Ingatlah Kamu akan
 Hari Sabat supaya menyucikannya
(Keluaran 20 : 8)
Pendahuluan
 

Nabi Musa adalah satu-satunya nabi Tuhan Allah dari Wasiat Lama yang pertama sekali membukukan Alkitab di bumi ini, dimulai dengan lima buah bukunya yang pertama, yaitu KEJADIAN, KELUARAN, IMMAMAT, BILANGAN, DAN ULANGAN. Penulisan itupun baharu dimulai 2.500 tahun kemudian, sesudah planet bumi ini diciptakan, yaitu sesudah sejarah manusia yang pertama dimulai mendiami bumi ini.

Penulisan Alkitab itu ternyata telah diikuti oleh nabi-nabi lainnya, dan bahkan juga oleh rasul-rasul, yang terakhir rasul Yahya, yang telah membukukan bagi kita buku Wahyu yang sangat misterius itu dalam tahun 96 tarikh Masehi yang lalu. Hamba Tuhan Nyonya E. G. White mengatakan sebagai berikut :

“Sepanjang 2500 tahun pertama dari sejarah manusia tidak ada terdapat satupun wahyu yang tertulis. Mereka yang diajari oleh Allah meneruskan pengetahuan mereka kepada orang-orang lain, maka ini diturunkan dari bapa kepada anak cucu dan seterusnya sepanjang generasi-generasi berikutnya. Dipersiapkannya firman yang tertulis itu dimulai di zaman Musa. Wahyu-wahyu yang diilhami kemudian dibukukan ke dalam sebuah buku Ilham. Pekerjaan ini berlangsung selama suatu masa periode yang panjang 1600 tahun, semenjak dari Musa, penulis sejarah kejadian dunia dan hukum Torat itu, sampai kepada Yahya, pencatat kebenaran-kebenaran yang termulia dari Alkitab”. --- The Great Controversy, p. 7.

“Saya mengetahui bahwa itu merupakan suatu pendapat yang amat popular di antara orang-orang Adventist bahwa tidak ada lagi apa pun yang akan dinyatakan oleh perantaraan khayal-khayal setelah Yahya mengakhiri buku Wahyu dalam tahun 96 Tarikh Masehi. --- A Word to the Little Flock, p. 13.

Karena masa penulisan Alkitab itu memakan waktu 1600 tahun, maka dengan sendirinya sejarah kejadian Adam dan Hawa yang lalu sudah dapat dihitung sebagai berikut : (2500 tahun + 1600 tahun) - 96 tahun =  4004 s.TM. Planet bumi ini berikut Adam dan Hawa sebagai penghuninya yang pertama telah diciptakan Tuhan pada Tahun 4004 s.TM (sebelum Tarikh Masehi) yang lalu.

Catatan :  Dr. Frank Charles Thomson, D D., PH D. di dalam THE NEW CHAIN – REFERENCE BIBLE, EDISI KE - 4 YANG SUDAH DIPERBAIKI telah menemukan tahun 4004 s.TM sebagai tahun kejatuhan Adam dan Hawa dalam dosa. Hasil penyelidikannya itu cukup mengagumkan, sebab sekalipun tanpa bantuan ROH NUBUATAN dari nabi-nabi akhir zaman, dia sudah dapat menemukan angka bilangannya itu, yang sedikit sekali selisihnya daripada hasil yang diilhami. 

                                                                        *  *
                                                  
Nabi Musa telah diilhami oleh Tuhan Allah untuk menceriterakan kepada kita sebuah sejarah dunia yang cukup panjang, selama 2.500 tahun sebelumnya. Dan juga, perihal H u k u m  A l l a h  yang  terdiri dari Sepuluh Perintah Torat  yang berlaku dan mengikat  selama itu.  Karena sebab itulah, maka nabi Musa telah dijuluki oleh hamba Tuhan Nyonya E. G. White, salah seorang nabi akhir zaman, sebagai seorang ahli hukum dan ahli sejarah kejadian dunia. Untuk itulah, maka perihal Hukum Sabat, Musa telah menuliskannya sebagai berikut : 

“MAKA TELAH DIKATAKAN ALLAH SEMUA FIRMAN INI, KATANYA : 

“INGATLAH KAMU AKAN H A R I  S A B A T SUPAYA MENYUCIKANNYA : ENAM HARI LAMANYA HENDAKLAH KAMU BEKERJA DAN MELAKUKAN S E - M U A  PEKERJAANMU : T E T A P I  HARI  YANG  KETUJUH  ADALAH  S A - B A T DARI TUHAN ALLAHMU : DI DALAMNYA JANGANLAH KAMU MELAKUKAN PEKERJAAN APAPUN JUGA, BAIK KAMU, BAIK ANAKMU LAKI-LAKI, BAIK ANAKMU PEREMPUAN, BAIK HAMBAMU LAKI-LAKI, BAIK HAMBAMU PEREMPUAN, BAIK HEWAN TERNAKMU, ATAUPUN ORANG ASING YANG BERADA DI DALAM PINTU-PINTU GERBANGMU. KARENA DALAM ENAM HARI LAMANYA TUHAN SUDAH MEMBUAT LANGIT DAN BUMI, LAUT, DAN SEMUA YANG BERADA DI DALAMNYA. LALU BERISTIRAHAT PADA HARI YANG KETUJUH. OLEH SEBAB ITULAH TUHAN MEMBERKAHI HARI SABAT ITU DAN MEMPERSUCIKANNYA.”
-- Keluaran 20 : 8 – 11. 

Karena Hukum Sabat itu sendiri merupakan Perintah Ke - IV dari Undang-Undang Dasar Kerajaan Sorga, yang terdiri dari Sepuluh Perintah dari Hukum Torat Allah itu, maka tak dapat tiada harus diakui, bahwa sejak mula pertama Hukum Allah ditanamkan Tuhan ke dalam ingatan manusia yang pertama, maka sejak itu juga Hukum Sabat mulai dipatuhi oleh semua umat Allah sampai kepada hari ini. Hamba Allah nabi Nyonya White mengatakan :

“Pada waktu Adam dan Hawa diciptakan, mereka sudah mengetahui akan Hukum Allah itu. Ia itu sudah d i c e t a k pada hati sanubari mereka, maka mereka memahami betul  seluruh tuntutan dari Hukum itu atas diri  mereka.” (EGW.  MS 99, 1902.)

“Hukum Allah itu sudah ada sebelum manusia diciptakan. Iaitu disesuaikan kepada kondisi dari mahluk-mahluk yang suci ; bahkan malaikat-malaikat berada di bawah pemerintahannya. Sesudah kejatuhan manusia dalam dosa, maka prinsip-prinsip pembenarannya tetap tidak berubah. Tidak ada sesuatupun yang dikeluarkan dari Hukum itu ; tidak ada satupun dari peraturan-peraturannya yang suci itu dapat diamandemenkan atau diperbaiki. Jadi sebagaimana iaitu sudah ada semenjak dari mula pertama, maka demikian itu pula iaitu akan terus menerus berada sepanjang segala zaman yang kekal yang tidak akan ada akhirnya. Nabi Daud mengatakan : “Berkenan dengan kesaksian-kesaksian-Mu, aku sudah mengetahuinya sejak dahulu, bahwa Engkau sudah mendirikan sekaliannya itu untuk selama-lamanya.” --- (EGW.  ST. April 15, 1886).
 
Kita juga mengetahui, bahwa sekalipun keutuhan Hukum Allah dari Sepuluh Perintah Torat itu tetap tidak berubah, namun sesudah kejatuhan Adam dan Hawa dalam dosa, dan bahkan sesudah lebih dari 1600 tahun kemudian dari kejatuhan mereka itu, maka Tuhan Allah ternyata sudah membunuh hampir seluruh penduduk bumi di zaman Nuh dengan air bah. Ini membuktikan, bahwa ternyata selama 1600 tahun pertama dari sejarah manusia saja, sudah jauh lebih banyak manusia yang berdosa karena melanggar Hukum, daripada jumlah umat Allah yang hanya 8 orang dari Nuh dan keluarganya yang telah mematuhi Hukum itu dengan benar.  Hamba Tuhan, nabi Victor T. Houteff mengatakan : 

“Sesuai perhitungan Alkitab air bah itu telah datang sesudah lebih dari 1600 tahun sesudah kejadian dunia.”The Shepherd’s Rod, vol. 2, p. 41.

Jadi, kurang lebih 900 tahun kemudian sesudah air bah di zaman Nuh, maka Hukum Allah dari Sepuluh Perintah Torat itu juga, yang kembali diserahkan dari tangan Tuhan Allah sendiri kepada Musa di atas Gunung Sinai secara tertulis. 

Jelaslah terbukti, bahwa selama 2.500 tahun pertama dari sejarah manusia Undang-Undang Dasar Kerajaan Allah dari Sepuluh Perintah Torat itu, termasuk di dalamnya Hukum Sabat dari Perintah yang ke-IV, ternyata masih tetap u t u h dan l e n g k a p dipertahankan oleh Tuhan Allah, dan masih terus dijunjung tinggi dan dipatuhi oleh semua umat-Nya sampai di zaman Musa.

Bagaimana Hukum Sabat itu
Dijunjung tinggi dan dipatuhi di zaman Musa

Hamba Tuhan Nyonya White menuliskannya sebagai berikut :

“Tuhan menugaskan Musa untuk pergi dan berbicara kepada Phiraun, meminta kepadanya untuk mengijinkan Israel meninggalkan Mesir. Untuk selama 400 tahun lamanya mereka telah tinggal di Mesir, dan telah diperbudak oleh orang-orang Mesir. Mereka telah dirusak oleh penyembahan berhala, maka tibalah  waktunya  apabila Allah  hendak  memanggil  mereka  keluar dari Mesir, s u p a y a mereka dapat mematuhi hukum-hukumNya dan memeliharakan S a - b a t – N y a, yang sudah dilembagakan-Nya sejak di Eden. IA menyampaikan kepada mereka Sepuluh Perintah itu dalam kebesaran yang sangat menakutkan dari Gunung Sinai, agar mereka dapat mengerti sifat kesucian dan kekekalan dari hukum itu, lalu membangun landasan dari banyak generasi manusia, oleh mengajarkan kepada anak-anak mereka berbagai tuntutan yang mengikat dari perintah-perintah Allah yang suci itu.“ Fundamentals of Christian Education, p. 287.

“Campuran orang banyak itu yang datang bersama-sama dengan orang-orang Israel dari Mesir telah menjadi suatu sumber cobaan dan kekacauan yang terus menerus. Mereka mengakui telah melepaskan penyembahan berhala lalu menyembah kepada Allah yang benar; tetapi pendidikan dan latihan mereka itu yang semula telah membentuk berbagai kebiasaan dan tabiat mereka, maka mereka sedikit banyaknya telah dirusak oleh penyembahan berhala dan tidak hormat pada Allah. Mereka adalah yang paling sering sekali mengunjuk rasa  dan yang paling pertama sekali bersungut-sungut. Merekalah yang telah meracuni perkemahan itu dengan praktik-praktik penyembahan berhalanya dan berbagai persungutan melawan Allah.

“Tak lama sesudah kembali ke dalam padang belantara, maka suatu contoh perihal pelanggaran Sabat telah terjadi, oleh beberapa hal yang membuatnya menjadi sebuah kasus pelanggaran yang paling menyolok. Pengumuman dari Tuhan, bahwa IA hendak meninggalkan Israel telah membangkitkan suatu roh pemberontakan. Salah seorang dari orang banyak itu, yang marah karena dikeluarkan dari Kanaan, telah memutuskan untuk memperlihatkan perlawanannya terhadap Hukum Allah, lalu bertindak secara terbuka melawan Perintah yang ke - IV dengan cara pergi keluar mengumpulkan kayu bakar pada hari Sabat. Selama keberadaan mereka di padang belantara menyalakan api pada hari yang ketujuh telah sangat dilarang. Larangan itu tidak sampai berlanjut sampai ke tanah Kanaan, dimana beratnya udara dingin seringkali membuat mereka sangat memerlukan api, tetapi di padang belantara api tidak diperlukan karena udaranya panas. Perbuatan dari orang ini adalah suatu pelanggaran yang disengaja melawan Perintah yang ke - IV --- yaitu suatu dosa, yang bukan karena kesungguhan hati atau ketidaktahuan, melainkan karena kesombongannya.

“Dalam pelanggaran itu ia telah dibawa ke hadapan Musa. Sudah dideklarasikan sebelumnya bahwa pelanggaran Sabat harus dikenakan hukuman mati, namun iaitu belum terungkap bagaimana hukuman itu akan dilaksanakan. Kasus itu kemudian telah dibawa oleh Musa ke hadapan Tuhan, maka petunjuk yang diberikan adalah, “Orang itu harus benar-benar dibunuh : semua umat harus melontarinya dengan batu di luar perkemahan.” –
Bilangan 15 : 35. Dosa-dosa hojatan dan pelanggaran-pelanggaran Sabat yang disengaja menerima hukuman yang sama, karena iaitu sama dengan pernyataan penghinaan yang terbuka melawan kuasa Allah.” 

“Selama keseluruhan 40 tahun di padang belantara, orang banyak itu pada setiap minggu diingatkan mengenai kewajiban yang suci terhadap Sabat, oleh perantaraan mujizat mengenai m a n n a.“
--- Patriarchs and Prophets, p. 408 – 409.

Hamba Tuhan Nyonya Ellen G. White selanjutnya mengatakan :

“Setiap minggu selama persinggahan mereka di padang belantara orang-orang Israel itu telah menyaksikan tiga rangkap mujizat, yang direncanakan untuk memberikan kesan pada pikiran mereka mengenai kesucian dari hari Sabat itu :  yaitu sejumlah m a n n a  yang dua kali banyaknya jatuh pada hari yang ke-enam,  t i d a k  ada yang jatuh pada hari yang ke-tujuh, dan bagian yang diperlukan bagi hari Sabat, iaitu tetap bertahan manis dan segar (tidak basi), padahal jika ada sesuatu yang disimpan melewati waktunya pada hari lain, iaitu sudah tidak lagi layak untuk dimakan.

“Dalam beberapa hal yang berkaitan dengan pemberian manna itu, kami memiliki bukti yang menyimpulkan, bahwa hari Sabat itu bukan dilembagakan pada waktu hukum diberikan di gunung Sinai, sebagaimana  dikatakan oleh sebagian orang.  Sebelum orang-orang Israel itu sampai ke Sinai mereka sudah memahami bahwa Sabat itu adalah wajib atas mereka.
Karena diwajibkan untuk pada setiap hari Jumat mengumpulkan manna dua kali lebih banyak sebagai persediaan bagi hari Sabat, dimana kelak tidak ada yang akan turun, suasana yang suci dari hari istirahat itu terus menerus ditanamkan pada mereka. Dan setelah sebagian orang dari mereka itu pergi keluar pada hari Sabat hendak mengumpulkan manna, maka Tuhan lalu bertanya : “Berapa lamakah kamu menolak mematuhi Perintah-Perintah-Ku dan hukum-hukum-Ku ?”

“Bani Israel itu memakan manna empat puluh tahun lamanya, sampai mereka tiba pada sesuatu tanah yang tidak berpenghuni : mereka makan manna sampai mereka tiba di perbatasan-perbatasan tanah Kanaan. Empat puluh tahun lamanya mereka diingatkan setiap hari melalui mujizat pemberian Allah akan kepedulian dan kasih sayang-Nya yang tidak gagal itu. Dalam kata-kata dari Pemazmur, Allah telah mengaruniakan kepada mereka “gandum dari sorga.” Manusia memakan makanan malaikat
(Mazmur 78 : 24, 25) --- artinya, makanan yang disediakan bagi mereka oleh malaikat-malaikat. …………………………….

“Manna yang jatuh dari langit bagi menunjang Israel, adalah sebuah contoh dari DIA yang telah datang dari ALLAH untuk memberikan hidup kepada dunia. Kata Jesus : “Aku adalah Roti Hidup itu. Bapa-bapamu memakan manna di padang belantara, dan mereka kini sudah mati. Inilah roti yang turun dari sorga ……… Jika seseorang makan roti ini, ia akan hidup untuk selama-lamanya : dan roti yang akan Ku berikan itu ialah daging-Ku, yang akan Ku berikan bagi kehidupan bagi dunia.” –
Jahya 6 : 48 – 51. Dan di antara janji-janji berkat kepada umat Allah dalam kehidupan yang akan datang adalah tertulis sebagai berikut :  “KEPADA DIA YANG MENANG AKAN KU BERIKAN DIA MEMAKAN MANNA YANG TERSEMBUNYI.”Wahyu 2 : 17.” ---
Patriarchs and Prophets, pp. 296, 297.

  Bagaimana Hukum Sabat itu
dijunjung tinggi dan dipatuhi sampai kepada tampilnya Yahya Pembaptis.

Rasul Matius mengatakan :  

       “KARENA SEMUA N A B I – N A B I  DAN HUKUM  BERNUBUAT  SAMPAI KEPADA TAMPILNYA YAHYA.”Matius 11 : 13.  
 
Karena tidak semua nabi-nabi Wasiat Lama bernubuat, maka sesuai  nubuatan-nubuatan, yang kini sudah terungkap di akhir zaman,  nabi-nabi yang bernubuat itu akan terdiri dari hanya : nabi-nabi Jesaya, Jeremiah, Jehezkiel, Daniel, Hosea, Joel, Amos, Obadjah, Junus, Micah, Nahum, Habakuk, Zephanyah, Haggai, Zakharia, dan Maleakhi.

Sementara itu hukum yang juga bernubuat itu tak dapat tiada dimaksud kepada hanya Hukum Upacara bayangan dari nabi Musa. (The ceremonial law of Moses), karena hanya hukum inilah yang erat kaitannya dengan beberapa nubuatan yang terungkap di akhir zaman sekarang ini.

Karena Alkitab itu terdiri dari hanya 2 (dua) bagian utama, yaitu Undang-Undang Dasar Torat di satu pihak, dan Kesaksian Jesus atau ROH NUBUATAN di lain pihak, maka berbagai nubuatan dari para nabi Wasiat Lama dan dari hukum upacara bayangan itu, tak dapat tiada harus masuk kategori “Kesaksian Jesus” atau ROH NUBUATAN. Ini sudah harus dapat dimengerti karena kesaksian Jesus atau ROH NUBUATAN itu berisikan semua peraturan pelaksanaan dari Hukum Dasar Torat. Dengan demikian, Umat Allah Wasiat Lama yang lalai mematuhi hukum upacara bayangan dari Musa, mereka itu tidak mungkin dapat diampuni dosa-dosanya, sekalipun mereka adalah penganut penyucian Sabat yang setia, dan sudah mematuhi semua perintah-perintah lainnya dari Hukum Dasar Torat.  

Adanya nabi-nabi itu bernubuat sampai kepada tampilnya Jahya Pembaptis, membuktikan bahwa Tuhan Allah masih memiliki hamba-hamba-Nya yang setia mematuhi penyucian Hari Sabat-Nya sampai kepada kedatangan Jesus yang pertama. 

Bagaimana Hukum Sabat itu telah
dijunjung tinggi selama sejarah Rasul-Rasul
sampai dengan para pengikut mereka kemudian

Hamba Tuhan Nyonya White mengatakan : 
 
“Dalam bahasa yang tak mungkin salah DIA (Jesus) telah menegaskan penghargaanNya kepada h u k u m Jehovah itu. Janganlah mengira bahwa Aku datang untuk menghancurkan Hukum, atau nabi-nabi, Aku bukan datang untuk menghancurkan, melainkan untuk menggenapinya.  Karena sesungguh-sungguhnya Aku tegaskan kepadamu, Sampai langit dan bumi berlalu, satu catatan kecilpun atau bagian terkecil apapun tidak akan keluar dari hukum itu, sampai semuanya kelak digenapi. Oleh karena itu barangsiapa kelak mengeluarkan salah satu dari perintah-perintah yang sedikit ini, lalu kelak mengajarkan sedemikian itu kepada orang-orang, ia akan disebut yang terkecil di dalam kerajaan sorga : tetapi barangsiapa yang kelak melakukan dan mengajarkan sekaliannya itu, dia akan disebut besar di dalam kerajaan sorga.” -- Matius 5 : 17 – 19. --- The Prophets and Kings, p. 183.

Hukum dan nabi-nabi ialah Alkitab Wasiat Lama. Hukum ialah Hukum Torat yang terdiri dari Sepuluh Perintah Allah. Di dalamnya terdapat Hukum Sabat sebagai Perintah yang ke-IV. Nabi-nabi ialah tulisan dari nabi-nabi Wasiat Lama sampai kepada tampilnya Yahya Pembaptis.

Sesudah itu telah datang Jesus, yang kemudian telah dibaptis oleh Yahya di sungai Yarden. Selama missi-Nya di Palestina Jesus pernah mengatakan : “JIKA KAMU MENGASIHI A K U, PATUHILAH PERINTAH-PERINTAH-K U.” –  YAHYA 14 : 15.

Karena hukum yang tersedia sampai di zaman itu adalah hanya Hukum dari Sepuluh Perintah Torat dan Hukum upacara bayangan dari Musa, maka perintah-perintah yang dimaksud oleh Jesus di atas tak dapat tiada dimaksud kepada Sepuluh Perintah dari Hukum Torat itu saja. Sepuluh Perintah dari Hukum Torat itu kekal keberadaannya, sedangkan hukum upacara bayangan dari Musa itu hanya sementara sifatnya, dan akan segera berakhir masa berlakunya, apabila Jesus sebagai Anak Domba Allah sudah dikorbankan di bukit Golgotha.

Jadi, dapatlah dimengerti, bahwa semua murid Jesus dan bahkan semua pengikut-Nya selama missi-Nya di Palestina yang lalu, semua mereka itu mematuhi Sepuluh Perintah dari Hukum Torat, termasuk Perintah yang ke - IV perihal Hukum Sabat itu.

Sementara itu orang-orang Yahudi yang pada dasarnya adalah penganut agama YUDAISME, sesungguhnya sudah sejak lama menganut agama Alkitab dari Wasiat Lama. Mereka itu justru adalah penganut Hukum Sabat yang paling kaku, kolot dan ekstrim. Bahkan justru mereka itulah yang pernah menuduh Jesus dan para murid-Nya melanggar kesucian Hari Sabat karena berbagai alasan yang antara lainnya : karena memetik gandum pada hari Sabat, karena menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat, dan sebagainya.

Sesudah Jesus kembali ke sorga, dan sesudah murid-murid-Nya kembali bekerja mewakili-Nya sebagai rasul-rasul di bumi ini, maka akan kita saksikan bagaimana Hukum Sabat itu telah dipatuhi sampai kepada akhir dari missi mereka masing-masing. Tentu saja tidak lagi dapat dipungkiri, bahwa para rasul Jesus itu sudah mematuhi keseluruhan Perintah-Perintah Allah dari Hukum Torat, termasuk Perintah yang ke - IV perihal Hukum Sabat itu, sampai kepada akhir hayat mereka masing-masing. 

Satu-satunya murid Jesus yang telah jatuh berdosa ialah J u d a s. Namun Judas bukan jatuh karena melanggar hukum Sabat. Judas kemudian telah diganti oleh Saul, yang telah dipanggil langsung oleh Jesus, setelah Jesus kembali berada di sorga.

Saul itulah yang telah diangkat sendiri oleh Jesus untuk menduduki jabatan rasul, yang bertugas terutama bagi umat Kristen yang bukan keturunan Jahudi. Namanya kemudian telah berubah menjadi Paulus. Dan inilah rasul Paulus yang telah membangun sidang jemaat Ephesus pada menjelang akhir abad yang pertama yang lalu. Perihal rasul yang satu ini, dapatlah  kita baca sebagai berikut :

“Kini setelah mereka berjalan melewati Amphipolis dan Apollonia, sampailah mereka di Thesalonika, dimana ada sebuah kaabah orang-orang Jahudi : maka Paulus, sebagaimana k e b i a s a a n n y a, lalu masuk menemui mereka, maka tiga hari Sabat berturut–turut ia berbicara dengan mereka bagian-bagian dari Alkitab.” Kisah Rasul-Rasul 17 : 1, 2.

“Maka ia berbicara di dalam kaabah itu pada s e t i a p  hari S a b a t, dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani itu.” Kisah Rasul-Rasul 18 : 4.

Rasul Paulus mempunyai kebiasaan pribadi, yaitu bergereja selalu pada hari-hari Sabat. Ini membuktikan bahwa sampai dengan rasul yang sangat setia itu, semua rasul Jesus lainnya juga dikenal sebagai pribadi-pribadi yang patuh hukum Allah, termasuk juga hukum Sabat.

Beberapa abad kemudian, sesudah abad yang pertama, maka pekabaran Injil sesungguhnya sudah banyak sekali memasuki Eropah. Berjuta-juta orang di Eropah telah bertobat menjadi Kristen. Sekalipun Injil yang berkembang sampai kepada waktu itu baharu hanya terbatas pada “semua kebenaran” yang dijanjikan oleh Jesus pada Yahya 16 : 13  itu saja. “Segala perkara yang akan datang” yang juga dijanjikan, sama sekali belum datang, sebab sekaliannya itu baharu akan diungkapkan di akhir zaman, sesudah abad ke - 18, melalui perantaraan nabi-nabi akhir zaman.

 
Beberapa abad kemudian
sesudah sejarah  dari rasul-rasul Jesus itu

 
Beberapa abad sesudah sejarah rasul-rasul itu, maka sampailah kita pada kegenapan sejarah dari ucapan Jesus berikut ini, yang telah meramalkan suatu bencana besar yang akan menimpa umat-Nya sebagai berikut :

“Karena kemudian akan ada kelak masa kesusahan besar, yang sedemikian itu belum pernah ada semenjak dari permulaan dunia sampai kepada masa ini, bahkan tidak akan pernah ada lagi. Maka terkecuali hari-hari itu kelak diperpendek, tidak akan ada seorangpun selamat : maka demi kepentingan umat pilihan itu, hari-hari itu akan diperpendek.”Matius 24 : 21 – 22.

Adalah demikian mengerikannya kesusahan itu, sehingga diakui-Nya sendiri oleh Jesus, bahwa kesusahan besar yang sedemikian itu belum pernah ada semenjak dari  mula pertama kejadian dunia, dan bahkan tidak akan pernah ada lagi sesudah itu. Hamba Tuhan Nyonya Ellen G. White menuliskannya sebagai berikut:

“Dalam abad ke - 16, Reformasi yang menyampaikan sebuah Alkitab yang terbuka kepada orang-orang, telah berusaha masuk ke semua negara di Eropah. Sebagian bangsa-bangsa menyambutnya dengan gembira, sebagai suatu utusan dari Sorga. Di negeri-negeri lainnya kepausan berhasil secara luas menghalangi masuknya Alkitab itu; maka terang dari pengetahuan akan Alkitab berikut berbagai pengaruhnya yang meninggikan itu, hampir selengkapnya tersingkirkan. Di sesuatu negara, sekalipun terang itu berhasil masuk, iaitu tidak berhasil dimengerti oleh kegelapannya.  Berabad-abad lamanya kebenaran dan kepalsuan terus berjuang untuk saling menguasai. Akhirnya kejahatan berhasil menang, dan kebenaran dari Sorga terdesak keluar. ……………….

Peperangan melawan Alkitab terus maju selama berabad-abad lamanya di Prancis, yang mencapai puncaknya pada berbagai peristiwa dari Revolusi Prancis. Pergolakan yang mengerikan itu  terutama adalah akibat yang sah daripada penindasan Romawi terhadap Alkitab. ………….

Penindasan terhadap Alkitab selama masa kekuasaan paus telah diramalkan oleh nabi-nabi.; dan Pewahyu juga menunjukkan kepada akibat-akibat yang mengerikan yang terus bertambah, khususnya terhadap Prancis akibat dari dominasi “manusia durhaka.” itu.

Malaikat Tuhan mengatakan : “Kota suci itu akan dipijak-pijak mereka di bawah telapak kakinya 42 bulan lamanya.”
The Great Controversy, pp. 265, 266.

Perhatian !  Dalam ucapan hamba Tuhan di atas P a u s telah dijuluki dengan nama “manusia durhaka” (the man of sin).

 
Seluruh masa Kesusahan Besar itu
Seribu Dua Ratus Enam Puluh Tahun lamanya

Yahya Pewahyu menubuatkannya sebagai berikut :

“Malaikat Tuhan mengatakan : ‘Kota suci itu akan dipijak-pijak mereka di bawah telapak kakinya 42 bulan lamanya. Maka Aku akan memberi kuasa kepada kedua saksi-Ku, dan mereka akan bernubuat seribu dua ratus enam puluh hari lamanya, sambil berkabung  …………………………………

“Dan apabila mereka selesai memberikan kesaksiannya, maka binatang yang naik dari dalam lobang yang tak terduga dalamnya itu akan memerangi keduanya, dan akan mengalahkan mereka, dan akan membunuh mereka. Maka mayat-mayat mereka itu akan tergeletak di jalan raya dari kota yang besar itu, yang secara rohani disebut Sodom dan Mesir, dimana juga Tuhan kita telah disalibkan. ………………………………

“Maka mereka yang diam di bumi akan bersukaria atas kedua mereka itu, dan berpesta pora dan saling mengirimkan hadiah; sebab kedua nabi ini telah menyiksa mereka yang diam di bumi. Dan sesudah tiga setengah hari kemudian Roh kehidupan dari Allah memasuki keduanya, lalu berdirilah tegak mereka pada kakinya.; dan terjadilah ketakutan besar menimpa orang-orang yang menyaksikan keduanya.”
Wahyu 11 : 2 – 11.

Hamba Tuhan Nyonya White mengungkapkan ucapan nubuatan Yahya ini sebagai berikut :

“Masa-masa periode yang disebut di sini -- “Empat puluh dua bulan“ dan “Seribu dua ratus enam puluh hari“ – adalah s a m a, sama-sama melambangkan masa dimana Gereja Kristus harus mengalami penindasan dari Romawi. Masa 1260 tahun kekuasaan Paus itu dimulai dalam tahun 538, maka oleh karena itu akan berakhir dalam tahun 1798. Pada waktu itu sebuah pasukan tentara Perancis memasuki Romawi lalu menangkap Paus, maka ia kemudian mati dalam pengasingan. Sekalipun tak lama sesudah itu seorang Paus yang baru telah dipilih, namun semenjak dari saat itu hirarkhi kepausan tidak pernah lagi dapat membangun kekuasaan seperti yang dimilikinya sebelumnya.

“Aniaya terhadap Gereja tidak lagi terus berlanjut selama seluruh masa periode 1260 tahun itu. Allah dalam kemurahan-Nya telah memperpendek masa ujian mereka yang berat itu. Dalam meramalkan masa kesusahan besar itu yang akan menimpa Gereja, Juruselamat mengatakan : ‘Terkecuali hari-hari itu diperpendek, maka tidak seorangpun akan selamat. Tetapi demi kepentingan umat pilihan itu hari-hari itu akan diperpendek.’
Matius 24 : 22. Oleh pengaruh dari r e f o r m a s i, maka a n i a y a itu telah dihentikan mendahului tahun 1798.” – Great Controversy, p. 266, 267.

Sejak berdirinya kekuasaan Paus dalam tahun 538, berjuta-juta umat Kristen telah dibunuh dengan berbagai bentuk kekejaman. Semua mereka itu telah mati sahid di tangan “manusia durhaka” itu. Kalau saja masa aniaya itu terus berlangsung selama 1260 tahun penuh, sesuai yang dinubuatkan, maka tidak akan ada lagi seorangpun yang selamat. Demikian kata Jesus. Untuk itulah, maka Jesus sendirilah yang telah mendatangkan para pemuka reformasi : DR. Martin Luther, John Knox, John Wesley, dan lain-lainnya untuk menyampaikan seruan reformasi, yang telah sangat membatasi berbagai penindasan dan kekejaman penguasa kepausan sampai kepada berakhirnya dalam tahun 1798. Untuk itu, maka hamba Tuhan Luther pernah mengatakan : 

“Saya akan berhotbah, berdiskusi, dan menulis; tetapi saya tidak mau memaksa siapapun, karena iman ialah perbuatan sukarela. Lihatlah apa yang sudah ku lakukan. Saya bangkit berdiri melawan paus, pengampunan dosa, dan orang-orang kuat Katholik Roma, tetapi tanpa kekerasan ataupun keributan.  Saya menyampaikan firman Allah, saya berhotbah dan menulis. --- ini semua yang saya lakukan. Dan selagi saya tidurpun, ……. firman yang sudah saya sampaikan itu yang meruntuhkan para penguasa Katholik, sehingga bukan penghulu ataupun kaizar yang telah menghancurkan sekian besarnya. Tetapi pun saya tidak berbuat apa-apa, firman itu sendiri yang telah melakukan semuanya.” -- The Great Controversy, p. 190.

Berikut ini kami lampirkan sebuah dokumen sejarah dunia yang cukup menyolok perihal kekejaman Paus-Paus dari Gereja Roma Katholik yang lalu.

 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Sebuah Supplemen perihal
ANIAYA SELAMA BERABAD-ABAD LAMANYA
      

“Orang-orang Protestan yang benar-benar menguasai pengetahuan sejarah tidak mau lagi meragukan, bahwa gereja Romawi telah menumpahkan darah lebih banyak orang-orang yang tidak berdosa daripada lembaga manapun yang lain yang pernah ada di antara manusia ..…………... Adalah tidak mungkin membangun suatu konsep yang lengkap mengenai besarnya jumlah orang yang telah dikorbankannya, maka adalah pasti bahwa tidak akan ada ingatan yang mampu dapat memahami akan berbagai penderitaan mereka itu.” -- W.E.H. Lecky, History of the Rise and Influence of the Spirit of Rationalism in Europe, Vol. 2, p. 32, 1910 ed. (Sebuah artikel yang bagus, sekalipun panjang, yang menggambarkan secara rinci hak kekuasaan Gereja Romawi Katholik untuk berbuat demikian, akan dapat ditemukan di dalam Encyclopedia Catholic, Jilid 12, hal. 266)  

“Karena memiliki iman yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Gereja Romawi, sejarah mencatat adanya mati sahid lebih dari seratus juta orang. Satu juta orang-orang Waldenses dan Albigenses
(orang-orang Protestan dari Swiss dan Perancis) binasa selama suatu pernyataan perang salib oleh Paus Innocent III dalam tahun 1208. Dimulai semenjak dari berdirinya agama Jesuit dalam tahun 1540 sampai tahun 1580, Sembilan ratus ribu orang telah dibinasakan. Seratus lima puluh ribu orang binasa oleh melalui penyelidikan selama masa tiga puluh tahun. Dalam jangka tiga puluh delapan tahun sesudah keluar keputusan dari Charles V menentang orang-orang Protestant, lima puluh ribu orang telah mati digantung, dipenggal kepalanya, atau dibakar hidup-hidup karena menganut faham yang bertentangan. Delapan belas ribu lagi binasa selama pemerintahan dari Duke of Alva dalam lima setengah tahun.”  Brief Bible Readings, p. 16.

“Gereja Katholik mempunyai beberapa alasan di pihaknya sewaktu la menyerukan hukuman duniawi diterapkan kepada para penentang doktrinnya, karena ia menyatakan bahwa gelar Kristen yang sebenarnya itu adalah khusus bagi dirinya sendiri, dan ia mengaku iaitu diajarkan oleh Roh Allah yang tidak pernah lalai keberadaanNya ………. Iaitu bukan lagi kesalahan secara moral menghukum mati seseorang karena alasan menentang doktrin ataupun karena membunuh …… (dan) dalam banyak hal membunuh karena berbagai alasan agama bukan saja diijinkan, melainkan bahkan sangat dianjurkan dan perlu.” -- “The Lawfulness of Persecution,” in The Rambler, 4, June 1849, pp. 119, 126 (English R. C. journal published from 1848 to 1862).    

“‘Gereja, demikian kata (Martin) Luther …… ‘tidak pernah membakar seorangpun penentang faham agama’ …… saya menjawab bahwa argumentasi ini membuktikan bukan pendapat dari Luther, melainkan ketidak-tahuan atau kecerobohannya. Karena hampir tak terhitung angka bilangan orang-orang, baik yang dibakar atau sebaliknya dibunuh, bahkan Luther juga tidak mengetahuinya, dan karena sebab itulah ia tidak tahu, atau sekiranya ia  mengetahuinya, ia juga bersalah karena ceroboh dan berbohong, karena adanya para penentang faham agama sering sekali dibakar oleh Gereja dapat dibuktikan jika kita mengemukakan sejumlah contoh.” Robert Bellarmine, Disputationes de Controversis Christianae Fidei (“Disputations Concerning Controversies of the Christian Faith”), Tom. II, cap. XXII (Bellarmine, later canonized, was a leading Jesuit leader and writer.)

“Ajaran
(Kristen) orthodok sebagaimana yang dirumuskan oleh St. Thomas Aquinas dan dikukuhkan dan diperluas oleh orang-orang Dominicans yang datang kemudian dan oleh orang-orang Jesuits seperti  the Blessed Robert Bellarmine Suarez, yang berbunyi sebagai berikut :
 
“Penentang faham agama atau bidat
(sebagaimana yang didefinisikan oleh Romawi) ialah dengan sengaja memeluk ajaran-ajaran agama oleh seseorang yang sudah dibaptis, yang bertentangan dengan  sesuatu artikel perihal iman  yang sudah didefinisikan oleh Gereja Katholik.” P. Hinschius, “Heresy,” The New Schaff Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge, Vol. 5, pp. 234-235 (1909).
            
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Catatan :  Orang-orang Katholik mengakui peristiwa-peristiwa sejarah yang tragis di-atas, namun mereka mengatakan bahwa Gereja Katholik kini, bukan lagi Gereja Katholik yang dulu, sebab Gereja mereka sudah bereformasi.
 
*  *
 
Dalam zaman kegelapan agama yang lalu itulah ALKITAB telah dikacau isinya, dan Hukum Dasar Kerajaan Allah telah dirubah.

Perlu sekali diketahui, bahwa setelah Yahya selesai menulis buku Wahyu dalam tahun 96 Tarikh Masehi yang lalu, maka lengkaplah sudah seluruh Alkitab itu dipersiapkan bagi kita. Sekalipun demikian, baharu hanya sebagian terbesar Injil Wasiat Baru (terkecuali buku Wahyu dan perumpamaan-perumpamaan Jesus) yang sudah dapat dimengerti. Buku-buku dari nabi-nabi yang bernubuat sampai kepada tampilnya Yahya Pembaptis itu, dan buku Wahyu dan berbagai perumpamaan Jesus di dalam Wasiat Baru, baharu akan terungkap pengertiannya di dalam ROH NUBUATAN di akhir zaman. Jadi, kiranya jelas dipahami bahwa yang telah dirusak oleh penguasa kepausan yang lalu adalah :
 
(1)    “Semua Kebenaran” yang dijanjikan Jesus di dalam Yahya 16 : 13,
(2)     Sepuluh Perintah Torat  dari Undang-Undang Dasar Kerajaan Sorga.
 
Oleh datangnya hamba Tuhan Luther semenjak tahun 1500 yang lalu dengan pokok pekabarannya yang berjudul “ORANG BENAR ITU HIDUP OLEH IMAN” yang mulai meruntuhkan kekuasaan Paus, maka genaplah ucapan hamba Tuhan Nyonya White yang mengatakan :
 
“Reformasi itu tidak berakhir dengan Luther saja sebagaimana yang dikira orang. Iaitu akan berlanjut sampai kepada akhir sejarah dunia ini. Luther memiliki suatu tugas besar untuk memantulkan kepada orang lain terang yang Allah telah berkenan menyinari atasnya; namun ia belum memperoleh semua terang yang akan diberikan kepada dunia. Semenjak dari waktu itu sampai kini, terang baru sudah terus menyinari ke atas Alkitab, maka kebenaran-kebenaran baru telah terus menerus terungkap.”Great Controversy, pp. 148, 149. 
 
Demikian itulah, maka r e f o r m a s i dalam arti memulihkan kembali semua kebenaran yang telah  hilang itu adalah sebagai berikut :
  1. Martin Luther, dengan pokok pekabarannya : Orang Benar itu hidup oleh iman.
  2. John Knox, dengan pokok pekabarannya : Roh Suci.
  3. John Wesley, dengan pokok pekabarannya : Kasih Karunia.
  4. Alexander Campbell, dengan pokok pekabarannya : Baptisan secara diselamkan.
  5. William Miller, dengan pokok pekabarannya : Pembersihan kaabah kesucian.          
  6. Ny. E. G. White, dengan pokok pekabarannya : Sabat hari ke-tujuh.
Pokok-pokok pekabaran di atas inilah yang ternyata telah dimanipulasi dan digelapkan oleh penguasa kepausan dari Gereja Romawi Katholik selama masa penindasannya yang lalu. Bahkan Alkitab itu sendiripun pernah dilarang peredarannya di dalam masyarakat.

Berikut ini akan kita saksikan bagaimana Sepuluh Perintah Allah dari Undang-Undang Dasar Kerajaan Sorga itu telah dirubah sebagaimana yang tampak pada gambar bagan di bawah ini.

Hukum Torat Yang Dipalsukan

Yang diberikan oleh Allah

Yang dirubah oleh manusia

I

I

Jangan ada padamu dewa-dewa lain dihadapan hadiratKu

Akulah Tuhan Allahmu, jangan ada padamu dewa-dewa yang asing dihadapanKu

II

II

Jangan diperbuat olehmu patung ukiran apapun atau peta dari sesuatu yang ada di langit di atas, atau dari sesuatu yang di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air dibawah bumi. Jangan kamu menyembah sujud kepadanya, ataupun berbakti kepadanya, karena Akulah Tuhan Allahmu suatu Allah yang cemburu adanya, yang membalas kejahatan para bapa ke atas anak-anak sampai kepada generasi ketiga dan keempat dari mereka yang membenci akan Daku. Tetapi Aku menunjukkan kemurahan kepada beribu-ribu orang yang mencintaiKu dan mematuhi perintah-perintahKu.

Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sia-sia

III

III

Jangan kamu menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sia-sia karena Tuhan tidak akan menganggap tidak bersalah terhadap orang-orang yang menyebut namaNya dengan sia-sia.

Ingatlah olehmu akan penyucian hari Sabat

IV

IV

Ingatlah kamu akan hari Sabat supaya menyucikannya. Enam hari lamanya hendaklah kamu bekerja dan melaksanakan semua tugasmu, tetapi hari yang ketujuh ialah Sabat Tuhan Allahmu; pada hari itu jangan kamu melakukan pekerjaan apapun baik kamu atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan atau pelayanmu laki-laki, atau pelayanmu perempuan, atau binatang-binatangmu, ataupun orang asingmu yang ada di dalam pintu-pintu gerbangmu. Karena dalam enam hari Tuhan telah menjadikan langit dan bumi, dan beristirahat pada hari yang ketujuh. Sebab itu Tuhan memberkati hari Sabat itu dan menyucikannya.

Hormatilah ayahmu dan ibumu

V

V

Hormatilah bapamu dan ibumu supaya segala harimu dapat menjadi panjang pada negeri yang dikaruniakan Allah kepadamu.

Jangan kamu membunuh

 

VI

VI

Jangan kamu membunuh

Jangan kamu berbuat zinah

VII

VII

Jangan kamu berbuat zinah

Jangan kamu mencuri

VIII

VIII

Jangan kamu mencuri

Jangan kamu bersaksi dusta melawan sesamamu.

IX

IX

Jangan kamu bersaksi dusta terhadap sesamamu

Jangan kamu ingin akan isteri sesamamu.

X

X

Jangan kamu ingin akan rumah milik sesamamu, jangan kamu ingin akan istri milik sesamamu, atau akan pelayan wanitanya, atau akan lembunya, atau akan keledainya, atau akan apa saja milik sesamamu.

Jangan kamu ingin akan harta kepunyaan sesamamu.

 

(Sumber : Keluaran 20 : 1 – 17)

(Sumber : PETER GEIERMANN, The Converts Catechism of Catholic Doctrine, pp. 37, 38, 1946 edition)

 Bagaimana menandai waktu
 saat pembukaan dan penutupan
 Hari Sabat Tuhan Allah yang suci itu

Karena semenjak dari mula pertama Tuhan Allah sudah mencetak Hukum Dasar Kerajaan-Nya itu pada pribadi Adam dan Hawa sebagai warga kerajaan, maka dengan sendirinya cara penghitungan hari, mulai dari hari pertama, kedua, ketiga dan seterusnya sampai kepada hari yang ke - 7 Sabat-Nya itu, tak dapat tiada sudah akan diberitahukan juga kepada mereka. Untuk itulah, maka Tuhan Allah berfirman :

“Pada mula pertama Allah menciptakan langit dan bumi .…………..Maka sesudah petang dan pagi itulah hari yang pertama. ………. Maka Allah menyaksikan segala perkara yang telah dibuat-Nya, dan, bahwasanya, iaitu sangat indah adanya. Maka sesudah petang dan pagi itulah hari yang ke - 6.”Kejadian 1 : 31.

“Petang dan pagi“ berarti sesudah satu malam dan sesudah satu siang, maka itulah satu hari. Penghitungan hari yang sedemikian itu ternyata berlaku sampai di zaman Jesus di Palestina dahulu. Mereka pada waktu itu menghitung hari mulai dari masuk matahari di sore hari. Dan tentunya sampai kepada masuk matahari pada hari berikutnya. Untuk itu marilah    kita baca hikayatnya sebagai berikut :

“Ada seseorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang baik dan benar. Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. Ia berasal dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah. Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Jesus. Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain linen, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, dimana belum pernah dibaringkan mayat.

HARI ITU ADALAH HARI PERSIAPAN, DAN SABAT HAMPIR MULAI. Maka perempuan-perempuan yang datang bersama dengan Jesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayatnya dibaringkan. Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. DAN PADA HARI SABAT MEREKA BERISTIRAHAT MENURUT HUKUM TORAT.
Tetapi pagi-pagi benar PADA HARI PERTAMA MINGGU ITU mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, dan setelah masuk  mereka tidak menemukan mayat Tuhan Jesus.“
-- Lukas 23 : 50 – 56 ; 24 : 1 – 3.

Cerita di atas ini sesungguhnya bukan lagi hal baru bagi setiap orang yang mengakui dirinya Kristen. Jesus mati pada hari Jumat. Karena esoknya itu hari Sabat, dimana semua umat harus beristirahat sesuai hukum Torat, maka hari Jumat itu juga dikenal sebagai hari persiapan. Sesudah hari Sabat, maka hari berikutnya ialah hari pertama dari minggu, yaitu hari Minggu.  Jadi, sampai di zaman murid-murid Jesus yang lalu, Alkitab hanya mengakui adanya penghitungan waktu sebagai berikut :
 
    Satu hari            =      satu malam +  satu siang
    Satu minggu     =      tujuh hari
    Hari Minggu     =      Hari pertama di dalam minggu
    Hari Jumat       =       Hari persiapan pada hari ke - 6 dari Minggu
    Hari Sabat         =      Hari Istirahat pada hari ke - 7, sesuai Hukum Dasar Torat

Kematian Jesus di Palestina dahulu adalah untuk memenuhi tuntutan hukum dari Sepuluh Perintah Torat itu. Karena Hukum itu sudah dilanggar oleh leluhur kita, maka upah dosanya ialah maut yang kekal. Untuk itulah, maka supaya manusia tidak mati untuk selamanya, maka Jesuslah yang memikul sendiri maut yang kekal itu daripada kita. Namun itu bukan berarti bahwa oleh kematian-Nya itu Hukum dari Sepuluh Perintah Torat-Nya sudah batal demi hukum. Justru Hukum dari Sepuluh Perintah itu makin kokoh kedudukannya. Demikian pula halnya dengan Hukum Sabat dari Perintah yang ke - IV itu.

Bagaimana caranya
melaksanakan penyucian  Hari Sabat yang benar

Adanya beberapa Gereja Kristen di akhir dunia sekarang ini menganut Hukum Sabat dari Perintah yang ke - IV itu. Ini membuktikan bahwa mereka sedikit-dikitnya sudah mengerti. Namun hamba Tuhan Nyonya White, sebagai nabi akhir zaman mengingatkan :

“Kepada saya diperlihatkan bahwa oleh hanya mematuhi penyucian Sabat dan berdoa pagi dan malam, sekaliannya itu belum merupakan bukti-bukti yang pasti bahwa kita adalah orang-orang Kristen. Bentuk-bentuk lahiriah sedemikian itu dapat saja dipatuhi dengan ketat, padahal ibadah yang sesungguhnya belum ada.” – E. G. White, 1 Testimonies for the Church, p. 305.

Kita hendaknya mengerti, bahwa kita kini hidup di akhir zaman. Kita tidak bisa lagi menyucikan Hari Sabat sesuai teladan dari umat Allah di zaman Musa, ataupun mengikuti teladan mereka yang hidup di zaman Jesus, ataupun mengikuti teladan dari rasul Paulus. Kita sudah memiliki nabi-nabi akhir zaman sendiri, yang sudah mengungkapkan secara rinci bagaimana caranya mematuhi seluruh Perintah dari Hukum Allah itu dengan benar. Demikian pula bagaimana seharusnya penyucian Hari Sabat Tuhan Allah itu dipatuhi dengan benar. Untuk itulah, maka kita harus mencarikan semua petunjuk pelaksanaan bagi penyucian Hari Sabat Tuhan Allah itu di dalam ROH NUBUATAN.

K e s i m p u l a n dan P e n u t u p

Karena Sorga adalah negara yang berbentuk kerajaan, maka sebagaimana halnya setiap bangsa dari negara-negara di dunia memiliki Hari Besar Nasionalnya untuk setiap tahun memperingati dan merayakan Hari Kelahiran negaranya, dan mengenangkan kembali para tokoh yang telah mendirikan negaranya sejak semula, maka demikian itu pula halnya bagaimana Hukum Sabat itu telah dibuat bagi manusia, mewajibkan kita untuk pada setiap Hari Sabat kita memperingati dan mengenangkan kembali Tuhan Allah yang telah mencipta langit dan bumi ini dalam enam hari lamanya, lalu beristirahat pada hari yang ketujuh, yaitu Sabat Tuhan Allah.

Perintah Ke - IV

“INGATLAH KAMU AKAN H A R I  S A B A T SUPAYA MENYUCIKANNYA : ENAM HARI LAMANYA HENDAKLAH KAMU BEKERJA DAN MELAKUKAN S E - M U A  PEKERJAANMU : T E T A P I  HARI  YANG  KETUJUH  ADALAH  S A - B A T  DARI TUHAN ALLAHMU : DI DALAMNYA JANGANLAH KAMU MELAKUKAN PEKERJAAN APAPUN JUGA, BAIK KAMU, BAIK ANAKMU LAKI-LAKI, BAIK ANAKMU PEREMPUAN, BAIK HAMBAMU LAKI-LAKI, BAIK HAMBAMU PEREMPUAN, BAIK HEWAN TERNAKMU, ATAUPUN ORANG ASING YANG BERADA DI DALAM PINTU-PINTU GERBANGMU. KARENA DALAM ENAM HARI LAMANYA TUHAN SUDAH MEMBUAT LANGIT DAN BUMI, LAUT, DAN SEMUA YANG BERADA DI DALAMNYA. LALU BERISTIRAHAT PADA HARI YANG KETUJUH. OLEH SEBAB ITULAH TUHAN MEMBERKAHI HARI SABAT ITU DAN MEMPERSUCIKANNYA.” -- Keluaran 20 : 8 – 11. 

Tuhan Allah sendiri telah memberkahi dan mempersucikan hari Sabat-Nya itu bagi kita. Oleh sebab itu, apabila masih ada saja orang yang mau terus mencemarkannya, sementara mereka terus berbakti dan memuji-muji Tuhan Allah dan nama-Nya dalam kepalsuan, maka dengan ini diingatkan kembali sebagai berikut :

“I m a n  dalam sesuatu yang palsu tidak akan memiliki pengaruh penyucian terhadap kehidupan ataupun tabiat. Tidak ada kesalahan yang  dapat  disebut  k e - b e n a r a n, ataupun dapat dibuat menjadi kebenaran dengan cara terus menerus diulang-ulang, atau dengan jalan beriman di dalamnya. Kejujuran tidak pernah dapat menyelamatkan jiwa daripada akibat mempercayai sesuatu kesalahan. Tanpa kejujuran tidak akan terdapat peribadatan yang benar, tetapi kejujuran dalam peribadatan yang palsu tidak pernah dapat menyelamatkan manusia. Saya mungkin saja dengan sejujur-jujurnya mengikuti sesuatu jalan yang salah, tetapi itupun tak dapat merubah jalan itu menjadi jalan yang benar, ataupun membawa saya ke tempat yang saya kehendaki. Tuhan tidak mengingini kita untuk memiliki kejujuran yang buta, lalu menyebutnya sebagai I m a n  yang  menyucikan.   K e b e n a r a n  adalah prinsip yang dapat menyucikan, maka olehnya itu wajib bagi kita untuk mengetahui a p a kebenaran itu.“ --- 2 Selected Messages, p. 56.

* * *

Kunjungilah Website kami :  www.nubuatan-berbicara.org
                                                     www.tongkat-gembala.org
                                                     www.bible-prophecies.org