Diselamatkan oleh Karunia,

Dibenarkan oleh Iman,

Disucikan oleh Pembenaran

Kristus, baharu dimahkotai

dengan Hidup Kekal

 

Ellen G. White :

"Jesus menyelamatkan manusia bukan dalam dosa,

melainkan d a r i dosa, maka barangsiapa yang mengasihi

Dia, hendaklah menunjukkan kasihnya itu dalam p e n u r u-

t a n." - Review and Herald, vol. 6, p. 45.

* *

 

Pokok pembicaraan di atas ini sesungguhnya tidak banyak lagi dipahami oleh umat Kristen di akhir dunia sekarang ini. Bahkan banyak orang telah memanipulasikan permasalahan “Diselamatkan oleh Karunia” itu sedemikian rupa, sehingga mereka mengira bahwa asalkan percaya dan berdoa yang tidak berkeputusan, maka Tuhan Allah sudah akan mengaruniakan selamat kepada setiap orang untuk dibawa ke sorga.

Diselamatkan oleh Karunia (saved by grace), dibenarkan oleh Iman (Justified by faith), disucikan oleh pembenaran Kristus (sanctified by Christ's righteousness), dan dimahkotai dengan hidup kekal, adalah suatu proses panjang yang berkaitan, yang sama sekali tidak bisa dipisahkan satu daripada lainnya. Urutannya itupun sudah tetap dan pasti, sehingga tidak lagi dapat diputar-balikkan tempatnya. Oleh sebab itu, dalam membicarakan permasalahan itu kita supaya selalu menempatkan Hukum Allah yang menggambarkan tabiat-Nya itu di atas segala-galanya, yang harus lebih dulu dihayati di bumi ini sebelum seseorang dapat dibawa ke sorga. Tegasnya, pertobatan yang menyeluruh harus terlebih dulu dipatuhi baharu dapat kita diselamatkan ke sorga. Di dalam ROH NUBUATAN hamba Tuhan Nyonya Ellen G. White menuliskannya sebagai berikut : "Jesus menyelamatkan manusia bukan dalamdosa, melainkan d a r i dosa, maka barangsiapa yang mengasihi D i a, hendaklah menunjukkan kasihnya itu dalam p e -nurutan." -- Review and Herald, vol. 6, p. 45.

 

Diselamatkan oleh Karunia

Rasul Paulus mengatakan : "Dan jika dari karunia, maka iaitu bukan lagi oleh karena perbuatan, sebab jika tidak demikian karunia itu bukan lagi karunia. Tetapi jika iaitu karena sebab perbuatan, maka ia itu bukan lagi karunia, sebab jika tidak demikian perbuatan bukan lagi perbuatan." Roma 11: 6.

Rasul itu menegaskan, bahwa diselamatkan oleh karunia benar-benar merupakan suatu pemberian atau hadiah dari Tuhan Allah kepada seseorang, tanpa lebih dulu adanya perbuatan atau kepatuhan kepada sesuatu peraturan Hukum-Nya, dari pihak manusia yang bersangkutan. Tegasnya, tanpa pertobatanpun orang dapat saja diselamatkan oleh karunia Tuhan. Tetapi diselamatkan kemana ?

Tentu saja diselamatkan ke dalam kerajaan sorga. Tetapi kerajaan sorga yang manakah itu ? Orang yang belum atau belum sepenuhnya bertobat akan pertama sekali diselamatkan ke dalam Sidang Jemaat milik Tuhan Allah di bumi ini, yaitu kerajaan sorga, yang mewakili Tuhan Allah dan kerajaan-Nya di sorga dan di seluruh angkasa raya. Diselamatkan oleh karunia adalah sama dengan “tidak mati atau binasa, melainkan terpanggil..” Orang berdosa adalah bagaikan domba yang sesat. Oleh berbagai takdir Tuhan Allah telah memanggil kita masuk ke dalam Sidang Jemaat-Nya di bumi ini, bukan karena sebab pertobatan atau karena kebaikan pribadi kita, melainkan karena pilihan kasih-Nya sendiri. Tuhan Allah yang maha mengetahui sampai kepada jumlah helai rambut manusia pada kepalanya itu, telah memanggil kita untuk menjadi warga kerajaan-Nya dimulai di dalam Sidang Jemaat-Nya di bumi ini.

Khususnya bagi kita umat Masehi Advent Hari Ketujuh, dalam salah satu perumpamaan-Nya di dalam Matius 20, yang membicarakan pengalaman sidang-Nya yang terakhir di akhir dunia sekarang ini, Jesus mengatakan: "Demikianlah yang terakhir akan menjadi yang pertama, dan yang pertama akan menjadi yang terakhir: karena banyak yang terpanggil, tetapi hanya sedikit yang terpilih. " - Matius 20 : 16.

Artinya, oleh Hukum Allah dan Kesaksian Jesus Kristus yang telah berkembang menjadi ROH NUBUATAN itu kita semua akan terpanggil, kita semua akan diselamatkan oleh karunia-Nya, tetapi hanya 144.000 orang saja yang akan terpilih.

Karena Hukum Allah dan Kesaksian Jesus Kristus yang disebut ROH NUBUATAN itu, hanya ditemukan di dalam Sidang Jemaat Laodikea, di dalam Kelas Lima Anak Dara yang bijaksana, maka i m a n yang b e n a r yang berkenan kepada Allah tak akan mungkin dapat ditemukan di luar Sidang Jemaat Laodikea. Terpanggilnya Saudara dan saya ke dalam Sidang Jemaat Laodikea di akhir dunia sekarang ini, adalah bukan untuk begitu saja langsung  dibawa  ke  sorga, melainkan  agar supaya kita lebih dulu membangun dan memiliki i m a n yang membenarkan itu. Untuk memiliki i m a n yang membenarkan itu, maka diperlukan Hukum Allah dan   Kesaksian  Jesus  atau   ROH  NUBUATAN   sebagai  landasannya.  Itulah  sebabnya,   maka  i man yang membenarkan itu hanya dapat dibangun di dalam sidang jemaat Laodikea, khususnya di dalam kelas lima anak dara yang bijaksana itu, karena hanya disanalah Hukum Allah dan ROH NUBUATAN itu diajarkan kepada kita..

Penyelamatan oleh Karunia

berpangkal tolak dari Jesus sendiri

“Adam mendengar pada kata-kata dari si penggoda, lalu tunduk kepada hasutannya, dan jatuh berdosa. Mengapakah hukuman maut tidak segera ditegakkan pada perkaranya? ….. Karena suatu tebusan sudah ditemukan. Putera Allah yang tunggal itu secara suka rela akan memikul sendiri dosa manusia dan membuatkan suatu tebusan bagi bangsa manusia yang jatuh. Tidak mungkin ada pengampunan bagi dosa kalau saja penebusan ini tidak dibuat.”Review and Herald, April 23, 1901.

Dosa ialah pelanggaran hukum, dan upah dosa ialah maut Maut yang dimaksud ialah kematian yang kekal, bukan kematian sementara sebagaimana yang dialami manusia selama ini. Segera setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, maka secara hukum keduanya sudah harus mengalami maut yang kekal di bumi ini. Namun, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga IA telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal itu, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal. " - Yahya 3:16. Inilah penyelamatan oleh karunia yang terbesar yang dianugerahkan kepada umat manusia, semenjak dari pasangan manusia yang pertama mendiami planet bumi ini. Karena memperoleh penyelamatan oleh karunia Tuhan Allah itulah, maka keduanya telah luput dari kematian yang kekal.

Adam dan Hawa adalah orang-orang yang pertama sekali diselamatkan oleh karunia, artinya kepada mereka telah diberi kesempatan hidup untuk bertobat. Mereka diwajibkan untuk kembali percaya kepada Jesus sebagai Juruselamatnya, dan untuk itu mereka wajib memperlihatkan imannya itu dengan cara mempersembahkan korban di atas medzbah. Jadi, gantinya mereka dikembalikan ke dalam Eden sesudah penyelamatannya oleh karunia, mereka justru telah diusir keluar sampai kepada akhir hayatnya, dan bahkan Eden itu sendiri kemudian telah diangkat keluar dari bumi ini. Hamba Tuhan mengatakan :

"Sesudah Adam dan Hawa berdosa mereka tidak lagi tinggal di Eden. Mereka secara sungguh-sungguh telah memohon agar mereka dapat kembali tinggal di rumahnya itu sewaktu mereka masih suci dan gembira, Mereka mengakui bahwa mereka telah merampas semua hak bagi tempat tinggal yang berbahagia itu, namun mereka sendiri berjanji bagi masa depannya, bahwa mereka akan memberikan kepatuhannya yang ketat kepada Allah. Tetapi kepada mereka diberitahukan bahwa keadaan mereka telah menjadi lemah karena dosa, mereka telah mengecilkan kekuatannya untuk melawan kejahatan, dan telah membuka jalan bagi Setan untuk dengan cepat memperoleh jalan masuk ke mereka. Dalam keadaan mereka yang tidak berdosa mereka telah tunduk kepada godaan; maka kini dalam keadaan sadar akan kesalahannya, mereka sudah akan lebih lemah untuk mempertahankan pendiriannya.

 

"Dalam kesederhanaan dan kekecewaan yang tak terbilang mereka terpaksa mengucapkan selamat tinggal kepada rumah tinggal mereka yang indah menawan itu, lalu pergi keluar untuk tinggal di bumi, dimana kutuk dosa berada. Suasana yang tadinya begitu menyenangkan dengan suhu yang merata di sana sini, kini ternyata sangat berubah-ubah, maka Tuhan dalam kemurahan-Nya yang begitu besar telah memberikan kepada mereka pakaian yang terbuat dari kulit binatang bagi pelindung dari udara panas dan dingin yang sangat menyengat.

"Sementara mereka menyaksikan kembang-kembang yang merunduk dan daun-daunan yang runtuh pertama sekali memperlihatkan tanda-tanda membusuk, maka Adam dan rekannya lalu menangis dan meratap sejadi-jadinya, jauh melebihi tangisan orang-orang di waktu ini yang meratapi kekasihnya yang meninggal dunia. Kematian kembang-kembang yang lemah dan halus itu benar-benar merupakan penyebab kesedihan yang dalam; tetapi setelah pohon-pohon kayu yang bagus-bagus melepaskan daun-daunan mereka, maka gambaran itu secara jelas masuk ke dalam pikiran kenyataan yang tegas, bahwa kematian akan menjadi bagian dari setiap perkara yang hid up.

"Taman Eden itu tetap berada di bumi lama sesudah manusia menjadi orang yang terbuang keluar daripada lorong-lorongnya yang menyenangkan itu. Manusia yang berdosa cukup lama diijinkan untuk memandang pada rumah tempat tinggal orang-orang yang tidak berdosa itu, semua jalan masuknya dihalangi hanya oleh malaikat-malaikat penjaga. Pada pintu gerbang Firdaus yang dijaga oleh malaikat cherubim di sana kemuliaan Ilahi dinyatakan. Ke sanalah Adam dan anak-anaknya datang untuk menyembah Allah. Di sanalah mereka memperbaharui kembali janji-janji setianya kepada h u k u m, yang karena dilanggarnya telah mengusir keluar mereka dari Eden. Sewaktu gelombang kejahatan menyebar kesana sini menutupi dunia, dan kejahatan manusia sampai kepada penentuan akan kebinasaan mereka oleh sesuatu air bah, maka tangan yang telah menanamkan Eden itu kemudian menariknya kembali dari bumi. Namun pada pemulihan yang terakhir, apabila kelak akan ada "suatu langit yang baru dan sebuah bumi yang baru " (Wahyu 21 : 1), maka iaitu akan dikembalikan lagi dalam keadaan yang lebih mulia dihiasi daripada pada mula pertama yang lalu." — Patriarchs and Prophets, pp. 61 - 62.

Kembali kepada zaman sesudah air bah. Setelah semua umat manusia keturunan dari Nuh kembali mendurhaka kepada Allah dengan cara membangun menara Babil yang megah itu, maka Tuhan Allah telah mengacaukan bahasa mereka menjadi begitu banyak bahasa, bangsa-bangsa, dan suku-suku bangsa. Akibatnya pembangunan menara yang megah itu terhenti, dan semua bangsa, suku-suku bangsa, dan bahasa-bahasa itu dengan sendirinya terdesak untuk bercerai berai ke seluruh muka bumi. Lalu terjadilah berbagai pertikaian di antara bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa sampai kepada hari ini. Untuk meneruskan peribadatan yang benar dari Nuh dan keluarganya, maka Tuhan Allah telah memilih bangsa Iberani untuk mewakili-Nya di bumi ini. Demikianlah sejak itu, maka bangsa Iberani sebagai suatu bangsa pilihan Allah, mereka telah diberkahi dengan penyelamatan oleh karunia, bukan untuk langsung diselamatkan ke sorga, melainkan untuk memperoleh manfaat yang langsung dari munculnya nabi-nabi Tuhan Allah dan rasul-rasul Jesus dari dalam bangsa mereka sendiri, yang akan membawakan kepada mereka maupun kepada seluruh penduduk bumi berbagai kebenaran firman tertulis yang menyelamatkan itu. Dan hanya dengan demikian itulah mereka telah dapat membangun imannya. Namun karena akibat dari pendurhakaannya yang terus menerus kepada Allah, maka statusnya sebagai bangsa pilihan akhirnya berakhir dalam tahun 34 TM yang lalu. Oleh sebab itu, maka semenjak dari saat itu, untuk menjadi umat Allah, setiap orang perlu memperoleh panggilannya sendiri-sendiri. Artinya, setiap orang akan diselamatkan oleh karunia sendiri-sendiri.

 

Sebagai umat akhir zaman, masing-masing kita telah diselamatkan oleh karunia ke dalam kerajaan sorga atau sidang jemaat Laodikea di akhir zaman ini. Melalui takdir Ilahi kita telah sampai di dalam Gereja ini sesuai pengalaman kita masing-masing. Ada yang melalui perkawinan, ada pula yang melalui persahabatan atau pekerjaan, dan lain sebagainya. Dan di dalam sidang jemaat Laodikea inilah kita wajib membuktikan kepercayaan kita kepada Jesus, bukan hanya dalam ucapan kata-kata yang hampa, melainkan dalam kepatuhan kepada seluruh perangkat hukum-Nya yang tersedia. Jesus mengatakan : "Jika kamu mengasihi Aku, patuhilah semua perintah-Ku. " - Yahya 14 : 15.

Dibenarkan oleh I m a n

Rasul Paulus mengatakan : "K ini i m a n ialah p e r c a y a yang sungguh akan hal perkara-perkara yang diharapkan, dan b u k t i kenyataan dari hal perkara-perkara yang tidak kelihatan."Iberani 11: 1.

Secara lebih lengkap rasul pilihan Allah itu mengatakan, bahwa oleh iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah suatu korban yang lebih sempurna daripada Kain. Oleh iman Enokh telah diobahkan sehingga ia tidak perlu menyaksikan kematian. Tetapi tanpa iman tidaklah mungkin untuk berkenan kepada-Nya, karena dia yang datang kepada Allah harus percaya bahwa la  ada dan bahwa Ialah pemberi pahala bagi mereka yang mencari-Nya dengan sungguh-sungguh. Oleh iman Nuh yang diberi amaran oleh Allah akan hal perkara-perkara yang belum tampak, telah bertindak dengan ketakutan, mempersiapkan sebuah bahtera bagi penyelamatan rumah tangganya. Oleh iman sewaktu Ibrahim dicobai, ia telah mempersembahkan Ishak. Oleh iman Ishak telah memberi berkat pada Jakub dan Esau akan hal perkara-perkara yang akan datang. Oleh iman, sewaktu Jusup meninggal dunia ia telah memberitahukan akan hal pemindahan bani Israel, dan memberi perintah akan hal tulang-tulangnya. Oleh iman sewaktu Musa lahir ia telah disembunyikan tiga bulan lamanya oleh para orangtuanya. Oleh iman setelah Musa mencapai usia dewasa ia menolak disebut putera dari anak perempuan Phiraun. Oleh iman ia telah menyangkal Mesir tanpa sedikitpun takut akan murka raja. Oleh iman mereka telah berjalan melewati laut merah bagaikan berjalan pada tanah yang kering. Oleh iman semua pagar tembok Jerikho runtuh setelah mereka berjalan mengelilinginya selama tujuh hari. Oleh iman sang pelacur Rahab tidak jadi binasa bersama-sama dengan mereka yang tidak percaya itu, setelah ia menyambut para mata-mata itu dengan damai. (Iberani 11).

Iman pada berbagai contoh di atas telah dibuktikan dalam berbagai perbuatan dan penurutan mereka. Iman tanpa perbuatan adalah kosong. Iman mereka itu ternyata telah dilaksanakan dengan benar dan terbukti berkenan kepada Allah. Ini berarti mereka itu bukan saja percaya dengan sungguh-sungguh, melainkan juga mengerti sepenuhnya akan apa yang telah dipercayainya, sehingga sekaliannya itu telah dilaksanakannya dengan benar. Demikianlah iman yang sebenarnya dalam pengertian Alkitab, yaitu percaya yang diikuti dengan perbuatan. Bagi kita di akhir dunia sekarang ini Tuhan Allah berfirman :

"Tugas bagi akhir zaman ini adalah suatu tugas pengabaran Injil. Mengemukakan kebenaran mulai dari huruf pertama urut-urutan alphabetnya ( A ) sampai kepada huruf terakhirnya ( Z ) berarti usaha penginjilan." — Counsels on Health, p. 300.

 

"Pada mula pertama ada Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itulah Allah. Dan Firman itu sudah menjadi manusia dan tinggal di antara ....."-Yahya 1: 1, 14.

"Di dalam buku Wahyu semua buku Alkitab bertemu dan berakhir. Di sini terdapat pelengkap dari buku Daniel itu. Yang satu sebuah nubuatan, yang lainnya sebuah wahyu.." - The Acts of the Apostles, p. 585.

"Berbahagialah d i a yang membaca, dan mereka yang mendengar segala perkataan dari nubuatan ini, dan mematuhi semua perkara yang terkandung di dalamnya, karena masa itu sudah dekat. " - Wahyu 1 : 3.

"Ada banyak orang yang mengaku memiliki I m a n, tetapi bagaimanakah dapat kita ketahui bahwa imannya itu murni ? Tuhan telah memberikan kepada kita suatu alat penguji oleh mana kita dapat menguji pengakuan kita maupun pengakuan dari orang-orang lain. Nabi itu mengatakan : 'Akan hukum Torat dan akan Kesaksian jika mereka berkata-kata tidak sesuai dengan perkataan ini, maka itu disebabkan karena tidak terdapat t e r a n g dalam mereka. ' "— EGW. Review and Herald , vol. 2 , p. 513.

Artinya, Injil yang berlaku bagi akhir zaman sekarang ini ialah seluruh Injil yang dikenal semenjak dari mula pertama sampai dengan semua perkataan nubuatan dari buku Wahyu. Sekaliannya itulah yang akan ditemukan pengertiannya di dalam Kesaksian Jesus Kristus atau ROH NUBUATAN. Berbahagialah Saudara dan saya yang mau membacanya dan  mendengarnya sampai m e n g e r t i, lalu  mema t u h i n y a. Ini berarti berbahagialah kita yang beriman pada seluruh Firman itu.

 

I m a n yang sedemikian inilah yang dapat dibangun h a n y a di dalam Sidang Jemaat Laodikea, khususnya di dalam kelas lima anak dara yang bijaksana itu, karena hanya di dalam kelompok mereka itulah terdapat seluruh kelengkapan Injil dari A ~ sampai — Z. Iman yang sedemikian itulah yang akan mengukuhkan status kita sebagai warga kerajaan sorga di bumi ini, karena sekalipun kita masih tujuh kali jatuh dalam berbagai pelanggaran hukum, kita akan senantiasa bangun kembali. Amzal Solaiman 24 : 16. Untuk kemudian diampuni. Jesaya 1 : 18.

Nuh, Ibrahim, Ishak, Jakub, Jusuf, Musa, bani Israel, dan sang pelacur Rahab telah membuktikan iman mereka itu berkenan kepada Allah, bukan karena mereka pada waktu itu sudah s u c i kondisi kerohaniannya, melainkan karena mereka adalah umat Allah. Ini terbukti karena semua mereka itu kini masih beristirahat di dalam kubur. Kelompok anak-anak dara yang bijaksana di dalam Sidang Jemaat Laodikea itupun masih tergolong orang-orang berdosa. Sekalipun demikian iman mereka itulah yang akan membenarkan mereka di hadapan Allah. Hamba Tuhan mengatakan :

"Pengampunan dan pembenaran adalah satu, dan merupakan masalah yang s a m a. Melalui Iman orang percaya beralih dari statusnya sebagai seorang durhaka, anak dari dosa dan Iblis, kepada status pengikut Jesus Kristus yang setia, bukan karena asal kebaikannya, melainkan karena Kristus menerimanya sebagai anak angkat-Nya. Orang berdosa memperoleh pengampunan dosanya karena dosa-dosa itu dipikul oleh PENGGANTI dan PENJAMIN-nya. " — EGW. SDA Bible Commentary, vol. 7 - A, p. 294.

 

"I m a n yang murni akan dinyatakan dalam perbuatan-perbuatan yang baik, karena perbuatan-perbuatan baik adalah buah-buah dari I m a n. Sebagaimana Allah bekerja dalam hati (pikiran), dan manusia menyerahkan kemauannya kepada Allah sambil bekerja-sama dengan-Nya, maka ia melakukan dalam hidupnya a p a yang Allah kerjakan di dalamnya oleh Roh Suci,sehingga akan terdapat keseragaman di antara maksud hati dan praktik kehidupan. Setiap dosa harus dilawan sebagai hal yang dibenci, yang telah menyalibkan Tuhan kehidupan dan kemuliaan; maka orang percaya harus memiliki pengalaman yang t e - r u s m a j u oleh terus menerus melaksanakan semua pekerjaan Kristus. Adalah oleh terus menerus menyerahkan kemauan oleh penurutan yang berkesinambungan, maka berkat pembenaran oleh iman itu akan dapat dipertahankan." - 1 Selected Messages, p. 397.

 

Disucikan oleh Pembenaran Kristus (Sanctified by Christ's righteousness)

Hamba Tuhan Houteff mengatakan :

''Bahwa masa periode bagi "pembenaran oleh karunia" itu k i n i sudah berlalu; bahwa kita sekarang telah sampai pada masa periode dimana keselamatan kita terletak pada h a n y a mempraktikkan "pembenaran oleh iman", jika kita berharap untuk dihadiahi dengan "pembenaran dari Kristus", lalu dimahkotai dengan hidup kekal. " --Timely Greetings, vol. 2, No. 39 , p. 25.

Keberadaan kita di dalam sidang Tuhan Masehi Advent Hari Ketujuh sekarang ini, membuktikan bahwa kita benar-benar sudah berhasil diselamatkan Jesus oleh karunia-Nya yang besar itu. Jadi, masa "pembenaran oleh karunia" itu sudah berlalu. Kita sekarang telah memasuki masa periode dimana keselamatan kita terletak pada h a n y a mempraktikan "pembenaran oleh iman”, jika kita benar-benar berharap untuk disucikan oleh "pembenaran dari Kristus", lalu dimakotai dengan hidup yang kekal.

Karena keselamatan kita terletak pada h a n y a mempraktikkan "pembenaran oleh iman", maka iman atau percaya dalam pengertian firman Allah sajalah yang harus dianut dengan ketat. Ini berarti iman yang membenarkan itu tak dapat tiada harus berlandaskan pada seluruh Hukum Allah yang berlaku di akhir zaman ini. Seluruh Hukum Allah itulah yang terdiri dari Sepuluh Perintah Torat sebagai Undang-Undang Dasar, dan Kesaksian Jesus Kristus yang telah berkembang menjadi ROH NUBUATAN sebagai undang-undang pelengkapnya. Oleh mempercayai dan mematuhi Sepuluh Perintah Torat itu sesuai peraturan-peraturan pelaksanaannya di dalam ROH NUBUATAN, maka peribadatan kita akan dibenarkan di hadapan Allah. Demikian pula status kita sebagai "orang benar" atau warga kerajaan sorga akan tetap diakui dan dapat dipertahankan di dalam buku kehidupan di dalam kaabah kesucian yang di atas. Dan selanjutnya kita akan memperoleh penyucian oleh pembenaran Kristus.

 

Sekalipun demikian, ini bukan berarti kita sudah akan kebal terhadap kematian. Sebab terbukti semua umat Allah yang beriman, yang sudah memperoleh penyucian oleh pembenaran Kristus di masa lalu masih tetap beristirahat di dalam kubur. Jadi sekalipun seseorang sudah memperoleh penyucian oleh pembenaran Kristus (sanctified by Christ's righteousness), ia baharu akan kebal terhadap kematian setelah terlebih dulu dimakotai dengan hidup kekal.

Ibrahim dikenal sebagai bapa dari semua orang yang beriman. Sekalipun demikian ia sampai kepada hari ini masih tetap beristirahat di dalam kubur. Musa juga dikenal sebagai orang yang paling dikasihi Tuhan. Sekalipun demikian ia diharuskan untuk lebih dulu mengalami maut di bumi ini, baharu kemudian dibangkitkan dan diangkat ke sorga. Musa pernah mati di bumi ini, tetapi b u k a n dalam dosa, sebab ia mati dalam kesucian dari pembenaran Kristus. Tak lama kemudian sesudah itu ia telah dimakotai dengan hidup kekal, lalu dibangkitkan dan dibawa ke sorga. Masih banyak lagi orang-orang beriman dari sejarah yang lalu, yang telah disucikan oleh pembenaran Kristus. Mereka yang telah dimahkotai dengan hidup kekal, mereka itulah yang telah dibangkitkan bersama Jesus pada kebangkitan-Nya yang lalu dalam tahun 31 TM. Dan mereka itu juga yang kini bersama Jesus sedang bertugas di dalam Sidang Pengadilan di dalam kaabah kesucian sorga.

Dalam pembersihan Sidang Jemaat Laodikea yang akan datang, yang dinubuatkan pada Jesaya 66 : 16 - 21, Jehezkiel pasal 9, Wahyu pasal 7, Maleakhi 3 : 2 - 3, dan lain-lain, mereka yang luput itulah yang akan kebal terhadap kematian, sebab mereka itulah yang sudah disucikan oleh pembenaran Kristus dan dimakotai dengan hidup kekal. Hamba Tuhan mengatakan :

"Terutama  pada pekerjaan penghabisan bagi   Sidang (Jemaat Laodikea), dalam masa pemeteraian mereka 144.000  itu, yaitu orang-orang yang akan berdiri dengan tiada bercacad cela (suci) dihadapan tahta Allah ............ Ini dikemukakan dengan tegas sekali dalam ilustrasi yang diberikan oleh nabi i t u (Jehezkiel) mengenai pekerjaan yang terakhir dengan memakai ibarat orang-orang yang masing-masingnya memegang senjata pembantai di dalam tangannya. " - Testimonies, vol. 3, p. 266.

 

"Pemeteraian hamba-hamba Allah ini adalah s a m a dengan yang ditunjukkan kepada nabi Jehezkiel dalam khayal. Yahya juga telah menyaksikan wahyu yang sangat mengejutkan ini. " - Testimonies to Ministerrs, p. 445.

“Tidak seorangpun dari kita akan kelak memperoleh meterai Allah itu sementara tabiat kita masih memiliki satu cacad atau celanya. Adalah terserah kepada kita untuk mengobati semua cacad dalam tabiat kita, menyucikan kaabah jiwa daripada setiap kotoran. Baharulah (Roh Suci) Hujan Akhir itu turun atas kita seperti halnya (Roh Suci) Hujan Awal turun atas murid-murid pada hari Pentakosta yang lalu. " — Testimony Treasures, vol. 2, p. 69.

Artinya, pemeteraian atau pembubuhan tanda kelepasan pada dahi dahi mereka yang 144.000 itu baharu akan terlaksana setelah terlebih dulu mereka itu disucikan oleh pembenaran Kristus. Ini hendaknya dapat dimengerti, sebab tidak seorangpun di bumi ini dapat membuat dirinya suci oleh kemampuannya sendiri. Hanya Tuhan Allah yang berkuasa untuk mengampuni sepenuhnya untuk selanjutnya menyucikan kita oleh pembenaran Kristus, lalu memeteraikan kita dengan tanda kelepasan, yaitu hidup kekal.

 

Kesimpulan

Dari sejarah dunia yang telah dinubuatkan pada buku Wahyu pasal 12 dapat diketahui bahwa umat Allah yang dilambangkan oleh perempuan yang seorang itu telah melarikan diri ke padang belantara. Di sanalah telah dipelihara Tuhan akan dia 1260 tahun lamanya semenjak dari tahun 538. Kehidupan umat Allah di zaman itu benar-benar merana, sebab di samping Alkitab telah dilarang dari peredarannya, Hari Sabat Tuhan Allah yang suci telah diganti dengan hari Minggu, kemurnian dari firman-Nya pun sudah tidak lagi dapat dipertahankan. Dalam keadaan yang sedemikian itulah, maka beragama yang benar dalam arti melaksanakan firman yang murni dan lengkap sudah hampir-hampir tidak lagi ditemukan. Sampai dengan kedatangan Luther setelah hampir seribu tahun agama Kristen digelapkan, kebenaran yang berhasil dipulihkannya itupun masih sangat terbatas jumlahnya. Kebenaran demi kebenaran baharu kemudian dipertambahkan sampai di akhir zaman. Itupun setelah menghadapi berbagai tantangan yang tidak habis-habisnya.

Dalam keadaan yang sedemikian itulah, maka penyelamatan atau pembenaran oleh iman adalah yang paling banyak berperan. Oleh sebab itu janganlah mengira bahwa penyelamatan atau pembenaran oleh iman itu sudah dapat menghantarkan seseorang langsung ke sorga yang di atas, sebab terbukti semua mereka yang memperoleh keselamatannya melalui pembenaran oleh iman itu, sekalipun telah juga dihadiahi dengan kesucian oleh pembenaran Kristus, semua mereka itu sampai kepada hari ini masih saja beristirahat di dalam kubur.

Kita kini sudah berada di akhir zaman. Seluruh i s i Alkitab yang pernah digelapkan selama zaman kegelapan agama yang lalu, k i n i sudah terungkap seluruhnya. Bahkan semua buku-buku Alkitab yang bertemu dan berakhir di buku Wahyu itupun sudah selengkapnya terungkap pengertiannya di dalam apa yang disebut ROH NUBUATAN itu. Dengan demikian, maka ciri-ciri dari umat Allah yang hidup di akhir dunia sekarang ini sudah jelas, yaitu memeliharakan perintah-perintah Allah (Hukum Torat) dan berpegang pada Kesaksian Jesus Kristus, yang disebut ROH NUBUATAN itu. (Wahyu 12:17; 19: 10 bag. akhir). Untuk inilah hamba Tuhan memperingatkan :

"Bahwa masa periode bagi "pembenaran oleh karunia" itu kini sudah berlalu; bahwa kita sekarang telah sampai pada masa periode dimana keselamatan kita terletak pada h a - n y a mempraktikan "pembenaran oleh iman”jika kita berharap untuk dihadiahi dengan "pembenaran dari Kristus", lalu dimahkotai dengan hidup kekal " -- Timely Greetings, vol. 2, No. 39 , p. 25.

Perhatikanlah, bahwa ucapan dari hamba Tuhan di atas ini ditujukan hanya kepada Sidang Jemaat Laodikea, b u k a n kepada orang-orang luar. Karena kelengkapan Firman dari Hukum Torat dan ROH NUBUATAN itu sudah tersedia di dalam Sidang Jemaat Laodikea, di dalam kelas lima anak dara yang bijaksana itu, maka hanya di dalam kelas mereka itulah orang dapat mempraktikkan "pembenaran oleh iman" itu, untuk kemudian dihadiahi dengan "penyucian oleh pembenaran Kristus", lalu dimahkotai dengan hidup kekal. Jadi jelaslah, bahwa hanya ada satu pilihan ditawarkan kepada semua orang Laodikea di waktu ini, yaitu agar membangun dan mempraktikkan iman yang benar di dalam kelas lima anak dara yang bijaksana itu, atau tidak akan lagi dibenarkan imannya.

 

Sebaliknya kepada mereka yang masih berada di luar kelas lima anak dara yang bijaksana, di dalam Sidang Jemaat Laodikea, himbauan Jesus adalah: "Berbahagialah mereka yang lapar dan dahaga akan kebenaran, karena mereka itu akan dikenyangkan." - Matius 5 : 6. Artinya, mereka itu akan diselamatkan oleh karunia. Melalui takdir Ilahi mereka itu akan dibawa langsung ataupun tidak langsung sampai kepada "kebenaran" yang didambakannya. Akhirnya, mereka akan menemukan Hukum Allah dan ROH NUBUATAN itu di dalam Sidang Jemaat Laodikea, khususnya di dalam kelompok dari kelas lima anak dara yang bijaksana itu. Baharu di sinilah dapat mereka membangun imannya untuk kemudian dihadiahi dengan penyucian oleh pembenaran Kristus, dan akhirnya dimakotai dengan hidup kekal.

Sekalipun demikian tak dapat disangkal, bahwa iman dari setiap orang adalah tidak mungkin s a m a. Sekalipun Hukum Torat dan ROH NUBUATAN sudah lengkap tersedia, dan sudah dibaca, namun pengertian dari masing-masing orang belum tentu sama banyaknya. Namun bagaimanapun juga setiap orang akan dibenarkan imannya sesuai yang sudah dicapai dari upayanya yang sungguh-sungguh, sesuai kapasitasnya yang tertinggi, dalam mengejar kebenaran itu. Tuhan Allah akan cukup adil dalam menegakkan H u k u m-Nya, dan ini akan sesuai dengan penegasan-Nya sendiri, bahwa :

 

"Kita  tidak  akan  dituntut  bertanggung  jawab  untuk  terang  yang belum sampai ke pengertian kita, terkecuali untuk terang yang sudah kita hindari dan menolak. Seseorang  tidak  dapat  memahami  kebenaran  yang belum pernah disampaikan kepadanya, maka  sebab itu ia  tidak  mungkin  dapat  dipersalahkan  karena  terang  yang  belum  pernah  dimilikinya." — EGW. SDA Bible Commentary, vol. 7 - A, p. 265.

Karena adanya karunia dari B a p a, yaitu rahmat-Nya yang begitu besar, maka Jesus telah dikorbankan sampai mati di bumi ini untuk menggantikan kita. Namun ini tidak berarti bahwa tanpa pertobatan manusia dengan begitu saja dapat dibawa kembali ke Eden. Adalah karena kepatuhan mereka kepada Hukum Allah, maka Adam dan Hawa telah memperoleh ijin tinggal di Eden yang indah permai itu. Dan karena penyelewengan mereka terhadap Hukum yang sama itu juga, maka mereka telah diusir keluar, dan mengalami maut di bumi ini, sehingga pada waktu ini keduanya itu masih tetap berada di dalam kubur.

Pertobatan ternyata merupakan persyaratan yang mutlak harus dipenuhi bagi setiap umat Allah. Tanpa pertobatan, maka tak akan ada pembenaran apapun yang dapat diperoleh untuk diselamatkan. Sekalipun demikian, untuk dapat bertobat kita juga memerlukan suatu perangkat peraturan hukum Allah yang lengkap dan jelas. Peraturan-peraturan hukum Allah itu sepanjang sejarah dunia ini h a n y a tersedia di dalam Sidang Jemaat-Nya. Namun peraturan-peraturan hukum itu juga dapat ditemukan di dalam alam. Sekalipun demikian, adalah karena dosa, maka pertumbuhan dari alam itu sendiri tidak lagi sempurna, sehingga pengenalan akan Allah melalui alam saja menjadi tidak lengkap. Untuk itulah, maka di dalam ROH NUBUATAN-Nya Tuhan Allah mengingatkan kepada kita bahwa masih banyak warga kerajaan-Nya yang masih berada di luar Sidang Jemaat-Nya. Dikatakan-Nya :

 

"Orang-orang yang direkomendasikan nama-namanya oleh Kristus di dalam sidang pengadilan mungkin sedikit sekali pengetahuannya akan ilmu theologia, namun mereka telah menghayati semua prinsip milik Allah. Melalui pengaruh dari Roh Allah mereka itu telah menjadi suatu berkat bagi orang-orang di sekelilingnya. Bahkan di antara orang-orang kapir itu terdapat orang-orang yang telah menghayati roh baik hati; sebelum firman kehidupan sampai ke telinga mereka, mereka telah menemani para missionaris, bahkan juga melayani mereka itu dengan penuh resiko bahaya terhadap nyawanya sendiri. Di antara orang-orang kapir itu terdapat orang-orang yang telah menyembah Allah secara bodoh, yaitu orang-orang yang belum pernah memperoleh terang yang dihantarkan kepada mereka oleh perantaraan manusia. Namun mereka itu tidak akan binasa. Sekalipun bodoh terhadap hukum Allah yang tertulis, namun mereka telah mendengar suara-Nya yang berbicara kepada mereka di dalam a l a m, sehingga mereka telah melakukan segala perkara yang dipersyaratkan oleh hukum. Semua perbuatan mereka itu membuktikan bahwa Roh Suci telah menyentuh hati mereka, maka mereka itu diakui sebagai anak-anak Allah.

"Betapa mengejutkan dan menggembirakan apabila kelak di antara bangsa-bangsa dan di antara orang-orang kapir terdapat orang-orang yang hina itu, yang akan mendengarkan langsung dari mulut Juruselamat : "Seberapa banyak yang sudah kamu perbuat bagi salah satu daripada yang terkecil dari saudara-saudara-Ku ini, kamu sudah melakukannya kepada-Ku"! Betapa gembiranya kelak hati Dia Yang Tak Terhingga Kasih-Nya itu sewaktu para pengikut-Nya memandang dengan terheran-heran dan gembira akan ucapan kata-kata persetujuan-Nya. " — The Desire of Ages, p. 638.

Terbukti jelas bahwa melalui proses pembenaran oleh k a r u n i a,  Roh Suci telah mengendalikan orang-orang kapir (the heathen), yang belum pernah mengenal firman tertulis-Nya, kepada Allah di dalam a l a m. Mereka ternyata telah diakui sebagai warga kerajaan sorga, dan bahkan telah direkomendasikan oleh Jesus sendiri di dalam Sidang Pengadilan sorga yang kini sedang berlangsung di dalam kaabah kesucian yang di atas, untuk diselamatkan.

Hukum Allah sebagai standard ukuran keadilan-Nya itu ternyata telah ditawarkan kepada semua manusia. Bukan saja kepada umatNya, melainkan juga kepada semua orang kapir, sepanjang sejarah dunia ini. Sebagai umat Allah sekaliannya itu telah ditawarkan kepada kita secara tertulis. Dan kepada orang kapir, sekaliannya itu telah dihadapkan kepada mereka di dalam a l a m oleh perantaraan Roh Suci.

*  *  *