanNya supaya bangun daripada tidur mereka. T e r a n g  yang berharga s u d a h  datang, yang s e s u- a i  bagi  m a s a  i n i. Itulah kebenaran Alkitab, yang menunjukkan berbagai bahaya yang sudah ada tepat di depan kita. Terang inilah yang seharusnya membimbing kita kepada suatu penyelidikan yang tekun terhadap Firman Allah, serta suatu pemeriksaan yang sangat kritis terhadap berbagai posisi kita yang ada.” --- 5 Testimonies for the Church, pp. 707 – 708.

Terang baru dari pekabaran Tongkat Gembala sejak dari mulanya dalam tahun 1929 telah membagi umat Masehi Advent Hari Ketujuh ke dalam dua kelas. Dara-dara yang bijaksana di satu pihak dan dara-dara yang bodoh itu pada pihak yang lainnya. Juga dengan lain perkataan disebut, mereka yang masuk kategori gandum di satu pihak, dan mereka yang masuk kategori lalang di lain pihak.

Tetapi karena kemudian anak-anak dara yang bijaksana itu pun harus terpecah lagi, maka dara-dara yang tidak bercacad cela di hadapan tahta Allah akan kembali berada dalam kelompok yang satu, kelompok gandum murni, sementara dara-dara yang memiliki tipu di dalam mulutnya itu akan tersaring ke luar ke dalam kelompoknya yang lain, kelompok sekam.  “Terang inilah yang seharusnya membimbing kita kepada suatu penyelidikan yang tekun terhadap Firman Allah, serta suatu pemeriksaan yang sangat kritis terhadap berbagai posisi kita yang ada.” 5 Testimonies for the Church, p. 708.

 

“Sembahlah Allah karena
 Kesaksian Jesus itulah ROH NUBUATAN”
(Wahyu 19 : 10 bagian b)

 
 
Setiap pencari Kebenaran tak dapat tiada sudah akan mengerti sendiri, bahwa “kesaksian Jesus” itu tak dapat tiada dimaksudkan kepada semua ucapan firman dari Jesus sendiri. Sebelum Jesus lahir di Palestina, maka nama-Nya tentunya belum dikenal, maka semua ucapan firman-Nya dalam sejarah Wasiat Lama akan dikenal dengan hanya “k e s a k s i a n.” Untuk itu, maka nabi Jesaya pernah mengatakan :
 
“Akan Hukum Torat dan Kesaksian jika mereka berbicara tidak sesuai dengan perkataan ini, maka iaitu karena tidak ada terang di dalam mereka.”Jesaya 8 : 20.

Karena Undang-Undang Dasar (Hukum Torat) tidak dapat berdiri sendiri, maka iaitu tak dapat tiada harus dilengkapi dengan Undang-Undang Biasa (Kesaksian) yang berisikan berbagai peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Dasar itu. Jadi, orang baru dapat dinyatakan benar imannya, apabila penurutannya itu sesuai dengan seluruh peraturan pelaksanaan yang ada di dalam Kesaksian atau Kesaksian Jesus itu.

Sesudah Jesus lahir dan nama-Nya dikenal di Palestina, maka Rasul Yahya menuliskannya sebagai berikut :

“Pada mula pertama ada Firman, maka Firman itu ada bersama-sama dengan Allah, dan Firman itulah Allah. IA itu pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dibuat oleh-Nya ; maka tanpa Dia tidak akan ada sesuatupun yang telah jadi daripada semua yang telah dijadikan.

Firman itu telah dibuat menjadi manusia, lalu tinggal di antara kita, maka kita telah melihat kemuliaanNya …………”
-- Yahya 1 : 1, 2, 3, 14.

Karena Firman itu adalah Jesus sendiri yang selalu bersama-sama dengan Allah BapaNya semenjak dari mula pertama kejadian dunia yang lalu, maka jelaslah dimengerti, bahwa ALKITAB  yang kita miliki di waktu ini tak dapat tiada terdiri dari Allah Bapa dan Jesus sebagai Allah Anak. Jika Jesus merupakan F i r m a n dari seluruh Alkitab, maka Allah Bapa tak dapat tiada merupakan UNDANG-UNDANG DASAR TORAT yang ada di dalam Alkitab itu, khususnya di dalam buku dari nabi Musa.  

Demikianlah halnya di zaman nabi-nabi, karena nama Jesus belum dikenal di waktu itu, maka Alkitab Wasiat Lama itu telah dinamai oleh nabi Jesaya dengan, "H
ukum Torat dan Kesaksian.” Bacalah Jesaya 8 : 20.
 
Tetapi kini di akhir zaman ini setelah semua nubuatan dari nabi-nabi seluruhnya terungkap pengertiannya di dalam ROH NUBUATAN, maka nama Jesus itu bukan lagi terbatas pada hanya “Kesaksian” yang melambangkan Firman dari Alkitab Wasiat Lama, bukan juga terbatas pada “Kesaksian Jesus” yang melambangkan Firman dari seluruh Alkitab yang terdiri dari Wasiat Lama dan Wasiat Baru, melainkan sudah meningkat menjadi ROH NUBUATAN, yang berisikan Firman dari seluruh peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Dasar Torat yang berlaku bagi seluruh penduduk bumi  di akhir dunia sekarang ini.
 
Dari nubuatan Zakharia pasal 4 yang gambar bagannya sudah tampak pada di atas, dapat diketahui bahwa di akhir zaman inilah seluruh Alkitab itu, Wasiat Lama dan Wasiat Baru, sudah seluruhnya habis diinterpretasikan ke dalam ROH NUBUATAN. Jadi, seyogyanya dapat dimengerti bahwa nama “Roh Nubuatan” yang digunakan oleh Nyonya White bagi seluruh penerbitan buku-bukunya itu belum akan menggenapi sebutan ROH NUBUATAN yang dinubuatkan pada Wahyu 19 : 10 (Bag. akhir) itu. Sebab terbukti semua nubuatan dari nabi-nabi Wasiat Lama, buku Wahyu, dan berbagai perumpamaan Jesus di dalam Wasiat Baru belum banyak terungkap di dalam buku-buku terbitan Roh Nubuatan dari Nyonya White. Sekaliannya itu baharu seluruhnya terungkap di dalam buku-buku terbitan TONGKAT GEMBALA dari Sdr. Victor T. Houteff.

Jadi, penggabungan dari Roh Nubuatan dari pekabaran Malaikat yang ketiga dari Wahyu 14 dengan Tongkat Gembala dari pekabaran Malaikat Wahyu 18 : 1 akan benar-benar dapat menerangi bumi dimulai di dalam pribadi kita sendiri sampai kelak ke seluruh bumi. Demikian itulah bagaimana K A S I H  A L L A H akan kelak dapat dibudayakan sampai ke seluruh hujung bumi sampai kepada akhir masa kasihan yang akan datang. Inilah yang diucapkan hamba Tuhan Nyonya White sebagai berikut,

“Kemudian aku tampak seorang malaikat perkasa lainnya bertugas turun ke bumi, untuk menggabungkan suaranya dengan malaikat yang ketiga, dan memberikan kuasa dan dorongan kepada pekabarannya. Kuasa besar dan kemuliaan telah diberikan kepada malaikat itu, maka sementara ia turun bumi akan diterangi oleh kemuliaannya .……. Pekabaran ini tampaknya merupakan suatu tambahan kepada malaikat yang ketiga yang bergabung dengannya bagaikan seruan tengah malam bergabung dengan pekabaran malaikat yang kedua dalam tahun 1844.” --  Early Writings, p. 277.
 
Kesimpulan dan Penutup
 
 
Karena terbukti bahwa K A S I H  A L L A H  telah menjadi satu-satunya sumber dari H U K U M - N Y A sendiri di dalam seluruh alam semesta ciptaanNya, maka melalui hamba-Nya Nyonya White kepada kita diberitahukan sebagai berikut :    

“Karena H U K U M  K A S I H itu merupakan landasan dari pemerintahan Allah, maka kebahagiaan dari semua manusia yang berakal akan bergantung pada penyesuaian diri mereka yang sempurna kepada prinsip-prinsip pembenaran yang besar dari HUKUM itu. Tuhan Allah mengharapkan dari semua mahluk ciptaanNya pelayanan kasih – yaitu pelayanan yang muncul keluar dari kecintaan terhadap tabiat-Nya. IA tidak menyukai sesuatu kepatuhan yang dipaksakan; maka kepada semua IA memberikan kebebasan untuk memilih, agar mereka dapat memberikan kepada-Nya pelayanan dari hati yang rela.”  – Patriarchs and Prophets, p. 34.

“Barangsiapa yang terlibat dosa ia juga melanggar h u k u m : karena dosa ialah pelanggaran h u k u m.”1 Jahya 3 : 4. 

Agar supaya kita tidak lagi berdosa, maka hendaklah hukum itu dipelajari sampai kepada yang sekecil-kecilnya, dan kemudian bertobat dari semua pelanggaran. Tetapi bagaimanakah dapat kita bertobat apabila H U K U M yang mewajibkan kita untuk pertama sekali mengasihi Allah dengan segenap hati, dan dengan segenap jiwa, dan dengan segenap pikiran kita sebagaimana yang diatur di dalam Alkitab dan ROH NUBUATAN, terus saja dengan sengaja dilalaikan, dan tidak disukai. Padahal budaya mengasihi sesama dengan cara peduli kepada orang-orang susah, peduli terhadap orang sakit, dan peduli terhadap orang-orang menderita dan miskin dimana-mana di dunia ini, terus menerus ditonjolkan sebagai satu-satunya landasan dari agama yang benar yang bersumber dari Kasih Jesus ? Adakah anda mengira bahwa berbagai perbuatan baik itu untuk menebus sesuatu dosa ? Hamba Tuhan kembali mengingatkan 

“I b a d a h  yang b e n a r berarti menghidupkan F I R M A N dalam praktik kehidupanmu. Pengakuanmu tidak akan bernilai apapun tanpa mempraktikan firman itu.”Testimonies to Ministers, p. 127.
 
“Hotbah yang paling fasih yang dapat disampaikan membicarakan H u k u m dari Sepuluh Perintah itu ialah melaksanakannya. Kepatuhan harus dibuat menjadi kewajiban pribadi. Lalai melaksanakan kewajiban ini akan merupakan dosa yang paling mencolok.” – 4 Testimonies, p. 58.

“Kepada saya diperlihatkan bahwa oleh hanya mematuhi penyucian Sabat dan berdoa pagi dan malam, sekaliannya itu belum merupakan bukti-bukti yang pasti bahwa kita adalah orang-orang Kristen. Bentuk-bentuk lahiriah sedemkian itu dapat saja dipatuhi dengan ketat, padahal ibadah yang sesungguhnya belum ada.” -- 1 Testimonies for the Church, p. 305.

“Adalah bukan maksud Allah untuk memaksakan kehendak hati manusia. Manusia telah diciptakan sebagai suatu agen moral yang bebas. Sebagaimana halnya dengan para penghuni dari dunia-dunia yang lain, ia harus tunduk kepada ujian kepatuhan.  – Patriarchs and Prophets, pp. 331, 332.     

 
 
  “Dia yang mengalihkan telinganya daripada mendengarkan   h u k u m, bahkan d o a n y a sekalipun akan menjadi kekejian.” — Amzal Solaiman 28 : 9. 
  
* * *