Gereja Yang Kekal

Dan  Musuhnya

(Wahyu pasal 12)

 

 

 

          D

iantara seluruh umat manusia yang mendiami planet bumi ini, Tuhan Allah sesungguhnya memiliki h a n y a  s a t u  umat-Nya sepanjang sejarah dunia. Sebagai warga kerajaan-Nya, maka mereka itu akan selalu dikenal dari ciri-ciri kerohaniannya, yaitu penganut Hukum-Hukum Allah dan Kesaksian Jesus Kristus. Hamba Tuhan Nyonya White menuliskannya sebagai berikut :  Allah mempunyai s a t u  sidang jemaat di dunia ini, yaitu umat pilihan-Nya, yaitu mereka yang memeliharakan Hukum-Hukum-Nya. IA memimpin bukan cabang-cabang yang lepas sendiri-sendiri, bukan seorang di sini dan seorang di sana,  melainkan s a t u  umat.” – Testimonies to Ministers, p. 61.

 

         Karena ada banyak sekali nama yang terdaftar pada buku-buku sidang adalah bukan orang-orang Kristen (Review and Herald, May 21, 1901), maka kita hendaknya waspada agar tidak menganggap mereka itu juga sebagai umat Allah. Mereka itulah justru musuh-musuh yang akan menyesatkan kita dari dalam. Hamba Tuhan memperingatkan : “Kita memiliki satu Tuhan, satu iman, satu baptisan. Injil Kristus akan mencapai semua kelas orang-orang, semua bangsa, semua bahasa dan umat. Pengaruh dari injil itulah yang akan mempersatukan kita ke dalam suatu persaudaraan yang besar.  Kita memiliki hanya satu Teladan yang harus ditiru dalam pembangunan tabiat., ………kita akan  berada dalam persatuan yang harmonis, berbagai latar belakang kebangsaan akan bersatu dalam Jesus Kristus, menjadi sehati dan sepikir, membicarakan perkara-perkara yang sama, lalu dengan s a t u mulut memuliakan Allah.” – Our High Calling, p. 171.

 

           Oleh kasih sayang-Nya yang begitu besar, maka Tuhan Allah sejak jauh-jauh hari sebelumnya telah mengamarkan kepada kita dalam berbagai bahasa nubuatan untuk waspada. Untuk itulah rasul Yahya telah menubuatkannya di bawah ini.  

W a h y u   12  :   1 - 6

          “Maka kelihatanlah di langit suatu keajaiban yang besar, yaitu seorang perempuan  bersalut dengan matahari, dan bulan ada di bawah kakinya, dan pada kepalanya bermahkotakan dua belas bintang. Adalah ia itu mengandung dan berteriak sebab sakit dan sengsara hendak beranak. Maka kelihatanlah suatu keajaiban yang lain pula di langit, yaitu ada seekor naga besar yang merah menyala,  berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan pada kepalanya bermahkota tujuh. Dan ekornya menyeret sepertiga dari segala bintang di langit lalu mencampakkannya  ke bumi ; maka berdirilah  naga itu di hadapan perempuan  yang sedang  akan beranak itu, supaya segera setelah anak itu lahir naga itu akan  menelan anaknya itu. Maka ia memperanakkan seorang anak laki-laki, yang akan memerintah segala bangsa dengan sebuah tongkat besi;  maka anaknya itu pun disambar dibawa kepada Allah, dan kepada tahta-Nya. Maka perempuan itupun larilah ke dalam padang belantara ; di sana ada sesuatu tempat disediakan Allah baginya, supaya mereka memeliharakannya di sana seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.”  --- Wahyu  12  :  1 - 6.

 

          Perempuan  itu  melambangkan GEREJA atau Sidang Jemaat milik  Allah. Perempuan itu bersalutkan matahari berarti Sidang Jemaat itu  berpakaikan  Terang dari Sorga, yaitu Alkitab.  Sementara itu bulan berada  di bawah kakinya. Karena bulan befungsi memantulkan terang dari matahari untuk menerangi di waktu malam, maka iaitu tak dapat tiada melambangkan masa periode sebelum Alkitab. Jadi perempuan itu  tentunya melambangkan Sidang Jemaat milik Allah semenjak dari  Kejadian  Dunia, sebelum  adanya Alkitab, sampai dengan hari ini dan seterusnya selama adanya  Alkitab  sebagai  Terang  dari Sorga  di bumi  ini.  Hamba Tuhan menuliskannya di dalam ROH NUBUATAN sebagai berikut :

 

          “Selama 2.500 tahun pertama dari sejarah manusia tidak ada terdapat satupun wahyu yang tertulis. Mereka yang diajari oleh Allah meneruskan pengetahuan mereka kepada orang-orang lain, maka ini diturunkan dari bapa kepada anak cucu dan seterusnya sepanjang  generasi-generasi berikutnya. Dipersiapkannya firman yang tertulis itu dimulai di zaman Musa. Wahyu-wahyu yang diilhami kemudian dibukukan ke dalam sebuah buku Ilham. Pekerjaan ini berlangsung selama suatu masa periode yang panjang 1.600 tahun, semenjak dari  Musa penulis sejarah kejadian dunia dan Hukum Torat itu, sampai kepada Yahya, pencatat kebenaran-kebenaran yang termulia dari Alkitab.” – The Great Controversy, p. 7.

 

          Lagi pula perempuan itu sedang mengandung sewaktu ia bersalutkan matahari dan sewaktu bulan masih berada di bawah kakinya. Apakah artinya ini? Hamba Tuhan mengungkapkan bahwa pada waktu itulah  kepada perempuan itu telah diberi janji bahwa ia akan melahirkan  seorang anak laki-laki, yaitu Kristus, yang akan memerintah segala bangsa dengan sebuah tongkat besi.  Ia ternyata kemudian telah disambar dibawa kepada Allah, dan kepada tahta-Nya. Jesus pernah lahir dan tinggal di bumi ini,  namun semenjak dari tahun 31 TM yang lalu Ia telah kembali ke Sorga dan telah menduduki kembali  tahta-Nya  di sana. Ini jelas diketahui dari ucapan-Nya sendiri : “Kepada d i a yang menang akan Ku berikan d i a  duduk bersama-Ku pada tahta-Ku, sama seperti Aku juga sudah menang dan kini duduk  bersama Bapa-Ku pada tahta-Nya.” -- Wahyu 3 : 21.

 

          Dua belas bintang yang merupakan mahkota di atas kepala perempuan itu jelas memperlihatkan pemerintahan Allah di bumi ini. Itulah kekuasaan kumulatif yang dipunyai oleh Sidang Jemaat, yang dipunyai oleh dua belas kepala suku bangsa Israel, yang dipunyai oleh dua belas suku bangsa Israel, yang dipunyai oleh dua belas rasul - rasul  yang lalu, dan yang dipunyai oleh 12.000 orang dari masing-masing suku dari dua belas suku bangsa bani Israel akhir zaman yang akan datang, yaitu mereka 144.000  itu.

 

          Jadi dapatlah dimengerti bahwa perempuan itu benar-benar melambangkan Sidang Jemaat milik Allah yang hidup, yang terus menerus berada dalam peperangan melawan musuh-Nya. Yahya selanjutnya mengatakan  :

 

          Maka kelihatanlah suatu keajaiban yang lain pula di langit, yaitu ada seekor naga besar yang merah menyala, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan kepala-kepalanya itu bermahkota tujuh. Dan ekornya menyeret sepertiga dari segala bintang di langit, lalu dicampakkannya sekaliannya itu ke bumi ; maka berdirilah naga itu di hadapan perempuan yang sedang akan beranak itu, untuk menelan anaknya segera setelah ia itu lahir.” – Wahyu  12  : 3, 4. 

 

          Dalam bahasa nubuatan Daniel dan Wahyu, binatang pada umumnya melambangkan sesuatu periode sejarah berikut orang-orang yang hidup dalam masa periode sejarah yang bersangkutan. Kepala dan tanduk dari binatang tersebut akan melambangkan para penguasa, yaitu penguasa agama di satu pihak dan penguasa dari pemerintahan sipil di lain pihak. Makota melambangkan kekuasaan raja (kingly authority). Jadi, dimana mahkota itu berada, maka disitulah kekuasaannya akan merajalela. Dari  ROH NUBUATAN  dapat kita baca sebagai berikut  :

 

          Oleh lambang-lambang dari seekor naga merah yang besar,  seekor binatang yang berupa harimau kumbang, dan seekor binatang yang bertanduk seperti tanduk anak domba, maka para penguasa pemerintahan dunia yang akan khusus terlibat dalam menginjak-injak hukum Allah serta menganiaya umat-Nya telah ditunjukkan kepada Yahya. Peperangan ini akan terus berlangsung sampai kepada akhir zaman. Umat Allah yang dilambangkan oleh seorang wanita yang suci dan anak-anaknya, telah ditunjukkan bagaikan kebanyakan berada dalam kelompok-kelompok yang sangat kecil.” --- EGW. SDA Bible  Commentary, vol.  7 – A, p. 416.

 

          “Urutan nubuatan dalam mana simbol-simbol ini ditemukan dimulai dengan Wahyu pasal 12, yaitu dengan naga itu yang telah berusaha membinasakan Kristus pada saat kelahiran-Nya. Naga itu sebagai Setan (Wahyu  12 :  9) adalah dia yang telah menggerakkan Herodes untuk menghukum mati Juru Selamat. Tetapi agen utama dari Setan dalam melakukan peperangan terhadap Kristus dan umat-Nya  selama abad pertama sejarah Kristen itu ialah kekaizaran Romawi,  di dalam mana kekapiran telah menjadi agama yang berkuasa.” -- The Great Controversy, p. 438.

 

          Di dalam Wahyu  13  :  1 - 10 telah digambarkan seekor binatang yang lain yang berupa harimau kumbang kepada siapa naga itu telah memberikan haknya, dan kursinya, dan kekuasaan besar. Lambang ini, sebagaimana yang telah diyakini oleh kebanyakan orang Protestant, adalah menunjuk kepada k e p a u s a n, yang telah meneruskan hak dan menduduki kursi dan kekuasaan yang pernah dipegang oleh kekaizaran Romawi  kuno.”The Great Controversy,  p. 439.

 

          Dari ketiga kutipan ROH NUBUATAN itu juga dapat diketahui bahwa naga merah yang melambangkan Setan itu memiliki tujuh kepala yang bermahkota dan sepuluh tanduk yang tidak bermahkota. Tujuh kepala  dan sepuluh tanduk itu melambangkan para penguasa yang memerintah  selama sejarah dari nubuatan itu. Angka “7“ melambangkan kelengkapan, dan angka “10“ melambangkan keseluruhan  secara universal.

 

          Karena mahkota -mahkota itu  terdapat  hanya pada tujuh kepala  naga, dan bukan pada tanduk-tanduknya, maka walaupun kedua pihak penguasa itu sama-sama dikuasai oleh Setan, namun mahkotanya atau kekuasaannya diberikan hanya kepada pihak pemimpin agama. Demikianlah para pemimpin Yahudi bersama-sama dengan para penguasa Romawi telah menganiaya Jesus di masa lalu, sehingga jelas menunjukkan bagaimana naga itu telah melambangkan dunia kekapiran secara lengkap, dan bagaimana Setan telah menguasai dunia ini secara keseluruhan. Setan telah mencapai kemenangannya pada pemulaan abad yang pertama  sehingga ia telah menggerakkan Herodes untuk membunuh semua bayi  yang baru lahir setelah diketahuinya tentang kelahiran Jesus.

 

          Demikian berkuasanya kepala naga itu sehingga para pemimpin  GEREJA telah berhasil menyalibkan Jesus, melontari sampai mati Stephanus serta memenggal kepala banyak rasul-rasul dalam sejarah abad yang pertama, tanpa dihadapkan kepada tuntutan hukum negara manapun juga. Para penguasa sipil tenyata tidak lagi mampu untuk menegakkan hukum-hukum negara yang ada, sehingga pada akhirnya semua mereka menyerah kepada  berbagai keputusan dari pihak penguasa GEREJA.

 

          Adalah demi untuk menyelamatkan umat manusia, maka Juru Selamat dunia itu harus datang. Telah dijanjikan kepada semua umat bahwa Jesus akan datang, maka sejak Sidang atau Gereja Tuhan yang dilambangkan oleh perempuan yang hamil itu siap untuk melahirkan anaknya, Setanpun  telah siap untuk menelan anaknya yang akan lahir itu.  Setan sudah sejak lama bersiap-siap untuk membinasakan Jesus sebelum kelahirannya di dunia ini. Kita mungkin saja bertanya, mengapa Jesus tidak jadi dibinasakan pada waktu kelahiran-Nya, walaupun pada akhirnya  Dia disalibkan juga ?

 

          Kedatangan Jesus yang pertama adalah untuk melaksanakan tugas penebusan-Nya di dunia ini. Pelaksanaan tugas penebusan itu belum dimulai pada saat kelahiran-Nya. Demikian pula pelaksanaan tugas penebusan itu belum dapat selesai sebelum saat penyaliban-Nya. Tugas penebusan itu baharu selesai setelah terdengar kata-kata yang diucapkan Jesus : “Sudah Genap” dan kemudian putuslah nyawa-Nya di kayu palang itu. Kematian Jesus itu tidaklah berarti kemenangan dicapai oleh pihak Setan, tetapi sebaliknya suatu kekalahan yang kekal telah dideritanya.  Akibatnya telah timbul amarahnya yang sedemikian rupa sebagaimana tampak pada Wahyu 12  : 17.

 

          Demikian itulah, maka setelah tugas penebusan Jesus itu selesai dilaksanakan-Nya, Ia kemudian dibawa kepada Allah dan kepada tahta-Nya (ayat 5).  Sebaliknya karena naik amarah naga itu, “maka perempuan itu pun larilah ke padang belantara; di situ ada sesuatu tempat disediakan Allah baginya, supaya ia dipeliharakan di situ 1.260 hari lamanya.”  (Ayat  6).  Dari ROH NUBUATAN dapat kembali kita baca di bawah ini,

 

          Dalam abad yang ke- 6 kepausan telah berhasil berdiri teguh.  Tahta kekuasaannya telah ditentukan berada di dalam benteng  kerajaan, maka bishop Roma telah dinyatakan menjadi kepala atas keseluruhan GEREJA. Kekapiran telah memberikan tempat kepada kepausan. Naga itu telah memberikan kepada binatang itu ‘haknya, tahtanya, dan kekuasaan besar’.  Wahyu  13  :  2.  Dan kini mulailah masa 1.260 tahun dari penganiayaan Paus yang diramalkan di dalam nubuatan Daniel dan Wahyu itu. Daniel  7  : 25; Wahyu  13  :  5 - 7.  ..................... Penganiayaan secara terbuka terhadap orang-orang yang setia dengan bengisnya lebih besar daripada sebelumnya, dan dunia  telah menjadi lapangan pertempuran yang luas. Untuk beratus-ratus tahun lamanya GEREJA Kristus memperoleh perlindungan secara terpencil dalam kesuraman. Maka demikianlah kata nabi itu : ‘Maka perempuan itu pun larilah ke padang belantara, di situ ada sesuatu tempat disediakan Allah baginya,  supaya ia dipeliharakan di situ  1.260 hari lamanya.”  Wahyu  12  :  6. --  The Great Controversy, pp. 54 -  55. “Seribu dua ratus enam puluh hari atau tahun itu berakhir dalam tahun  1.798. “  -- The Great  Controversy,  p.  306.

 

          GEREJA Kristen semenjak dari kenaikan Jesus ke sorga telah mengalami aniaya yang tidak habis-habisnya. Kemudian daripada itu mereka sekali lagi selama 1260 tahun terhitung sejak tahun 538 sampai tahun 1798 harus hidup di bawah berbagai penindasan dari kekuasaan  Paus di Eropah.  Demikian itulah, maka selama penganiayaan itu umat Tuhan telah dinubuatkan bagaikan “lari ke padang belantara” dimana disanalah akan dilindungi Tuhan akan dia selama 1260 tahun. Apakah artinya, “lari ke padang belantara itu” ? Kita ikuti penjelasannya di bawah ini !

 

          Padang belantara adalah kebalikan daripada kebun anggur Tuhan.  Apa yang dimaksud dengan kebun anggur Tuhan itu, nabi Jesaya menuliskannya sebagai berikut : “Bahwa sesungguhnya kebun anggur Tuhan serwa sekalian alam itu ialah orang isi rumah Israel dan segala orang Jehuda itu ialah suatu tanaman yang disukainya ......” Yesaya 5 : 7. Jadi jelaslah, bahwa padang belantara  itu tak dapat tiada dimaksudkan kepada tanah orang-orang kapir (the land of the Gentiles).

           

          Setan telah menguasai seluruh isi rumah Israel selama abad yang pertama, maka perempuan itu terpaksa meninggalkannya dan pindah ke Eropah. Di sinipun naga itu masih terus mengejarnya, sehingga Tuhan perlu melindunginya selama 1260 tahun itu.

 

Mulanya Kejatuhan Setan

 

Hamba Tuhan Nyonya Ellen G. White menuliskannya sebagai berikut : 

         

          Tuhan telah memperlihatkan kepada saya, bahwa Setan pada mulanya adalah seorang malaikat yang dihormati di dalam sorga, setingkat di bawah Jesus Kristus. Wajah mukanya periang, dan kegembiraannya menonjol seperti halnya malaikat-malaikat lain. Dahinya adalah tinggi dan lebar, dan tampak sangat cerdas. Bentuknya sempurna. Ia memiliki suatu pembawaan yang mulia dan besar.  Dan aku tampak bahwa pada waktu Allah mengatakan kepada Anak-Nya, ‘Mari kita membuat manusia dalam bentuk dan teladan kita’, maka Setan menjadi iri hati terhadap Jesus.  Ia ingin diajak juga dalam pembentukan manusia itu. Ia dipenuhi dengan iri hati, sangka-sangka jahat dan kebencian. Ia ingin menjadi yang tertinggi di dalam kerajaan sorga, setingkat di bawah Tuhan Allah, dan supaya menerima penghormatan -penghormatan  tertinggi. ..................

 

          “Itulah dosa yang terbesar karena mendurhaka melawan ketertiban  dan kehendak Allah. Seluruh isi sorga tampaknya dalam kegoncangan. Malaikat-malaikat dikumpulkan dalam kesatuan-kesatuan dengan seorang komandan malaikat sebagai pemimpin mereka. Seluruh malaikat siap siaga. Setan sedang melakukan hasutan melawan pemerintahan Tuhan Allah, dengan ambisi mengangkat dirinya sendiri, serta tidak rela tunduk pada kekuasaan Jesus.”  -- Spiritual Gifts, vol. 1, pp.  17, 18.  Yahya  Pewahyu mengatakan  :

 

          “Dan ekornya menyeret sepertiga dari segala bintang di langit, lalu dicampakkannya ke bumi. Maka berdirilah naga itu di hadapan perempuan yang sedang akan beranak itu, supaya apabila ia sudah beranak, naga itu dapat menelan anaknya itu.”

 

          “Maka jadilah suatu peperangan di dalam sorga, yaitu Mikhail  dan segala malaikat-Nya  berperang dengan naga itu ; dan naga  serta segala tentaranya pun berperanglah; maka naga dan tentaranya itu tiada menang, dan tempatnya pun sudah hilang di sorga. Maka tercampaklah  naga besar itu, yaitu ular tua, yang dinamakan Iblis dan Setan itu, yang menyesatkan segala isi dunia; bahkan ia sudah dicampakkan ke bumi dan segala terntaranya pun sudah tercampak juga besertanya.

 

          “Setelah naga itu melihat dirinya sudah tercampak ke bumi, maka ia lalu menganiaya perempuan yang memperanakkan anak laki-laki itu.”  ---- Wahyu  12  :  4, 7 - 9, 13.

 

         Dari ayat-ayat Wahyu di atas dapat kita saksikan adanya dua peristiwa  pencampakan ke bumi. Peristiwa pertama terjadi pada waktu naga itu dengan ekornya menyeret  sepertiga  dari segala bintang di langit, lalu mencampakkannya ke bumi, lalu kemudian berdirilah ia sendiri menunggui anak yang akan lahir itu (Wahyu  12  :  4); dan peristiwa kedua pada waktu Tuhan Allah sendiri mencampakkan naga itu ke bumi sebagaimana terdapat pada Wahyu  12  :  9. Untuk jelasnya, maka masing-masing peristiwa itu kita bicarakan secara terpisah di bawah ini.

 

Peristiwa Pencampakan Yang Pertama

(Wahyu 12 :  4)

 

          Yahya mengatakan: “dan ekornya (ekor dari naga itu) menyeret sepertiga dari segala bintang di langit, lalu mencampakkannya ke bumi. Maka berdirilah naga itu di hadapan perempuan yang sedang akan beranak itu, supaya apabila ia sudah beranak, naga itu dapat menelan anaknya itu.”  Wahyu 12  :  4.

 

          Naga itu menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit atau malaikat-malaikat sorga itu bukan dengan kukunya melainkan dengan ekornya. Apakah artinya ini? Orang harus bijaksana, bahwa setiap penyeretan dengan menggunakan kuku atau gigi mempunyai arti bahwa sesuatu mangsa pasti sudah berhasil dilumpuhkan. Tetapi dalam peristiwa nubuatan ini Setan justru tidak berhasil menang di dalam sorga. Dia telah dikalahkan, maka secara simbolis telah dikatakan, bahwa “ekornya yang telah menyeret sepertiga bintang-bintang itu turun ke bumi. Lalu bersama-sama dengan dirinya semua mereka beramai-ramai mencampakkan diri ke bumi ini sebelum kedatangan Kristus yang pertama yang lalu. Jadi jelaslah bahwa ekornya menyeret sepertiga bintang-bintang sorga itu ke bumi membuktikan bahwa malaikat-malaikat sorga itu telah mengikuti naga itu turun ke bumi ini secara suka rela, bukan karena paksaan. Justru malaikat-malaikat itulah yang telah bergabung dengan Setan dalam pemberontakannya di dalam sorga, sehingga telah dilambangkan bagaikan bintang-bintang yang bergantungan pada ekor naga itu, lalu sama-sama diseret ke bumi. ROH NUBUATAN kembali menceriterakannya  sebagai berikut :

 

          “Pada waktu Setan merasa tidak puas di dalam sorga, ia tidak mengemukakan keluhannya ke hadapan Allah dan Kristus; tetapi ia masuk di antara malaikat-malaikat yang menyangkanya tetap sempurna lalu mengemukakan, bahwa Tuhan Allah telah melakukannya dengan tidak adil dengan cara lebih mendekatkan Kristus kepada diri-Nya  sendiri. Alhasil dari pengaduan yang tidak benar itu adalah, bahwa oleh simpati mereka kepadanya, maka sepertiga dari malaikat-malaikat itu telah kehilangan kesuciannya, kehilangan status mereka yang tinggi, serta kehilangan tempat tinggal mereka yang berbahagia.” – Testimonies, vol. 5, p. 291.

 

          “Setan dalam pendurhakaannya telah mengambil sepertiga bagian dari malaikat-malaikat. Mereka telah berbalik daripada mengikuti BAPA  dan Anak-Nya lalu menggabungkan diri kepada penghasut pendurhakaan itu.” – Testimonies, vol. 3, p. 115.

 

Peristiwa Pencampakan Yang Kedua

 

          Sesudah pencampakan yang pertama Setan ternyata masih saja berkesempatan hadir di dalam sorga. Bahkan sekalipun Adam dan Hawa telah dijerumuskannya ke dalam dosa, Setan belum juga dilarang untuk masuk ke sorga. Ini terbukti dari ucapan nabi Ayub dalam sejarah yang lalu yang mengatakan  :

 

          “Hata, maka pada sekali peristiwa pada sesuatu hari anu  datanglah semua anak Allah hendak menghadap Tuhan, dan Setanpun datang di tengah-tengah mereka itu. Maka firman Tuhan kepadanya : ‘Engkau dari mana ?’ Maka sahut Setan kepada Tuhan, sembahnya : ‘Daripada berjalan keliling dan beredar-edar di bumi.” – Ayub  1 :  6, 7. ROH  NUBUATAN  juga menambahkan  :

 

          Alkitab menyatakan bahwa pada sesuatu kesempatan sewaktu malaikat-malaikat Allah datang hadir ke hadapan Tuhan, maka Setan  telah juga datang di antara mereka (Ayub 1 : 6), bukan untuk menyembah ke hadapan Raja yang kekal itu, melainkan untuk meneruskan maksud-maksud permusuhannya terhadap orang-orang suci.”The Great Controversy, p. 518.

 

Tetapi kemudian daripada itu  Yahya mengatakan :

    

          Maka jadilah suatu peperangan di dalam sorga, yaitu Mikhail serta semua malaikat-Nya berperang dengan naga itu ; dan naga serta segala tentaranya pun berperanglah. Maka naga dan tentaranya itu tiada menang, dan tempatnya pun s u d a h  h i l a n g  di sorga. Maka tercampakklah naga besar itu, yaitu ular tua, yang dinamakan Iblis dan Setan itu, yang menyesatkan segala isi dunia; bahkan ia sudah tercampak ke bumi, dan segala tentaranya itupun sudah tercampak juga besertanya.”Wahyu  12  : 7 - 9. Setelah naga itu melihat bahwa dirinya sudah tercampak ke bumi, maka ia lalu menganiaya perempuan  yang memperanakkan anak laki-laki itu.”  -- Wahyu  12  :  13.

         

            Peristiwa pencampakan yang kedua itu akan benar-benar jadi segera setelah peperangan yang di dalam sorga itu berakhir. Nyonya White mengatakan :

 

“Para komandan dari kesatuan-kesatuan malaikat, yaitu anak-anak Allah, wakil-wakil dari dunia-dunia yang tidak jatuh dalam dosa telah berkumpul. Pertemuan sorga ini di hadapan mana Lucifer telah menuduh Tuhan Allah dan anak-Nya, adalah pertemuan wakil-wakil dari orang-orang yang tidak berdosa dari seluruh alam semesta, pada mana Setan telah merencanakan untuk mendirikan kerajaannya. Semua mereka berada di sana untuk menyambut Juru Selamat. Mereka ingin merayakan kemenangan-Nya serta memuliakan Raja mereka. ................        

          “Ia menyampaikan kepada Allah berkas ikatan gandum, yaitu orang-orang yang telah bangkit bersama-Nya sebagai wakil-wakil dari perhimpunan besar itu yang akan bangkit keluar dari kubur-kubur mereka pada kedatangan-Nya yang kedua kali. ............................

Suara Allah terdengar mengumumkan bahwa keadilan telah tercapai dengan memuaskan. Setan telah dikalahkan. Jerih payah serta perjuangan dari pengikut-pengikut Kristus di dunia ini telah diterima dalam Kekasih-Nya. Epesus 1 : 6. Di hadapan malaikat-malaikat sorga serta wakil-wakil dari dunia-dunia yang tidak berdosa mereka telah dinyatakan dibenarkan.

 

          “Setan melihat bahwa kedoknya telah terungkap. Pekerjaannya telah dibukakan di hadapan malaikat-malaikat yang tidak berdosa serta di hadapan seluruh alam semesta. Ia telah membuka dirinya sendiri sebagai seorang pembunuh. Oleh menumpahkan darah anak Allah, maka ia telah menarik dirinya sendiri daripada simpati mahluk-mahluk sorga itu. Kemudian daripada itu, maka pekerjaannya lalu dibatasi. Bagaimanapun juga sikapnya ia tidak lagi dapat menunggui malaikat-malaikat sebagaimana biasanya mereka itu datang dari bilik-bilik sorga lalu di hadapan mereka ia menuduh-menuduh saudara-saudaranya Kristus karena berpakaikan pakaian-pakaian hitam dan kotor oleh dosa. Hubungan simpati yang terakhir di antara Setan dengan dunia samawi putus.” – The Desire of Ages, pp. 833, 834, 761.

 

          Setelah Jesus kembali ke sorga sesudah kematian-Nya di bumi ini, dan setelah suara Allah Bapa terdengar mengumumkan bahwa keadilan sudah tercapai dengan memuaskan, maka pada saat itulah Setan dikalahkan. Pada saat itulah semua kedok Setan terungkap, sehingga putuslah hubungannya dengan simpati malaikat-malaikat sorga. Sejak dari saat itulah, sesudah Jesus dibangkitkan, maka genaplah apa yang disebut Yahya pada Wahyu 12  : 13  itu sepenuhnya. “Maka tercampaklah naga besar itu, yaitu ular tua yang dinamakan Iblis dan Setan itu, yang menyesatkan seluruh isi dunia; bahkan ia sudah tercampak ke bumi  dan segala tentaranya itupun sudah tercampak juga besertanya.”-- Wahyu  12  :  9. 

 

          Pencampakan yang kedua ini secara nubuatan telah didahului oleh sesuatu peperangan yang terjadi di dalam sorga di antara Mikhail dan para malaikat pengikut-Nya dan naga itu berikut bala tentaranya. Ternyata peperangan itu bukanlah sesuatu pertempuran fisik seperti biasanya terjadi di bumi ini, karena itu adalah peperangan dalam arti nubuatan yang berarti  suatu pergumulan rohani yang terberat mengikuti penderitaan Jesus selama Ia melaksanakan tugas penebusan umat manusia di dunia ini.   Mengapa ?

 

          “Kalau saja satu dosa telah didapati dalam Kristus, ataupun dalam sesuatu hal Ia telah menyerah kepada Setan untuk menghindari siksaan yang terhebat itu, maka musuh Allah dan manusia itu tentunya sudah akan menang. Kristus menundukkan kepala-Nya lalu meninggal, tetapi Ia berpegang teguh pada percaya-Nya serta penyerahan-Nya kepada Allah. ‘Maka aku dengar pula suatu suara besar di sorga mengatakan : ‘Sekarang sampailah keselamatan dan kodrat dan kerajaan Tuhan kita, dan kuasa Kristus-Nya itu; karena sudah tercampak ke bawah Penuduh  semua saudara kita, yang menuduh mereka itu di hadirat Tuhan kita  siang dan malam. Wahyu  12  : 10.“  -- The Desire of Ages, p. 761.

 

          Kemudian sesudah kekalahan Setan dan setelah semua kedoknya terungkap, maka genaplah pula ucapan Yahya berikut ini.  

 

          “Sekaliannya itu (orang-orang yang dituduh Setan di hadapan hadirat Tuhan) sudah mengalahkan dia oleh sebab darah Anak Domba itu, dan oleh sebab perkataan kesaksian mereka itu; dan mereka itu tiada menyayangi nyawanya walaupun sampai mati. Sebab itu bersoraklah, hai sorga dan semua yang duduk di dalamnya. Celaka bagi bumi dan laut, karena Iblis sudah turun kepadamu dengan besar kemarahannya, sebab mengetahui bahwa waktunya sudah singkat.” Wahyu  12  :  11, 12.

 

Aniaya Terhadap Sidang Allah

 

          Setelah naga itu melihat dirinya sudah tercampak ke bumi, maka ia lalu menganiaya perempuan yang memperanakkan anak laki-laki itu.”   Wahyu 12  : 13.

 

          “Maka pada hari itu datanglah aniaya besar menimpa Sidang Jemaat yang di Jerusalem, lalu terpecah-belahlah mereka itu sekalian ke segenap tanah Judea dan Samaria, kecuali rasul-rasul saja.” -- Kisah Rasul-Rasul 8 : 1.

 

          Penganiayaan Setan itu tidak berakhir pada penganiayaan terhadap  umat Kristen di zaman rasul-rasul itu saja, sebab ternyata umat Kristen itu terus dikejarnya, sehingga secara nubuatan perempuan itu telah melarikan diri ke padang belantara. Yahya mengatakan : “Maka dikaruniakan kepada perempuan itu dua sayap burung garuda yang besar, supaya ia dapat terbang ke padang belantara ke tempatnya, yaitu tempat ia dipeliharakan dalam satu masa dan dua masa dan setengah masa lamanya, jauh daripada mata ular itu.” --- Wahyu 12 : 14.

 

          Karena umat Kristen telah ditolak oleh isi rumah Israel sendiri, maka dengan sendirinya perempuan itu sudah harus melarikan diri ke padang belantara; artinya Sidang Tuhan kemudian melebarkan sayapnya kepada bangsa-bangsa kapir.  Alkitab melukiskannya sebagai berikut :

         

          “Maka Paulus dan Barnabaspun berkata-kata dengan beraninya, katanya : Wajiblah firman Allah dikatakan terlebih dulu kepada kamu, tetapi karena kamu menolakkan dia dan mengirakan dirimu sendiri tiada berlayak bagi hidup yang kekal, maka berpalinglah kami kepada orang kapir. Itulah sebabnya dipesankan Tuhan kepada kami, firman-Nya: ‘Aku jadikan engkau suatu terang bagi segala orang kapir, supaya engkau mendatangkan selamat sampai ke hujung bumi. Maka orang-orang kapir yang mendengar itupun bersuka citalah sambil memuliakan firman Allah, dan seberapa banyak orang yang ditentukan bagi hidup yang  kekal itu juga percayalah. Maka dimashurkanlah firman Tuhan di seluruh jajahan itu.”  -- Kisah Rasul-Rasul 13 : 46 - 49.

 

          Di tanah orang-orang kapirpun Sidang Tuhan tidak luput dari pengejaran naga itu. Namun sebagaimana yang telah dinubuatkan, maka  perempuan itu sebagai GEREJA akan dipelihara selama tiga setengah masa, atau tiga setengah tahun nubuatan, atau 1260 hari nubuatan, atau 1260 tahun sejarah dunia semenjak dari tahun 538 sampai tahun 1798  yang lalu. Itulah zaman kegelapan agama (the dark ages of religion) selama masa kekuasaan Paus dan Gereja Romawinya yang terkenal itu. Walaupun selama masa itu hukum yang berkenan dengan Hari Sabat Tuhan yang suci telah diganti dengan Hari Minggu, dan walaupun semua penguasa Gereja sudah tidak lagi menghargai dan menghormati Sabat Tuhan yang suci, namun sesuai kata-kata nubuatan dari Yahya itu juga, perempuan itu masih terus dipelihara. Itu berarti  selama masa  1260 tahun itu  kebenaran perihal Sabat Tuhan Allah dan kebenaran perihal  kaabah kesucian sorga (the Sabbath Truth and the Sanctruary Truth) masih tetap dipertahankan secara diam-diam oleh sebagian kecil umat Kristen yang teraniaya itu, sampai kemudian kedua kebenaran yang terpenting itu kembali diangkat ke permukaan di dalam Sidang Jemaat Laodikea di akhir zaman.  Kemudian daripada itu Sidang Tuhan akan kembali melebarkan sayapnya kemana-mana sampai ke seluruh hujung dunia. 

 

          Sayap adalah lambang dari alat transportasi yang dapat membawa perempuan itu kemana-mana sampai ke semua tujuannya. Sayap itulah yang telah membawa perempuan itu semenjak dari kejadian dunia yang lalu sampai ke kota suci dari Jerusalem Baru yang akan datang.


       Menyemburkan Air Untuk Menghanyutkan Perempuan Itu Dari Belakangnya

 

          Maka ular itu menyemburkan air bagaikan suatu air bah keluar dari mulutnya dari belakang perempuan itu, supaya ia dihanyutkan oleh air bah itu.” – Wahyu 12 :  15.

         

           Perlu diketahui bahwa ular atau Setan mempunyai banyak cara untuk membinasakan GEREJA Tuhan Allah. Cara-cara yang telah digunakannya  sejak dari Jesus meninggalkan Sidang Jemaat-Nya di zaman rasul-rasul dahulu ialah dengan cara aniaya yang sangat kejam. Setan mengira bahwa dengan berbagai kekejamannya itu GEREJA Tuhan Allah akan dapat dihapuskan dari muka bumi ini. Tetapi setelah disaksikannya sendiri  bagaimana banyaknya umat Allah yang begitu setia mempertahankan iman mereka sampai kepada maut di bawah berbagai penindasan dari kekuasaan Paus dan Gereja Romawinya, maka Setan kemudian menggantikan siasatnya dengan suatu cara yang baru, yaitu menyemburkan air dari dalam mulutnya dari belakang perempuan itu untuk menghanyutkan dia oleh air bah semburan Setan itu.

 

          Kita seharusnya dapat sepenuhnya memahami apa yang dimaksud dengan air semburan dari ular naga itu, agar kita sendiri tidak mudah dihanyutkannya. Air semburan naga itu tentunya tidak lagi tampak mengerikan seperti halnya dengan berbagai aniaya dari masa-masa sebelumnya. Bahkan tidak lagi menyakiti dan menyengsarakan bagi para pengikut Kristus. Bahkan semburan itu sendiri tampaknya sepintas lalu sangat menyegarkan dan menyenangkan. Apakah sebenarnya yang dimaksud  dengan semburan air dari mulut naga itu ?

 

          Dari Wahyu 12 : 14 dan 15 dapat kita saksikan bahwa sepanjang perjalanan perempuan itu menuju ke padang belantara Setan telah menyemburkan air seperti banjir dari mulutnya dari b e l a k a n g perempuan itu. Ini berarti sebelum sampai pada permulaan periode sejarah dari 1260 tahun itu Setan sudah terlebih dulu menyemburkan airnya  mengikuti perempuan itu dari belakangnya.

 

          Peristiwa sejarah penting yang telah menimpa GEREJA Tuhan  menjelang tahun 538 ialah adanya peraturan wajib Kristenisasi terhadap orang-orang kapir yang telah dikeluarkan oleh kaizar Roma Constantine the Great dalam abad ke-4.  Sejarah menceriterakan bahwa walaupun kaizar Constantine the Great sendiri belum pernah dibaptis ke dalam  sesuatu Gereja Kristen  di waktu itu, namun ia tanpa ragu-ragu telah menganggap dirinya sebagai seorang Kristen, sehingga ia telah banyak memainkan peranannya dalam banyak permasalahan GEREJA di waktu itu. Demikianlah dapat kita saksikan bagaimana Setan telah menyemburkan air kepada perempuan itu, artinya bagaimana Setan telah memasukkan ke dalam GEREJA Tuhan penguasa-penguasa politik serta orang-orang kapir, yang tanpa didahului oleh sesuatu pertobatan telah dibaptis menjadi anggota-anggota GEREJA Kristen, yang sebenarnya  hanya dalam rupa saja. Jumlah umat Kristen dalam abad ke-4 di bawah kekuasaan kaizar Constantine the Great itu telah meningkat dengan demikian cepatnya, sehingga tampaknya seolah-olah GEREJA  Tuhan mengalami sesuatu penyegaran yang sangat menyenangkan. Sebuah kutipan sejarah dari tulisan Tuan GIBBON mengenai peristiwa-peristiwa  dalam abad ke-4  itu  dapat diikuti sebagai berikut  :

 

          “Dengan beberapa keputusan toleransi, maka ia (kaizar Constantine) telah menyingkirkan beberapa ketentuan sementara yang tidak menguntungkan, yang sampai pada waktu itu telah menghalangi kemajuan-kemajuan kekristenan; maka pendeta-pendetanya yang bergiat dan banyak itu telah memperoleh ijin kebebasan mereka, yaitu suatu dorongan kebebasan untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran sehat yang diungkapkan oleh setiap argumentasi yang dapat mempengaruhi pemikiran atau kesetiaan beragama umat manusia. Keseimbangan dari kedua agama (Kristen dan Kekapiran) itu berlangsung hanya sementara. Kota-kota yang menunjukkan semangat kemajuannya oleh merusakkan secara sukarela tempat-tempat ibadah (kekapiran) mereka telah memperoleh penghargaan dengan hak-hak istimewa kota, serta dihadiahi dengan hadiah-hadiah yang bersifat pemberian resmi yang populer ................. Keselamatan dari rakyat  biasa diperoleh dengan jalan pembelian dengan pembayaran yang murah, yang sekiranya benar bahwa dalam setahun 12.000 orang telah dibaptis  di kota Roma, belum terhitung sejumlah besar wanita dan anak-anak, dan bahwa sebuah baju putih berikut 20 keping emas telah dijanjikan  oleh kaizar kepada setiap orang  yang bertobat.  Inilah undang-undang  dari Constantine yang memberikan kebebasan kepada semua budak yang akan memeluk agama Kristen.” --- Gibbon’s  Rome, vol. 2, pp. 273, 274.

 

          Jelaslah bahwa semburan air yang keluar dari mulut naga itu, tak dapat tiada melambangkan kekapiran yang telah dimasukkan ke dalam Sidang Jemaat Tuhan Allah dengan cara membaptiskan orang-orang yang belum atau belum sepenuhnya bertobat. Kekapiran yang telah dimasukkan ke dalam Sidang Jemaat itu adalah suatu cara  yang telah digunakan Setan bukan hanya dalam periode sejarah abad ke-4  itu saja, melainkan juga sampai kepada hari ini, bahkan masih akan terus digunakannya sampai kelak tiba saatnya bumi akan menolong perempuan itu menelan semua air bah yang telah keluar dari mulut naga itu.  (Ayat 16).

 

          Apa yang telah dinubuatkan oleh Yahya dengan semburan air yang telah keluar dari  mulut naga itu, sesungguhnya  s a m a  s a j a halnya dengan apa yang telah diucapkan Jesus dalam perumpamaan-Nya mengenai musuh yang telah menabur benih lalang di antara gandum dari ladang seorang  penabur yang baik. Bacalah  Matius 13 :  24 - 30.  Hamba Tuhan menuliskannya di dalam ROH NUBUATAN sebagai berikut :

 

          Sementara Tuhan membawa masuk ke dalam Sidang Jemaat orang-orang yang sungguh-sungguh bertobat, maka Setan juga pada waktu yang sama memasukkan orang-orang yang tidak bertobat ke dalam persekutuannya. Sementara Kristus menaburkan benih-benih yang baik, maka Setanpun menaburkan benih-benih lalang. Ada dua pengaruh yang saling bertentangan yang terus berusaha terhadap anggota-anggota GEREJA. Pengaruh yang satu sedang bekerja bagi penyucian GEREJA, sementara  yang satunya  berusaha  untuk membuat umat Allah menyeleweng.”  --- Testimonies to Ministers and Gospel Workers, p. 46. 

 

          T e r l a l u   b a n y a k  pekerjaan yang terburu-buru  yang telah dilakukan  dalam memasukkan nama-nama a n g g o t a  b a r u ke dalam pendaftaran  Sidang. Kejelekan-kejelekan yang serius kini  tampak pada sifat beberapa orang yang telah menggabungkan diri dengan Sidang.  Mereka yang telah menerima orang-orang ini mengatakan : ‘Kami akan pertama-tama memasukkan mereka ke dalam Sidang dan selanjutnya  baharu mereformasikan kehidupan mereka.’ Tetapi ini adalah tidak benar. Usaha yang pertama harus dilakukan ialah usaha mereformasikan. ......... Jangan membiarkan mereka itu bergabung  bersama umat Allah dalam persekutuan Sidang sebelum mereka dapat menunjukkan bukti-bukti nyata tentang adanya Roh Allah yang bekerja di dalam hati mereka. Banyak nama yang terdaftar pada buku-buku Sidang adalah b u k a n orang-orang Kristen.” --- E.G.W. Review and Herald, May 21, 1901.

 

          Tuhan Allah sekarang tidak bekerja untuk membawa b a n y a k  j i- w a ke dalam kebenaran-Nya karena adanya anggota-anggota  GEREJA yang b e l u m  p e r n a h  bertobat, dan mereka  yang pernah bertobat tetapi sudah murtad kembali.” --- Testimonies, vol. 6, p. 371.

 

          Mereka yang pernah bertobat tetapi sudah murtad kembali, ialah orang-orang yang telah dihanyutkan oleh air semburan dari naga itu, yang terbukti sampai kepada hari ini masih terus menyemburkan air bahnya itu di dalam  gereja-gereja kita.

 

Pembersihan Sidang Jemaat Laodikea

                  

          Tetapi bumi akan menolong perempuan itu dengan mengangakan mulutnya lalu menelan air bah yang telah disemburkan oleh naga itu dari dalam mulutnya.” – Wahyu  12  :  16.

 

          Oleh karena nubuatan  penyemburan  air dari mulut naga itu  adalah   s a m a  dengan  perumpamaan Jesus perihal penaburan benih lalang  yang dilakukan oleh musuh dari Penabur yang baik itu, maka kegenapan dari nubuatan Wahyu 12 : 16 itupun tak dapat tiada akan s a m a dengan kegenapan dari perumpamaan Jesus pada Matius 13  :  30 yang berbunyi:  Biarkanlah keduanya itu betumbuh bersama-sama sampai kepada musim menuai. Pada masa menuai itu Aku akan mengatakan kepada orang yang menuai itu : ‘Kumpulkanlah lalang-lalang itu dahulu, dan ikatkanlah dia berberkas-berkas untuk dibakar, tetapi gandumnya itu supaya dibawa masuk ke dalam lumbung-Ku.”

 

          Apabila air semburan naga itu atau lalang-lalang taburan penabur yang jahat itu ditelan oleh bumi ataupun dibakar, maka kita tentunya akan menyaksikan Sidang Jemaat Laodikea mencapai kesuciannya yang  didambakan. Sebab apa ? Karena pada saat itulah baharu semua kekapiran yang dilambangkan oleh air semburan naga ataupun lalang-lalang taburan  penabur yang jahat  itu akan kelak disingkirkan keluar dari GEREJA Tuhan Allah di dunia ini. ROH NUBUATAN  kembali menegaskan :

 

          Sementara pemeriksaan pengadilan masih berlangsung di dalam sorga, yaitu sementara dosa orang-orang percaya yang bertobat disingkirkan dari Tempat Yang Maha Suci, maka akan ada suatu pekerjaan pembersihan khusus (a special work of purification), yaitu pembuangan dosa dari antara umat Allah di dunia ini.” – The Great Controversy, p. 425. 

 

          “Tetapi hari-hari penyucian GEREJA itu sedang datang dengan  cepatnya. Tuhan Allah akan  memiliki  suatu  u m a t  yang  s u c i  dan  b e- n a r.”  -- Testimonies, vol. 5, p. 80.

 

          “Masa penuaian itu akan sepenuhnya membedakan sifat-sifat dari kedua golongan itu yang telah dipisahkan oleh lambang lalang dan gandum. Pekerjaan pemisahan itu diserahkan kepada malaikat-malaikat Allah, dan bukan dipercayakan ke dalam tangan seseorangpun.” --- Testimonies to Ministers, p. 47.

 

           Sesudah GEREJA Tuhan Allah dibersihkan dan mencapai standard  kesuciannya yang patut, maka baharulah genap kata-kata hamba Tuhan berikut ini di dalam  ROH NUBUATAN.

 

          “Mereka yang terlemah dan ragu-ragu di dalam Sidang Jemaat  akan kelak jadi seperti Daud --- rela melaksanakan serta berani. ...... Maka kelak Sidang Jemaat Kristus akan tampak indah seperti bulan, cerah bagaikan matahari, serta hebat bagaikan bala tentara dengan panji-panjinya.“ – Testimonies, vol. 5, pp. 81, 82.  Ia akan maju terus  ke seluruh dunia dengan kemenangan serta untuk memenangkan.” --- Prophets and Kings, p. 725.

 

          Setelah Gereja Tuhan kita disucikan, maka mereka yang luput itu  tidak langsung dibawa ke sorga. Sekali-kali tidak.  Mereka itu masih harus maju terus ke seluruh dunia dalam kemenangannya dan untuk memenangkan lagi jiwa-jiwa yang masih harus diselamatkan dari luar  Sidang Jemaat Laodikea. Injil Kerajaan masih harus diberitakan lagi sampai ke seluruh pelosok dunia ini, sampai kepada akhir masa kasihan yang akan datang.

 

Serangan Setan Yang Terakhir Menimbulkan

Masa Kesusahan Besar

[Wahyu 12  :  17]

 

         “Maka naiklah amarah naga akan perempuan itu, lalu pergi memerangi y a n g  t e r s i s a  daripada benihnya  (the remnant of her seed), yaitu mereka yang menurut hukum-hukum Allah dan berpegang pada Kesaksian Jesus Kristus“ ---- Wahyu 12  :  17. “Sembahlah Allah ;  karena kesaksian Jesus Kristus itu ialah roh nubuatan.“ – Wahyu  19 : 10 (Bag. Akhir).

 

          Perempuan  itu  =   GEREJA  Tuhan  atau Sidang Jemaat ;  anaknya =   Jesus Kristus; benihnya = orang-orang Kristen; maka yang tersisa daripada benih perempuan itu, tak dapat tiada dimaksudkan kepada orang-orang Kristen yang terakhir yang hidup dalam sisa masa kasihan (the time of probation) yang akan datang, sebelum Jesus mengakhiri tugas keimmamatan-Nya di dalam kaabah kesucian sorga. Ini hendaknya dapat dipahami, sebab sesudah Jesus mengakhiri tugas keimmamatan-Nya di dalam sorga, setelah Ia mengucapkan : “Sudah Genap !  Barangsiapa yang kudus biarlah ia bertambah kudus, barangsiapa yang jahat biarlah ia bertambah jahat, dan barangsiapa yang cemar, biarlah ia bertambah cemar,” semua umat Kristen yang bertobat pada saat itu sudah akan terkumpul di dalam Kerajaan di Palestina. Ini berarti Setan tidak lagi dapat menyentuh mereka di sana. Jadi, Setan masih dapat melampiaskan amarahnya kepada mereka itu selagi  mereka  masih tercerai berai di sana-sini,  sebelum  masa kasihan atau kesempatan  pertobatan bagi mereka itu berakhir.

 

          Perlu sekali diketahui, bahwa proses pembersihan Sidang Jemaat Laodikea yang akan datang telah dinubuatkan dalam berbagai versi. Bahkan juga telah diperlihatkan dalam beberapa perumpamaan Jesus di dalam Wasiat Baru.

         

           [1]  Yahya Pewahyu menubuatkannya di dalam Wahyu 12 : 16, bahwa  semua orang jahat di dalam Sidang Jemaat Laodikea yang dilambangkan oleh air-air semburan naga itu  akan ditelan oleh bumi.

 

          [2]  Nabi Jesaya menubuatkannya di dalam Jesaya 66 : 16, 17, bahwa oleh api dan pedang-Nya Tuhan akan membersihkan Sidang Jemaat-Nya.

 

         [3] Nabi Yehezkiel pada bukunya pasal 9 menubuatkan perihal bagaimana Sidang Jemaat Tuhan Allah di akhir dunia ini akan dibersihkan  melalui sesuatu pembataian massal dari malaikat-malaikat sorga.

 

          [4]  Nabi Maleakhi justru bertanya : Siapakah yang dapat tahan berdiri pada hari pembersihan Kaabah yang akan datang ? Karena pembersihan itu akan dilakukan bagaikan dengan sabun pemutih atau dengan api pembersih perak dan emas.

 

         [5]  Dalam perumpamaan Jesus pembersihan Sidang Jemaat itu diumpamakan dengan penuaian, yang akan memisahkan gandum daripada lalang. “Pekerjaan pemisahan itu diserahkan kepada malaikat-malaikat Allah, dan bukan dipercayakan ke dalam tangan seorangpun.”—Testimonies to Ministers, p. 47.

 

          Karena hanya ada  s a t u  sejarah kehidupan umat Allah di bumi ini yang telah diramalkan oleh begitu banyak nubuatan dan berbagai perumpamaan Jesus, maka dapatlah kita saksikan bagaimana nubuatan-nubuatan itu serta juga perumpamaan-perumpamaan Jesus itu telah saling melengkapi dalam mengungkapkan nasib Saudara dan saya di akhir dunia sekarang ini.      

 

          Mereka yang luput dari proses pembersihan Sidang Jemaat yang akan datang akan sama dengan “buah-buah pertama” dari hasil penuaian yang pertama di dalam  Sidang  Jemaat Laodikea. Mereka itulah yang akan dikenal sebagai 144.000 Israel akhir zaman yang akan datang.  Dari Wahyu 7 : 1 - 4 dapat diketahui, bahwa segera setelah mereka itu memperoleh bubuhan meterai tanda kelepasannya, maka angin-angin yang melambangkan amarah orang-orang jahat akan dilepaskan. Amarah mereka itulah yang akan dilampiaskan kepada 144.000 anak-anak keturunan Jakub itu, sehingga akan menimbulkan suatu masa kesusahan  besar, yang sedemikian itu belum pernah ada sebelumnya.  Namun sesuai yang telah dinubuatkan pada Daniel 12 : 1, mereka semuanya akan diluputkan, karena nama-nama mereka itu sudah tercatat di dalam buku kehidupan di dalam kaabah kesucian sorga.

         

         Karena hanya kepada anak-anak keturunan Jakub yang akan mengalami kesusahan besar itu, maka orang-orang jahat yang telah melampiaskan amarahnya itu tak dapat tiada melambangkan anak-anak keturunan Esau dari dalam Sidang Jemaat Laodikea yang sama. Dengan demikian, maka segera setelah mereka 144.000 itu dibawa pergi untuk kemudian berdiri bersama Anak Domba di gunung Sion (Wahyu 14 : 1),  maka segera itu pula Sidang Jemaat Laodikea akan dibersihkan. Semua  orang jahat  yang selama ini mewakili naga itu di dalam gereja-gereja kita akan habis dibantai.

 

          Demikian itulah yang akan menaikkan amarah naga akan perempuan itu, lalu pergilah ia memerangi yang tersisa daripada  benihnya, yaitu “buah-buah kedua” umat Kristen yang  akan ditobatkan dari  luar Sidang Jemaat Laodikea yang akan datang selama sisa masa pertobatan yang masih ada. Itulah masa kesusahan besar yang akan datang, yang masih harus dihadapi oleh semua orang yang akan dipanggil dari  luar.  Sekalipun demikian melalui ROH NUBUATAN Tuhan Allah telah berjanji akan kelak meluputkan semua umat-Nya yang bertobat:

 

         Ujian-ujian yang menakutkan serta cobaan-cobaan sedang menunggui umat Allah. Semangat perang sedang menghasut segala bangsa dari hujung bumi ke hujung bumi. Tetapi pada puncak dari masa kesusahan itu yang akan datang --- suatu masa kesusahan yang sedemikian itu belum pernah jadi semenjak dari berdirinya sesuatu bangsa ---- umat Allah akan tetap berdiri teguh. Setan dan malaikat-malaikatnya tidak dapat membinasakan mereka, karena malaikat-malaikat yang lebih berkuasa akan melindunginya.” --- 2 Selected Messages, p. 55.

 

          Hanya tinggal lagi dua penuaian yang masih tertunda di depan, demikian pula  masih  ada lagi dua masa kesusahan besar yang masih akan menghadang di depan. Dari penuaian pertama yang akan berlangsung di dalam Sidang Jemaat Laodikea, akan terkumpul hanya 144.000 buah-buah pertama orang-orang hidup. Dari penuaian kedua yang akan berlangsung di luar Sidang Jemaat Laodikea, baharu akan terhimpun buah-buah kedua orang-orang hidup, yang tak terhitung jumlahnya bagaikan bintang-bintang di langit dan seperti pasir di pantai laut banyaknya. Demikian itulah baharu akan genap janji Tuhan Allah kepada Ibrahim, bahwa keturunannya kelak tak terhitung jumlahnya bagaikan bintang-bintang di langit dan seperti pasir di pantai laut banyaknya.

 

                                                         

*  *  *