Datanglah Kerajaan-Mu, Jadilah Kehendak-Mu di Bumi ini seperti di dalam Sorga !

 

 

J

         

esus telah mengajarkan kepada kita sebuah bentuk d o a  yang cukup singkat, padat, namun sangat bermakna, untuk diucapkan apabila kita datang berdoa kepada-Nya. Ia mengatakan :  “Oleh karena itu berdoalah sebagai berikut :  ‘Bapa kami yang di sorga, dipersucikanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi ini seperti halnya di sorga, .............. dan seterusnya.”  Matius  6 :  9 - 13. Setiap orang Kristen tentu cukup fasih untuk mengucapkannya. Namun dari semua perkataan  doa itu  kata-kata,  “Datanglah Kerajaan-Mu, Jadilah kehendak-Mu di bumi  seperti halnya di dalam sorga,”  tampaknya tidak begitu saja mudah dipahami.  Karena Kerajaan itu sendiri masih di depan, dan kehendak Allah di bumi seperti halnya di dalam sorga, juga belum pernah tampak sampai kepada hari ini, maka  kita hendaknya menyadari bahwa  tak dapat tiada  kedatangan Kerajaan itu pun akan sangat menentukan bagi nasib keselamatan kita.

 

Berbicara mengenai Kerajaan itu, maka kita hendaknya mengerti bahwa itulah sebuah negara Theocrasy dengan Tuhan Allah sendiri sebagai Rajanya, semua umat-Nya di bumi sebagai rakyat-Nya, Sepuluh Perintah dari Hukum Torat sebagai Undang-Undang Dasar  Kerajaan-Nya,  dan bumi ini  juga yang akan  menjadi  daerah kedaulatan - Nya. Sesungguhnya  sejak mula pertama planet bumi diciptakan, keempat unsur tersebut sudah selengkapnya terpenuhi. Adam dan Hawa  sejak mulanya  telah menjadi rakyat  Kerajaan sorga yang pertama mendiami planet ini, Sepuluh Perintah dari Hukum Torat berikut  Kesaksian juga telah melandasi  Kerajaan bumi ini sejak mulanya, dan seluruh bumi telah menjadi daerah kedaulatannya, dengan Tuhan Allah sendiri sebagai  Raja. Namun karena dosa, karena sebab Adam dan Hawa telah lalai mengasihi Tuhan Allah mereka, maka seluruh kerajaan bumi ini  telah jatuh ke tangan Iblis. Akibatnya berbagai penyakit dan maut telah merenggut berjuta-juta nyawa manusia sampai kepada hari ini. Dan bumi untuk 4.000 tahun lamanya telah kehilangan statusnya sebagai Kerajaan sorga, yaitu bagian dari Kerajaan sorga yang luas di angkasa raya.  Ini terbukti dari ucapan Jesus  kepada Pilatus  :  “Kerajaanku  bukan dari dunia ini. Sekiranya  kerajaanku  dari dunia ini, maka hamba-hambaku sudah akan menyerang supaya aku tidak akan diserahkan kepada orang-orang Yahudi, tetapi sekarang kerajaanku bukan dari sini.”  Yahya 18 : 36.

           

Namun karena upaya penebusan untuk menguasai kembali manusia berikut kerajaan bumi ini telah direncanakan sebelumnya di dalam sorga, maka Iblis belum juga berhasil menguasai sepenuhnya manusia setelah kejatuhannya. Dan setelah upaya penebusan itu sendiri berhasil dalam tahun 31 TM  yang lalu, maka Tuhan Allah kembali menguasai kerajaan bumi ini berikut warganya,  khususnya mereka yang masih setia berbakti kepada-Nya.

           

Jika  pada mula pertama  bumi berikut seluruh penghuninya telah menjadi Kerajaan sorga yang cukup luas, maka semenjak dari tahun 31 TM yang lalu, luas kerajaan ini telah menciut menjadi terbatas pada hanya luas GEREJA berikut para anggotanya yang setia. Jika pada mula pertama, sebelum kejatuhan mereka dalam dosa Adam dan Hawa telah mendiami Eden yang permai itu dalam kondisi kesucian mereka yang mutlak, maka semenjak dari tahun 31 TM yang lalu warga kerajaan sorga di bumi sebagai “orang-orang benar yang jatuh tujuh kali lalu bangun kembali (Amzal Solaiman 24 : 16)”,  harus mendiami planet ini  dalam kehancurannya  akibat dari dosa. Bahkan pada waktu ini Kerajaan sorga yang diwakili oleh GEREJA dari Sidang Jemaat Laodikea sudah sejak lama  dikuasai oleh kelas lima anak dara yang bodoh  itu.

 

Berbahagialah mereka

yang dianiaya karena sebab K e b e n a r a n

 

Dengarlah olehmu akan firman Tuhan, hai kamu yang gentar pada firman-Nya. Kendatipun saudara-saudaramu yang membenci kamu, yang telah membuang kamu keluar karena sebab namaku, mengatakan, ‘Supaya nama Tuhan dipermuliakan; namun Ia akan tampak bagi kesukaan kamu, dan mereka itu akan malu.” – Jesaya 66 : 5. “Berbahagialah mereka yang dianiaya karena sebab k e b e n a r a n, karena merekalah yang memiliki kerajaan sorga.” Matius 5 :  10.

           

Ucapan nabi Jesaya dan ucapan Jesus pada injil Matius itu masih terkait dengan  nubuatan Jesaya pasal 66 yang berkenan dengan proses pembersihan GEREJA yang akan datang.  Ini berarti sebelum “Datanglah Kerajaan-Mu” itu terlaksana, maka Kerajaan Sorga yang diwakili oleh GEREJA dari Sidang Jemaat Laoadikea di waktu ini tak dapat tiada sedang dikuasai dan dijajah oleh pihak anak-anak dara yang bodoh atau lalang  atau oleh pihak mereka yang disebut Maher-shalal-hashbash itu. Ini seyogyanya dimengerti, sebab  k e b e n a r a n  yang dimaksud  oleh Jesus itu adalah kebenaran yang lengkap dan yang menyelamatkan, dan bukan sekedar sepenggal - sepenggal kebenaran yang  tercecer di sana sini  di berbagai GEREJA  Kristen di waktu ini. Mereka yang memiliki Kerajaan Sorga itu tidak mungkin berada di berbagai GEREJA Kristen di akhir dunia sekarang ini, bahkan juga tidak akan mungkin ditemukan di antara mereka dari kelas lima anak dara yang bodoh itu. Jadi, jelaslah bahwa ucapan nabi Jesaya pada  Jesaya 66 : 5  itu tak dapat tiada berlaku hanya bagi semua Kristen Immanuel atau mereka dari kelas lima anak dara yang bijaksana, yang berada di dalam Kerajaan Sorga yang kini diwakili oleh GEREJA dari Sidang Jemaat Laodikea.

           

Sekalipun demikian, perlu juga diketahui bahwa di dalam kelas lima anak dara yang bijaksana atau kelas gandum itu masih ada saja agen-agen Iblis yang telah berhasil menyusup masuk di tengah-tengahnya. Mereka itu pada umumnya mengakui Hukum Torat dan ROH NUBUATAN sebagai landasan imannya, tetapi  banyak bagian dari ROH NUBUATAN mereka itu telah sedemikian rupa dimanipulasi, sehingga sangat membingungkan. Sekalipun keberadaan mereka itu di dalam kelas lima anak dara yang bijaksana atau kelas gandum hanya sedikit jumlahnya, namun kita hendaknya waspada karena mereka pun mengakui dirinya dianiaya karena sebab kebenaran, sehingga mereka juga merasa berhak untuk dianggap sebagai yang memiliki Kerajaan Sorga. Kerajaan Sorga yang manakah yang dimaksud oleh ucapan Jesus di atas? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka hendaklah kita mengenangkan kembali  pengalaman dari Jesus sendiri pada kedatangan-Nya yang pertama dahulu.  Ia telah datang kepada milik-Nya sendiri, tetapi Ia bahkan telah ditolak dan dibunuh. Demikianlah kelak akan menjadi pengalaman dari semua umat-Nya  di akhir dunia sekarang ini.  Di dalam Kerajaan Sorga yang kini diwakili oleh GEREJA dari Sidang Jemaat Laodikea, semua Kristen Immanuel atau anak-anak dara yang bijaksana akan mengalami aniaya karena sebab ROH NUBUATAN. Sekalipun demikian, tak dapat tiada mereka itu saja pemilik yang sah dari Kerajaan Sorga itu, yaitu GEREJA dari Sidang Jemaat Laodikea. Jadi  demikianlah keadaannya, sekalipun Kerajaan Sorga di bumi ini telah berhasil dikuasai kembali  oleh  Jesus  Rajanya sejak  hampir 2000 tahun yang lalu, namun ternyata masih banyak sekali yang harus dibenahi untuk memulihkannya kepada kondisi  kesuciannya yang semula. Pemulihan inilah yang akan pertama sekali dimulai di dalam  GEREJA.

 

Pembersihan Sidang Jemaat Laodikea

 

Karena nasib umat Allah di bumi sudah diramalkan oleh berbagai nubuatan dari para nabi ribuan tahun sebelumnya, maka peristiwa pembersihan GEREJA dari Sidang Jemaat Laodikea  itu akan dapat kita ketahui dari beberapa nubuatannya di bawah ini. Nabi Jesaya menubuatkannya sebagai berikut :

           

“Karena oleh api dan oleh pedangnya Tuhan akan menghimbau kepada segala manusia, maka besarlah kelak orang-orang yang akan dibunuh Tuhan. Yaitu mereka yang mengkuduskan dirinya sendiri, dan yang membersihkan dirinya sendiri di dalam taman-taman di balik sebuah pohon kayu di tengah-tengahnya, yang memakan daging babi  dan semua yang keji,  serta tikus pun, sekalian mereka itu akan dihabisi bersama-sama, demikianlah firman Tuhan.  Karena aku tahu semua perbuatan mereka dan semua  pikiran  mereka itu; iaitu  akan datang, bahwa aku akan menghimpun semua bangsa dan bahasa; maka mereka itu akan datang, dan menyaksikan  kemuliaanku.

           

“Maka aku akan menempatkan suatu tanda di antara mereka itu, lalu aku akan   mengutus orang-orang yang luput dari antara mereka itu kepada s e g a l a  bangsa, yaitu  ke  Tarshis,  Pul, dan  Lud,  orang  pemanah  ke Tubal, dan  Jawan,  k e   p u l a u - p u l a u  yang  jauh-jauh, yang b e l u m  mendengar  kebesaran namaku,  dan yang b e l u m  juga  m e n y a k s i k a n   kemuliaanku ; maka mereka akan menyatakan kemuliaanku di antara orang-orang kapir.  Lalu mereka akan menghantarkan semua saudaramu bagi suatu korban bagi Tuhan  keluar dari  s e g a l a   b a n g s a  dengan menunggang kuda, dan dalam kereta-kereta,  dan dalam usungan-usungan, dan dengan menunggang  keledai, dan  binatang-binatang yang cepat k e   g u n u n g   k e s u c i a n k u   J e r u s a l e m, demikian firman Tuhan, seperti halnya bani Israel  menghantarkan korban  di dalam bejana-bejana yang suci  ke dalam rumah Tuhan. Maka aku juga akan mengangkat dari antara mereka itu  i m a m - i m a m  dan  orang-orang Lewi, demikianlah firman Tuhan. Karena sebagaimana  segala langit yang baru  dan bumi yang baru itu, yang akan ku buat, akan  tetap bertahan di hadapanku, demikian firman Tuhan, maka demikian itu pula  kelak benihmu dan namamu akan tetap bertahan.

 

“Maka akan jadi kelak kemudian, bahwa dari  bulan baru yang satu ke bulan berikutnya, dan dari Sabat yang satu ke Sabat berikutnya, semua manusia akan datang berbakti di hadapanku, demikianlah firman Tuhan. Dan mereka akan keluar, lalu memandang pada bangkai orang-orang yang telah berdosa melawan aku; karena cacing-cacing mereka itu tidak akan mati, api mereka itupun tidak akan padam, maka mereka akan menjadi sesuatu yang dibenci bagi semua manusia.”  Jesaya  66 : 16 – 24.

 

A p i melambangkan Roh Suci. P e d a n g - N y a  melambangkan  Kebenaran Firman Allah. Hamba Tuhan Nyonya E.G. White mengatakan : “Para pendeta dan umat hendaknya ingat bahwa kebenaran injil itu akan membinasakan jika ia gagal menyelamatkan.” – Testimonies, vol. 5, p. 134.

 

Pembantaian yang dinubuatkan di atas  akan jadi  di dalam GEREJA  Tuhan Allah  saja, dan bukan di antara segala bangsa kapir. Dalam pembantaian itu ternyata tidak semua mati dibantai, melainkan hanya mereka yang menyucikan dirinya dan yang membersihkan dirinya sendiri di dalam taman-taman di balik sebuah pohon kayu yang ada di tengah-tengahnya, yang memakan daging babi, dan berbagai makanan keji lainnya, berikut juga tikus. Demikianlah firman Tuhan. Mereka yang luput akan ditugaskan pergi memberitakan kebesaran dan kemuliaan Allah kepada segala bangsa kapir. Dan mereka yang bertobat akan dihantarkan ke gunung kesucian Tuhan di Jerusalem, Palestina.

 

Siapakah mereka itu yang akan menyucikan diri dan membersihkan dirinya di dalam taman-taman di balik sebuah pohon kayu, dan yang memakan daging babi, tikus dan berbagai makanan keji lainnya ? Benarlah mereka itu berada di dalam  GEREJA Tuhan Allah dari Sidang Jemaat Laodikea yang  justru sangat terkenal karena menentang daging babi, tikus, dan berbagai makanan keji lainnya  itu ?  Untuk menjawab pertanyaan ini, rasul Petrus mengingatkan,  bahwa “Kita juga memiliki suatu perkataan nubuatan yang lebih pasti, agar kita memperhatikannya bagaikan suatu terang yang bercahaya di tempat yang gelap, sampai fajar pagi, dan bintang siang bercahaya di dalam hatimu.”  2  Petrus  1  : 19.   Artinya,  bagaimanapun juga  perkataan dari nubuatan Jesaya itu tidak mungkin  salah.  Oleh karena itu, maka kita hendaknya waspada bahwa ucapan nubuatan dari  nabi Jesaya itu  masih dalam bahasa  simbolis,  yang masih harus  terlebih dulu diinterpretasikan.  Dari  ROH NUBUATAN  dapat diketahui, bahwa  pohon kayu  melambangkan  p e m i m p i n,   rerumputan  (grass roots)  melambangkan  para anggota atau umat, dan taman-taman itu tak dapat tiada melambangkan gereja-gereja tempat orang  berhimpun. Jadi, orang-orang  yang   memakan daging b a b i,  dan  berbagai  makanan keji lainnya, serta t i k u s  itu, ialah mereka yang sudah terbiasa  dengan makanan hewani, yang  sama sekali  bertentangan  dengan  Hukum  Kesehatan dari  Alkitab,  yang berlaku khusus bagi umat akhir zaman. Mereka itupun adalah  orang-orang yang biasa mencari penyucian diri di gereja-gereja,  serta  bergantung hanya  pada  para pendeta dan  penguasa GEREJA (kuat dan kuasa - Zakharia 4 : 6) untuk keselamatannya.

 

Karena nubuatan Jesaya itu baharu terungkap di akhir zaman,  dan karena maknanya baharu  akan berlaku  bagi umat  akhir zaman, maka  demi tercapainya kesehatan umat  dalam rangka  peribadatan yang benar  di akhir dunia sekarang ini,  ROH NUBUATAN  mengingatkan kepada kita sebagai berikut : “Tuhan telah menyajikan ke hadapan saya  suatu rencana umum. Kepada saya ditunjukkan, bahwa Allah hendak memberikan  kepada  umat  pemelihara  Hukum-Nya   s u a t u    m a k a n a n    y a n g   b a r u   (a reform diet), dan bahwa jika mereka menerima i n i, maka berbagai penyakit dan penderitaan  akan sangat berkurang. Kepada saya ditunjukkan  bahwa pekerjaan ini akan maju pesat.” -- Counsels  on  Health, p.  531.   Jika  makan daging itu pernah sehat di masa lalu,  maka iaitu tidak lagi sehat di waktu ini.  Berbagai  jenis kanker, tumor, dan berbagai penyakit paru-paru  pada umumnya disebabkan oleh makanan daging.” -- Counsels on Diet and Foods, p.  404.   Sekalipun yang dimakan  hanya daging dari berbagai binatang yang halal,  namun akibatnya  sama  k e j i  nya dengan  daging dari berbagai binatang  yang telah diharamkan semenjak dari  zaman  Nuh  yang lalu.

 

Kita ikuti selanjutnya bagaimana mereka itu dibantai sesuai yang diramalkan di dalam  nubuatan dari nabi Yehezkiel  berikut ini,

 

Lalu ku dengar Dia berseru dengan nyaring : ‘Maju kemari, hai kamu, yang bertugas mengawasi kota ini !  Masing-masing dengan alat pembantai di tangannya !’  Tengoklah, enam orang laki-laki datang dari jurusan pintu gerbang atas, yang menghadap ke utara, masing-masing dengan alat pembantai di tangannya. Dan seorang di antara mereka itu berpakaian linen, dan di sisinya terdapat suatu alat menulis. Mereka itu masuk dan berdiri di sisi medzbah tembaga. Pada saat itu kemuliaan Allah Israel terangkat dari atas cherub, tempatnya semula, ke atas ambang pintu Bait Suci lalu Dia memanggil orang yang berpakaian linen dan yang mempunyai alat menulis di sisinya itu. Firman Tuhan kepadanya : ‘Berjalanlah di tengah-tengah kota, yaitu Jerusalem, dan bubuhlah suatu tanda pada dahi orang-orang yang berkeluh-kesah dan berteriak karena sebab segala perbuatan keji yang dilakukan di sana.’ Dan kepada yang lainnya aku dengar Dia berfirman :’Ikutilah dia dari belakang melalui kota itu dan bantailah ! Janganlah merasa sayang dan jangan kenal belas kasihan. Orang-orang tua, taruna-taruna dan dara-dara, anak-anak kecil dan perempuan-perempuan, bunuhlah dan musnahkan !  Tetapi semua yang dibubuhi tanda itu jangan singgung. Dan mulailah dari tempat kudus-Ku.’ Lalu mulailah mereka terhadap para tua-tua yang berada di hadapan Bait Suci. Kemudian firman-Nya kepada mereka:’Najiskanlah Bait Suci itu dan penuhilah pelatarannya dengan orang-orang yang terbunuh. Pergilah ! Mereka itu pergi keluar lalu membantai orang-orang itu di dalam kota. Sementara mereka membantai orang-orang itu  ---- aku tinggal sendiri --- Aku bersujud dan berseru, kataku : ‘Aduh, Tuhan Allah, maukah Engkau memusnahkan seluruh Israel yang sisa dalam curahan amarah-Mu atas Jerusalem?’ Jawab-Nya kepadaku :’Kesalahan kaum Israel dan Jehuda sangat banyak, sehingga tanah ini penuh hutang darah dan kota ini penuh ketidak-adilan, sebab mereka  mengatakan : Tuhan sudah meninggalkan tanah ini dan Tuhan tidak melihatnya. Karena itu Aku juga tidak akan  merasa sayang dan tidak akan kenal belas kasihan. Kelakuan mereka itu Ku timpakan atas kepalanya. Tengok, orang yang berpakaian linen itu dan yang mempunyai alat menulis pada sisinya memberi laporan : ‘Aku sudah melaksanakan seperti yang Engkau perintahkan kepadaku.’” – Yehezkiel  9  :  1 - 11.

 

Setelah sekian lama  Kerajaan Sorga di akhir zaman, yang diwakili oleh  GEREJA dari Sidang Jemaat Laodikea, dikuasai dan dijajah oleh  orang-orang jahat dari kelas lima anak dara yang bodoh itu, maka pada akhirnya mereka akan dibantai. Pembantaian ini  terjadi hanya di  tengah-tengah  Israel yang  s i s a  (Sidang Jemaat Laodikea), dan bukan di seluruh dunia. Sama halnya dengan apa yang dinubuatkan oleh nabi Jehezkiel di atas, maka malaikat akan pertama sekali menempatkan suatu tanda di antara semua umat. Tanda itu akan merupakan tanda kelepasan bagi setiap orang yang akan luput  pada  peristiwa pembantaian itu. Bagaimanakah sesungguhnya  pembantaian itu  nanti  ROH NUBUATAN  mengamarkannya sebagai berikut :

 

P e l a j a r i l a h  Yehezkiel pasal  9 !  S e m u a   perkataan itu akan digenapi sesuai yang tertulis (literally fulfilled). Namun  waktu  sedang terus berlalu, dan umat itu terus tidur. Mereka menolak merendahkan jiwanya untuk bertobat. Tidak terlalu lama lagi Tuhan mau mensabari orang banyak itu, yang telah memperoleh kebenaran-kebenaran penting yang sedemikian besarnya (ROH NUBUATAN), yang telah diungkapkan kepada mereka, tetapi mereka menolak untuk memasukkan kebenaran-kebenaran ini ke dalam pengalaman pribadinya. Waktunya sudah singkat. Allah sedang memanggil ; maukah engkau mendengar ? Maukah engkau menyambut pekabaran-Nya, maukah engkau bertobat sebelum terlambat ? Segera, sangat segera, segala perkara akan diputuskan bagi kekekalan.”– EGW. Manuscript Releases, vol. 1, p. 260.

 

Nabi Jesaya mengatakan, bahwa mereka yang akan dibantai itu ialah orang-orang  yang menyucikan diri dan membersihkan dirinya sendiri  di dalam taman-taman (di dalam gedung - gedung gereja), di balik sebuah pohon kayu di tengah-tengahnya (mengikuti kehendak dari Pemimpin Organisasi). Mereka dengan sengaja telah menolak ROH NUBUATAN sebagai firman Allah, yang  telah disampaikan kepada mereka b u k a n oleh  kekuatan (pribadi pendeta), juga b u k a n  oleh kekuasaan (Organisasi GEREJA). Zakharia 4 : 6. Juga karena telah melalaikan Hukum Kesehatan, maka kekejian mereka itu telah dipersamakan dengan  para pemakan daging babi dan tikus serta  berbagai makanan keji lainnya.

           

Sebaliknya, orang-orang yang akan luput dari peristiwa besar pembantaian itu adalah  mereka yang sudah memperoleh meterai tanda kelepasannya. Kepada malaikat pembubuh meterai itu Tuhan berfirman : “Berjalanlah di tengah-tengah kota, yaitu Jerusalem, dan bubuhlah suatu tanda pada dahi orang-orang yang  berkeluh-kesah dan berteriak karena sebab segala perbuatan keji  yang dilakukan di sana.  Yehezkiel  9 : 4.  

 

Semua perbuatan yang keji ialah perbuatan yang tidak sesuai dengan berbagai peraturan pelaksanaan dari Hukum Torat yang tersedia di dalam ROH NUBUATAN.

 

Salah satu kekejian yang sangat mencolok dilakukan di dalam gereja-gereja selama ini,  ialah menyampaikan firman Allah dari Alkitab (kedua batang zaitun itu) langsung kepada semua u m a t (kaki pelita) oleh kekuatan (kemampuan pribadi pendeta) dan oleh kekuasaan (Organisasi GEREJA), tanpa melalui ROH NUBUATAN. Akibatnya, ketujuh lampu pada  kaki pelita  yang melambangkan Sidang Jemaat Laodikea tidak pernah lagi menyala. Artinya, “segala perkara  yang akan datang “  dari Yahya 16 : 13 itu  tidak akan pernah lagi  dapat diharapkan datang dari atas mimbar-mimbar gereja  yang ada. Orang boleh saja menirukan ucapan  raja Daud  :  “Bahwa  firman-Mu itu merupakan lampu bagi kakiku dan terang bagi jalanku.,” (Mazmur  119 : 105) tetapi  bagaimanakah akibatnya apabila lampu itu sendiri tidak lagi menyala ?

           

Masa hidup raja Daud diperkirakan di antara tahun 1055 - 1015 s.TM. Alkitab yang tersedia di waktu itu baharu terbatas pada buku-buku tulisan Musa dan beberapa buku lainnya, termasuk buku Ayub. Sementara itu berbagai nubuatan dari para nabi Wasiat Lama pada umumnya belum ada. Jadi, tidaklah mengherankan apabila nabi Daud mengatakan, bahwa firman Tuhan itu benar-benar merupakan lampu bagi kakinya dan terang bagi jalannya, karena memang sekaliannya itu sudah dapat dipahaminya. Tetapi bagaimanakah mungkin jika orang mengatakan bahwa Alkitab itu adalah sebuah terang besar, sementara begitu banyak rahasia di dalamnya yang belum terungkap ?

 

         Mereka yang luput berdiri

       bersama Anak Domba di Gunung Sion  

    di Palestina

 

Yahya Pewahyu mengatakan : “Lalu ku pandang, maka heran, seekor Anak Domba berdiri di Gunung Sion, dan bersama dengannya  ada seratus empat puluh empat ribu orang, yang memiliki nama Bapanya tertulis pada dahi-dahi mereka. ..... Maka mereka itu menyanyi seolah-olah sebuah nyanyian baru di hadapan tahta, dan di hadapan empat binatang, dan para tua-tua itu; maka tidak seorangpun dapat mempelajari nyanyian itu, terkecuali  mereka seratus empat puluh empat ribu itu, yang telah ditebus dari bumi. Inilah mereka  yang  tidak  tercemar dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka  adalah  a n a k -  a n a k   d a r a. Inilah mereka yang akan mengikuti Anak Domba itu kemana saja ia  pergi. Mereka ini ditebus dari antara manusia, merupakan buah-buah pertama bagi Allah dan bagi Anak Domba  itu.  Maka di dalam mulut mereka  tidak didapati  tipu, karena mereka adalah tanpa kesalahan  di hadapan tahta Allah.”  Wahyu  4  :  1, 3 - 5.

 

Jesus telah diperlihatkan kepada rasul Yahya dalam nubuatan ini sebagai seekor Anak Domba, artinya, sebagai  Penebus  dosa manusia.  Ini menunjukkan bahwa  peristiwa  berdirinya  mereka 144.000 itu bersama Jesus di Gunung Sion, Palestina akan jadi pada sebelum masa kasihan atau masa pertobatan bagi seluruh umat manusia berakhir. Mereka 144.000 itu telah ditebus dari bumi sebagai buah-buah pertama (hasil panen pertama), berarti, masih akan ada lagi buah-buah kedua sebagai hasil dari panen kedua yang akan datang. Jika panen pertama  dilakukan di dalam Sidang Jemaat Laodikea, maka panen kedua yang akan datang tak dapat tiada akan dilakukan di seluruh dunia  yang  belum  pernah mendengar akan  kebesaran nama Tuhan, serta belum pernah menyaksikan  kemuliaan-Nya.

           

Mereka 144.000 itu tidak tercemar dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka adalah anak-anak dara, artinya, mereka 144.000 itu bukan berasal dari GEREJA - GEREJA  Kristen lainnya yang sudah cemar, karena mereka adalah anak-anak dara yang bijaksana yang berasal dari Sidang Jemaat Laodikea saja. Dalam peristiwa pembantaian yang akan datang, pada dahi-dahi mereka itu akan dibubuhi tanda kelepasannya yang berupa nama dari Allah Bapa. Di dalam mulut mereka itu tidak akan didapati sesuatu tipu apapun, karena mereka tidak pernah memanipulasikan i s i Alkitab maupun ROH NUBUATAN itu menurut pendapatnya sendiri. Ini berarti, sekalipun mereka itu adalah orang-orang benar yang jatuh tujuh kali lalu bangun kembali, namun mereka belum pernah sekalipun jatuh berdosa melawan  Roh Suci. Tahukah Saudara, bahwa sekali saja jatuh berdosa melawan Roh Suci, maka Roh Suci akan meninggalkan kita. Akibatnya kemampuan untuk membuang mana yang jahat dan memilih mana yang baik  akan makin hari semakin kabur, sehingga pelakunya tidak pernah lagi dapat bertobat.

 

            Kedatangan Kerajaan itu Dimulai di Gunung Sion,

   di P a l e s t i n a.

           

Yahya Pewahyu mengatakan : “Dan aku dengar angka bilangan mereka itu yang dimeteraikan; maka telah dimeteraikan seratus empat puluh empat ribu  orang dari  semua suku bangsa bani Israel.”  Wahyu  7 :  4.

           

Karena nubuatan Wahyu itu baharu terungkap dan digenapi di akhir zaman, maka kata-kata “semua suku bangsa bani Israel “ itu tak dapat tiada dimaksudkan kepada GEREJA dari Sidang Jemaat Laodikea saja. Sebagaimana yang sudah diungkapkan di atas, maka mereka 144.000 itu akan diambil dari antara anak-anak dara yang bijaksana yang kini  berada di dalam  GEREJA dari Sidang Jemaat Laodidkea. Nabi Jehezkiel selanjutnya mengatakan  :

           

Demikianlah firman Tuhan Allah; bahwasanya  Aku hendak mengambil  bani Israel  itu  dari antara  bangsa kapir, kemana saja mereka itu telah pergi, dan akan menghimpun mereka itu pada setiap sisi, lalu menghantarkan mereka ke dalam tanah airnya sendiri.  Maka Aku  akan menjadikan mereka itu  satu bangsa .jua  di negeri  di atas gunung-gunung  Israel ; dan  seorang  r a j a  akan memerintah atas semua mereka itu, maka mereka kelak bukan lagi  dua bangsa, dan tidak lagi mereka itu terbagi  dalam dua kerajaan; ............. Maka Daud hamba-Ku  akan menjadi r a j a atas mereka itu, dan semua mereka akan memiliki seorang gembala. Mereka juga akan berjalan sesuai hukum-hukum-Ku, dan mematuhi semua peraturan hukum-Ku, serta melakukannya.

           

Maka mereka akan tinggal di negeri yang telah Ku karuniakan kepada Jakub hamba-Ku, dimana semua nenek moyangmu telah tinggal, maka mereka akan tinggal di sana, yaitu mereka, dan anak -anaknya, serta cucu-cucunya sampai selama-lamanya, dan hamba-Ku Daud  akan menjadi  penghulu mereka untuk selamanya.” --  Jehezkiel  37 :  21, 22, 24 - 25.

           

Nubuatan Jehezkiel  ini pun baharu terungkap pengertiannya di akhir zaman,  dan baharu akan digenapi apabila mereka 144.000 Israel akhir zaman itu sudah berhasil berdiri bersama dengan Jesus di Gunung  Sion, Jerusalem, di Palestina. Daud, nabi Tuhan itu, akan dikukuhkan menjadi r a j a  mereka di Palestina, dan iapun akan menjadi gembala mereka di sana. Siapakah yang dilambangkan oleh Daud itu ? Kita ikuti selanjutnya ucapan Jesus kepada malaikat Sidang Jemaat Laodikea (para penguasa GEREJA nya)  sebagai berikut :

 

Dan kepada malaikat Sidang Jemaat Laodikea tuliskanlah sebagai berikut: ‘Aku menasehati kamu supaya membeli kepadaku emas yang sudah teruji di dalam api, supaya engkau menjadi kaya; dan pakaian putih, supaya engkau berpakaian, dan supaya malu ketelanjanganmu itu tidak tampak, dan supaya menggosok matamu dengan minyak, supaya engkau dapat melihat. Seberapa banyak orang yang ku kasihi, aku tegor dan ku hajar, maka sebab itu bangunlah dan bertobat.  Tengoklah, aku berdiri di depan pintu sambil mengetok, jika seseorang mendengar suaraku, lalu membuka pintu, aku akan masuk kepadanya, dan akan makan bersamanya dan ia bersamaku. Kepada  d  i  a  yang  m e n a n g  aku akan memberikan d  i  a  duduk  bersamaku pada tahtaku, sama seperti aku juga sudah menang, dan  k i n i   duduk bersama dengan Bapaku  pada tahta-Nya.” Wahyu 3  :  14, 18 - 21. (Terjemahan yang lebih tepat dari Alkitab  King James Version).

 

Yahya Pewahyu meramalkan bagaimana Jesus menawarkan ROH NUBUATAN  kepada malaikat Sidang Jemaat Laodikea sebagai penguasa GEREJA yang menyeleweng untuk juga diteruskan kepada seluruh umatnya. Namun sebagaimana sudah dijelaskan di atas, hanya  kelas lima anak dara yang bijaksana yang telah menyambut  ROH NUBUATAN itu.  Malaikat Sidang Jemaat Laodikea berikut semua pengikut setianya akan dibantai pada peristiwa pembersihan  Sidang Jemaat Laodikea yang akan datang. Dan hanya mereka 144.000 itu  yang  luput,  yang akan didapati sebagai pemenang yang akan datang. Salah s e o- r a n g  dari antara  mereka itulah yang akan didudukkan oleh Jesus pada tahta-Nya  sebagai    r a j a  Daud, untuk memerintah  selama di  Gunung Sion di  Palestina  yang akan datang.

 

“Gunung Sion” dari Wahyu 14 : 1  itu  melambangkan sesuatu tempat khusus di  Palestina.  Di gunung Sion kuno yang lalu terdapat istana r a j a.  Dan para penghulu  bangsa Israel  tinggal di Jerusalem. Di dalam buku Nehemiyah 11 : 1 dapat kita baca sebagai berikut :  “Maka para penghulu orang banyak itu tinggal di Jerusalem; orang-orang lainnya juga membuang undi untuk menghantarkan  satu dari antara sepuluh orang dari mereka untuk tinggal di Jerusalem, kota suci itu, dan sembilan bagian  lainnya untuk tinggal di kota-kota lainnya.” Dari ROH NUBUATAN dapat juga kita baca sebagai berikut :

 

“Kata-kata : ‘seekor  Anak Domba berdiri di gunung Sion‘, membuktikan bahwa Kristus telah memegang kendali pemerintahan di dalam tangan-Nya sendiri  (Testimonies to Ministers, p. 300) sebelum pemberitaan dari Seruan Keras dari Pekabaran Malaikat yang Ketiga, dan bahwa mereka 144.000 itu bekerja di bawah pengawasan-Nya sendiri, membuat  Gereja  menjadi sebuah pemerintahan theocrasy yang ‘berperlengkapan senjata pembenaran Kristus’, yang akan maju ke pertikaiannya yang terakhir. ‘Indah bagaikan bulan, cerah bagaikan matahari, dan mengerikan bagaikan suatu bala tentara dengan berbagai panji-panjinya, ia akan maju keluar ke seluruh dunia, dengan kemenangan serta untuk terus menang.” Prophets and Kings, p. 725. (Dikutip dari buku  The Symbolic Code Series, pp. 227, 228).

 

Berdirinya mereka 144.000 itu bersama sama dengan Anak Domba di gunung Sion membuktikan, bahwa pada waktu itulah Kerajaan Jesus itu diresmikan pendiriannya. Peresmian itu berlangsung di gunung Sion, sebab itulah istana r a j a. Sementara di Jerusalem akan dihuni oleh mereka  dari rombongan 144.000  itu.

 

Memperolah Sebuah Nama Baru

 

Nabi Jesaya menubuatkannya sebagai berikut : “Karena sebab Sion aku tidak akan berdiam diri, dan karena sebab Jerusalem aku tidak akan berhenti, sampai pembenarannya  muncul keluar dengan cerahnya, dan keselamatannya bagaikan sebuah pelita yang menyala-nyala. Maka bangsa-bangsa akan menyaksikan pembenaranmu, dan semua raja akan kemuliaanmu; maka kamu  akan dipanggil  dengan sebuah n a m a  yang baru, yang akan diucapkan oleh Tuhan sendiri.”  Jesaya 62 :  1, 2.

 

Sion (bukan gunung Sion) dan Jerusalem melambangkan umat Allah, dalam hal ini  mereka 144.000  itu. Mereka akan sangat dikenal oleh kebenarannya dan semua raja-raja di bumi akan menyaksikan kemuliaan mereka. Mereka juga akan dipanggil dengan sebuah nama yang baru, yang belum dapat diketahui sekarang.

 

Sesudah peristiwa pembantaian yang sangat mengerikan itu, dan setelah mereka 144.000  itu dibawa ke gunung Sion di Palestina, maka lenyaplah sudah GEREJA dari Sidang Jemaat Laodikea itu di muka bumi ini. Tetapi sebaliknya pada waktu yang sama telah muncul berdiri  Kerajaan Sorga itu di gunung Sion di Palestina dengan sebuah nama yang baru. Jesus sendiri sebagai Raja-nya berikut Daud contoh saingan sebagai pelaksana pemerintahannya, mereka 144.000 itu sebagai warga  negara dalam kondisi kesuciannya yang mutlak,  Hukum Torat  dan ROH NUBUATAN sebagai dasar negara, dan Palestina sebagai daerah  kedaulatannya.  Dengan demikian, maka datanglah sudah Kerajaan Jesus itu, dan jadilah sudah kehendak-Nya di bumi, dimulai di Palestina.

           

Mereka 144.000 itu tidak perlu lagi mendoakan, “Datanglah Kerajaan-Mu, dan jadilah kehendak-Mu di bumi,” sebab Kerajaan itu sudah berdiri, dan kehendak-Nya juga sudah  terlaksana. Mereka juga tidak perlu lagi berdoa, “Ampunilah kiranya kami, seperti halnya kami telah mengampuni orang yang bersalah kepada kami,” sebab ternyata mereka semua sudah tidak lagi berdosa.

 

 Berdirinya Kerajaan Ini Menggenapi Juga

Nubuatan dari Nabi Daniel

 

Nabi  Daniel  mengatakan : “Maka  di dalam zaman raja-raja ini  Allah di sorga  akan mendirikan  sebuah  k e r a j a a n  yang tidak akan pernah dapat dibinasakan; dan kerajaan itu tidak akan ditinggalkan kepada bangsa yang lain, tetapi ia akan membinasakan dan menghabiskan semua kerajaan ini, lalu ia akan berdiri untuk selama-lamanya.”  Daniel  2  :  44. 

 

Di dalam Daniel pasal 2 diceriterakan tentang sebuah mimpi dari raja Nebukhadnezar  dari  kerajaan Babil di zaman nabi Daniel. Ia telah melihat dalam mimpi itu sebuah patung besar :  kepalanya dari emas, yang melambangkan kerajaan Babil yang berkuasa sejak kurang lebih tahun 2.000 an s.TM, dada dan lengannya dari perak, yang melambangkan kerajaan Medo-Persia semenjak dari tahun 538 s.TM, perut dan pahanya dari tembaga, yang melambangkan kerajaan Gerika sejak tahun 328 s.TM,  betisnya dari besi, yang melambangkan kerajaan Romawi sejak tahun 63 s.TM, dan kaki dan jari-jari kakinya sebagian dari besi dan sebagiannya dari tanah liat, melambangkan berbagai kerajaan dan negara-negara yang muncul sesudah keruntuhan Romawi dalam tahun 476 TM  sampai di akhir zaman, yang kini terbagi dalam dua blok utama, yaitu blok barat dan blok timur. Dan juga telah dilihatnya sebuah gunung besar yang tidak jauh letaknya dari  tempat dimana patung itu berdiri.

 

Jadi patung itu melambangkan sebuah sejarah dunia yang panjang sesudah air bah di zaman Nuh sampai di akhir zaman. Selanjutnya nabi Daniel mengatakan : 

           

Maka di dalam zaman raja-raja ini (yang dilambangkan oleh sepuluh jari kaki itu)  Allah di sorga akan mendirikan sebuah kerajaan  yang tidak akan pernah dapat dibinasakan,  dan kerajaan itu tidak akan ditinggalkan kepada bangsa yang lain, tetapi i a akan membinasakan dan menghabiskan semua kerajaan ini, lalu ia akan berdiri untuk selama-lamanya.”  Daniel 2 :  44.

 

Tuanku melihat sampai sebuah batu terpotong keluar tanpa bantuan tangan, yang menghantam patung itu pada  k a k i  nya yang terbuat dari besi dan tanah liat, lalu menghancurkan sekaliannya itu. ................., maka batu yang menghantam patung itu  menjadi  sebuah gunung  besar, dan memenuhi seluruh bumi.” Daniel  2 : 34, 35. 

 

Karena  sebagaimana Tuanku saksikan  bagaimana batu itu terpotong keluar dari gunung tanpa bantuan tangan, dan bagaimana iaitu menghancurkan besi, tembaga, tanah liat, perak, dan emas, maka  Allah  yang  besar telah  memberitahukan  kepada sang raja apa yang akan jadi kelak kemudian; dan bahwa mimpi itu adalah pasti, dan interpretasinya pun  meyakinkan.”  Daniel 2  :  45.

 

Dalam bahasa nubuatan umat Allah atau GEREJA dilambangkan oleh beberapa objek.  Tergantung pada fungsi tugas dari GEREJA itu sendiri. GEREJA yang bertugas melahirkan Jesus di bumi ini telah dilambangkan oleh seorang wanita perawan. Gereja yang membaptis kita  dilambangkan oleh seorang i b u. GEREJA pada nubuatan Zakharia pasal 4 diatas telah dilambangkan oleh sebuah kaki pelita. GEREJA di akhir dunia  sekarang ini pada nubuatan Daniel  2 : 45 di atas telah dilambangkan oleh sebuah  g u n u n g.  Jadi, karena  nubuatan  Daniel itu baharu terungkap di akhir zaman, maka GEREJA dari Sidang Jemaat Laodikea  itulah  yang  dilambangkan oleh gunung itu. Dengan demikian jelaslah sudah, bahwa sebuah batu gunung yang terpotong keluar dari gunung itu  tak dapat tiada melambangkan  mereka  144.000 itu saja, yang akan  luput  dari  pembantaian besar yang akan datang.

 

Munculnya mereka 144.000 itu bersama Jesus yang akan datang di gunung Sion akan sama artinya dengan peresmian berdirinya kerajaan batu dari nubuatan Daniel itu. Kemudian bagaimana kerajaan batu itu akan menghancurkan semua kerajaan dan negara- negara di akhir dunia ini, kita ikuti penjelasannya dari ROH NUBUATAN sebagai berikut  ini  :

           

Dengan memakaikan senjata pembenaran Kristus, GEREJA akan memasuki peperangannya yang terakhir. ’Indah bagaikan bulan, cerah seperti matahari, dan mengerikan bagaikan suatu bala tentara dengan berbagai panji-panjinya,’ ia akan keluar memasuki seluruh dunia dengan kemenangan dan untuk terus menang.”  Prophets and Kings, p. 725.

 

Oleh sebab itu  semua pintu gerbangmu  akan senantiasa terbuka; sekaliannya itu tidak akan ditutup baik pada siang hari maupun pada malam hari; supaya orang-orang dapat menghantarkan kepadamu pasukan-pasukan orang-orang kapir, dan supaya raja-raja mereka dapat dibawa. Karena bangsa dan kerajaan yang tidak mau melayanimu akan binasa, bahkan  bangsa-bangsa itu akan dibinasakan sama sekali.”  Jesaya  60 : 11,  12.

                                   

Proses Berdirinya Kerajaan Itu Menurut

 Nubuatan Maleakhi

 

Nabi Maleakhi menubuatkannya sebagai berikut : “Tengoklah, aku akan mengirim utusanku, maka ia akan mempersiapkan jalan di hadapanku; maka Tuhan yang kamu cari itu,  akan secara tiba-tiba datang ke kaabahnya, yaitu utusan perjanjian itu, yang kamu senangi; tengoklah, ia akan datang, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam.“Tetapi siapakah yang dapat bertahan pada hari kedatangannya itu ? Dan siapakah yang dapat berdiri  apabila  ia muncul ? Karena ia adalah bagaikan api  pemurni perak, dan seperti sabun pembersih. Maka ia akan duduk  bagaikan seorang  pemurni dan pembersih perak : maka ia akan memurnikan  bani Lewi, dan membersihkan mereka itu seperti emas dan perak, agar dapat mereka mempersembahkan ke hadapan Tuhan suatu persembahan dalam kebenaran. Kemudian baharu kelak persembahan Jehuda dan Jerusalem berkenan kepada Tuhan, sama seperti pada zaman dahulu, dan seperti halnya  di tahun-tahun yang terdahulu.” -- Maleakhi 3 : 1 - 4.

 

Tuhan Allah akan pertama sekali mengirim seorang utusan-Nya (sejenis Zerubabel dari Zakharia pasal 4 : 9) untuk mengungkapkan rahasia nubuatan Maleakhi itu bagi kita. Utusan itulah yang akan memperkenalkan ROH NUBUATAN kepada kita, yang akan memberitakan perihal pembantaian yang akan datang di dalam kaabah dari Sidang Jemaat Laodikea, dalam rangka penyucian bani Lewi, yang akan menyambut Tuhan Jesus yang akan datang secara tak terduga ke kaabah mereka di gunung Sion di Palestina. Siapakah sebenarnya utusan itu, nabi Maleakhi selanjutnya mengatakan  :

           

Tengoklah, aku akan mengutus kepadamu Eliyah, nabi itu, dahulu daripada datangnya hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu. Maleakhi 4 : 5.  Karena  Nabi Eliyah kini sudah menetap di dalam sorga, maka nabi Eliyah pada nubuatan Maleakhi itu tak dapat tiada melambangkan seseorang nabi, yang akan muncul di akhir zaman seperti juga halnya dengan Zerubabel,  yang telah melambangkan Sdr. Victor T. Houteff.  Kedatangan Tuhan yang tiba-tiba ke kaabah-Nya itu, akan merupakan hari Tuhan yang besar bagi mereka yang luput  (bani Lewi atau mereka 144.000 itu), tetapi sebaliknya akan sangat mengerikan bagi mereka yang  akan dibantai pada peristiwa pembersihan kaabah dari Sidang Jemaat Laodikea yang akan datang.  Kata-kata :  ‘Siapakah yang dapat bertahan pada hari kedatangan-Nya itu, dan siapakah yang dapat berdiri apabila  Ia muncul ?” memperlihatkan, bahwa kelak akan banyak sekali orang yang  dibantai pada waktu itu.

 

Mengapakah mereka 144.000 itu dilambangkan oleh bani Lewi ? Bani Lewi ialah orang-orang yang khusus bertugas melayani di kaabah. Pada zaman Wasiat Lama anak-anak lelaki yang pertama lahir di dalam keluarga bangsa Iberani akan dipersiapkan bagi pelaksanaan berbagai tugas yang di kaabah. Esau sebagai putera yang pertama di dalam keluarga Ishak  tidak menghargai  jabatan tersebut, maka Jakub karena sepenuhnya memahami akan maknanya hak kesulungan itu, maka ia telah berhasil merebutnya, sekalipun dengan tipu daya.  Itulah sebabnya, maka mereka 144.000 itu di dalam nubuatan juga dilambangkan oleh anak-anak keturunan Jakub (Jacobites). Sementara itu para penguasa GEREJA atau malaikat Sidang Jemaat Laodikea, yang dilambangkan oleh anak-anak keturunan Esau di waktu ini, karena tidak menghargai makna dari  hak kesulungan mereka itu, maka pada akhirnya mereka harus menyesal  dan  tersingkir.

 

Proses Berdirinya Kerajaan itu

Menurut Daniel dan Yahya

 

Kepada Daniel malaikat Jibrail mengatakan : “Maka pada masa itu akan bangkit berdiri Mikhael, penghulu besar itu, yang akan membela bani bangsamu; maka akan ada kelak suatu masa kesusahan besar, yang sedemikian itu belum pernah ada semenjak dari berdirinya sesuatu bangsa sampai kepada saat itu; maka pada masa itu bangsamu akan diluputkan, yaitu setiap orang yang akan ditemukan namanya  tercatat di dalam buku.” -- Daniel 12 : 1.

 

Mikhael  =  yang s a m a  dengan Allah, maka  iaitu tak dapat tiada dimaksudkan kepada  Kristus saja. Akan ada kelak suatu masa kesusahan besar yang akan menimpa bangsanya Daniel (orang-orang Jehuda). Tetapi semua mereka itu akan dilepaskan, karena Jesus sendiri akan turun untuk membela mereka.  Mereka itu akan luput  karena nama mereka sudah lebih dulu tercatat di dalam buku kehidupan.

 

Karena nubuatan Daniel itu baharu terungkap pengertiannya di akhir zaman, di dalam  GEREJA dari Sidang Jemaat Laodikea, dan karena masa kesusahan besar itu belum juga digenapi sampai kepada hari ini, maka tak dapat tiada harus disimpulkan bahwa hanya  mereka  144.000 itulah yang akan luput dari kesusahan besar yang akan datang. Ini tentunya dapat dimengerti karena nama-nama mereka itu sudah lebih dulu tercatat di dalam buku, maka mereka sudah akan lebih dulu memperoleh meterai Allah tanda kelepasannya itu. Kemudian baharu akan tampak mereka itu berdiri bersama sama dengan  Jesus, Anak Domba Allah itu, di gunung Sion,  Palestina,  sebagaimana yang diceriterakan  oleh Yahya Pewahyu  pada bukunya  Wahyu  14  :  1.

 

Buku Wahyu sebagai pelengkap dari buku Daniel juga meramalkan peristiwa kesusahan besar yang akan datang itu sebagai berikut : “Maka sesudah semua perkara ini aku tampak  empat malaikat berdiri pada empat penjuru bumi, sambil menahan empat angin bumi, supaya angin itu tidak bertiup ke atas bumi, atau ke atas lautan, ataupun ke atas sesuatu pohon kayu. Lalu aku tampak seorang malaikat lain naik dari sebelah timur, dengan membawa meterai dari Allah yang hidup; maka berteriaklah ia dengan suara besar kepada keempat malaikat itu, yang telah ditugaskan untuk merusak bumi dan lautan. Katanya : ‘Janganlah merusak bumi atau lautan ataupun pohon-pohon kayu, sampai kami selesai memeteraikan hamba-hamba Allah  pada dahi-dahi mereka.” -- Wahyu  7  : 1 - 3.

 

Empat malaikat itu adalah malaikat-malaikat pembinasa dari pihak Tuhan Allah. Dan angin-angin itu melambangkan amarah dari orang-orang jahat di bumi, baik di dalam GEREJA Tuhan maupun yang berada di luar. Malaikat yang berteriak melambangkan pekabaran Injil.  Pohon-pohon kayu itu melambangkan mereka 144.000 itu sebagai pemimpin-pemimpin masa depan di dalam Kerajaan Daud di Palestina. Pekabaran Injil (dari ROH NUBUATAN) akan mewajibkan keempat malaikat Tuhan Allah itu untuk terus menahan amarah orang-orang jahat  (di  dalam  Sidang Jemaat  Laodikea)  untuk  tidak  memulai  masa  kesusahan  besar  itu  s e b e l u m   mereka 144.000  itu dibubuhi meterai Allah sebagai tanda kelepasan pada  dahi-dahi mereka.

 

Jadi setelah mereka 144.000 itu tercatat namanya di dalam buku kehidupan di dalam sorga sebagai orang-orang yang sudah s u c i, dan setelah masing-masingnya memperoleh bubuhan tanda kelepasan pada dahinya, maka baharulah mereka dihadapkan kepada masa kesusahan itu. Masa kesusahan besar itu juga dikenal sebagai masa kesusahan Jakub yang akan  jadi  h a n y a  di dalam  GEREJA Tuhan Allah,  yang akan menimpa  mereka 144.000  itu  di dalam gereja-gerejanya masing-masing di seluruh muka bumi ini. Inilah akibat dari kegigihan mereka mengasihi Tuhan Allahnya oleh mematuhi suara-Nya di dalam ROH NUBUATAN. Kemudian daripada itu mereka akan diluputkan lalu dibawa  ke Palestina  untuk bersama-sama dengan Jesus meresmikan berdirinya Kerajaan Sorga itu  di gunung Sion. 

           

Dosa ialah pelanggaran hukum, dan upah dosa ialah maut.  Umat Allah di waktu ini dikenal sebagai penganut Sepuluh Perintah dari Hukum Torat dan  ROH NUBUATAN. Mereka adalah orang-orang benar yang jatuh tujuh kali lalu bangun kembali. Namun setelah nama-nama mereka tercatat di dalam buku kehidupan, dan  sesudah  tanda kelepasan dibubuhkan pada dahi-dahi mereka, maka lenyaplah m a u t  itu untuk selama-lamanya daripada mereka.  Dan kondisi inilah yang akan dimulai di gunung Sion  dan Jerusalem di Palestina.

 

  Mengapa Harus di gunung Sion dan Jerusalem, 

di P a l e s t i n a ?

 

Nabi Jehezkiel menuliskannya sebagai berikut : “Karena aku akan mengambil kamu dari antara bangsa kapir, dan mengumpulkan kamu keluar dari semua negeri, lalu akan  membawa kamu ke dalam tanah airmu sendiri. Kemudian aku akan memercikkan air bersih atas kamu, lalu kamu akan menjadi bersih : daripada semua kotoranmu, dan daripada semua berhalamu akan ku bersihkan kamu. Suatu hati yang baru juga akan ku berikan kepadamu, dan suatu r o h  yang baru akan  ku tempatkan di dalammu ; maka aku akan mengeluarkan hati batu dari dalam dagingmu, dan akan ku berikan kepadamu suatu hati daging. Dan akan ku masukkan rohku ke dalammu, lalu membuat kamu berjalan sesuai semua peraturan hukumku, lalu kamu akan mematuhi semua hukumku, dan melaksanakannya. Maka kamu akan tinggal di negeri yang dahulu ku berikan kepada nenek moyangmu ; lalu kamu akan menjadi  umatku, dan aku akan menjadi Allahmu.”

           

“Demikianlah firman Tuhan Allah. Pada hari itu bahwa aku sudah akan menyucikan kamu daripada semua kejahatanmu, aku juga akan membuat kamu tinggal di semua negeri, maka semua tempat yang rusak akan dibangun kembali. Maka mereka akan mengatakan : Negeri ini yang tadinya hancur berantakan akan jadi seperti taman Eden, maka semua yang hancur  dan sunyi dan  kota-kota yang binasa  akan menjadi kota-kota yang dipagari, dan akan didiami. Kemudian bangsa kapir yang tinggal sekeliling kamu itu akan mengetahui bahwa akulah Tuhan yang membangun tempat-tempat yang hancur itu, dan menanami semua yang  ditinggalkan sunyi itu. Akulah Tuhan yang telah mengucapkannya, maka aku akan melakukannya.”

           

“Maka aku akan membuat mereka menjadi  s a t u  bangsa  di negeri di atas pegunungan Israel; maka seorang raja akan memerintah atas  semua mereka itu ‘ maka mereka tidak akan lagi  d u a  bangsa,  juga  tidak akan lagi mereka itu terbagi menjadi d u a   kerajaan.  Dan hambaku D a u d  akan menjadi r a j a  atas mereka itu, lalu semua mereka itu akan memperoleh seorang gembala; mereka juga akan berjalan sesuai semua peraturan hukumku, dan mematuhi semua peraturan, dan melakukannya. Maka mereka itu akan tinggal  di  negeri yang telah ku berikan kepada Jakub hambaku itu,  d i m a n a  semua nenek moyangmu telah tinggal ; maka mereka akan tinggal di sana, yaitu  mereka, dan anak-anak mereka, dan cucu-cicit mereka sampai selama-lamanya, dan hambaku D a- u d  akan menjadi penghulu mereka itu untuk selama-lamanya.” – Jehezkiel  36  :  24 - 28, 33, 35 - 36; 7  :  22,  24, 25.

 

Ucapan nubuatan nabi Jehezkiel di atas ini  muncul jauh  s e t e l a h kerajaan Israel  dari sepuluh  suku bangsa itu dikalahkan oleh kerajaan Assyria pada tahun 721 s.TM, lalu tercerai berai ke seluruh dunia. Demikian pula halnya setelah kerajaan Jehuda dari dua suku bangsa lainnya dikalahkan oleh kerajaan Babil pada tahun 587 s.TM. Jadi hendaknya dimengerti, bahwa  ucapan nubuatan nabi Jehezkiel itu  b e l u m  pernah digenapi sampai kepada hari ini, sehingga masih harus ditunggu  lagi di depan.

           

GEREJA - GEREJA Kristen telah menafsirkan ucapan nubuatan dari nabi Jehezkiel itu secara harafiah, sehingga mereka kini terus menunggu kapan peristiwa yang sangat mentaajubkan itu akan menjadi kenyataan. Demikian pula halnya dengan bangsa Yahudi yang berdiam di Amerika Serikat. Karena terdorong oleh janji-janji nubuatan yang sangat membesarkan hati itu, maka  mereka kemudian  telah datang merebut kembali  kota Jerusalem berikut sebagian besar tanahnya dari tangan bangsa Palestina. Demikian itulah asal mula berdirinya negara Israel (Sionisme) di Palestina sejak tahun 1948 yang lalu, dan itulah pula alasannya mengapa pertikaian di antara Israel dan Palestina sampai kepada hari ini tak juga kunjung selesai.

     

Dari ucapan nabi Jehezkiel itu juga akan tampak jelas, bahwa yang akan kembali ke Jerusalem di Palestina, bukan  hanya Jehuda dengan d u a suku  bangsanya, juga  bukan  hanya Israel dari s e p u l u h suku bangsa, melainkan 12 (dua belas) suku bangsa  bani  Israel. Padahal semenjak dari  zaman nabi Jehezkiel  yang lalu sampai kepada hari ini mereka dari sepuluh suku bangsa Israel  itu  belum pernah dikenal, baik sebagai  sesuatu bangsa  maupun sebagai umat Allah. Israel dari sepuluh suku bangsa itu sudah berassimilasi (kawin - mawin) dengan semua bangsa manusia di dunia, sehingga mereka sudah kehilangan semua identitas bangsanya.

        

Sementara itu bangsa Jehuda  atau Jahudi  terakhir dikenal  sebagai umat Allah hanya sampai dengan tahun 34 TM  yang lalu. Sesudah itu status mereka sebagai umat Allah  telah dialihkan kepada umat Kristen. Dan terakhir setelah tiba di akhir zaman, sesudah berbagai nubuatan dari Wasiat Lama dan dari buku Wahyu terungkap di dalam ROH NUBUATAN, maka status sebagai umat Allah itu kembali dialihkan kepada Sidang Jemaat Laodikea,  khususnya kepada semua Kristen  Imanuel  yang ada di dalamnya,  yang  telah mengangkat  ROH  NUBUATAN  menjadi  landasan  i m a n  mereka.

           

Jadi, jelaslah  bahwa jika oleh perantaraan Jehezkiel Tuhan Allah berfirman  : “Aku akan menjadikan mereka itu  s a t u  bangsa  di negeri di atas pegunungan Israel ; ...... dan mereka tidak akan lagi menjadi  d u a  bangsa, mereka juga tidak akan lagi terbagi  ke dalam d u a  kerajaan.“ Ayat 22, maka kemudian oleh perantaraan Yahya Pewahyu  Tuhan Allah kembali  menegaskannya sebagai berikut :

 

Maka sesudah semua perkara ini aku tampak empat malaikat berdiri pada empat penjuru bumi, sambil memegang empat mata angin  bumi, supaya angin itu tidak meniup ke atas bumi, atau ke laut, atau ke sesuatu pohon kayu. Lalu aku tampak seorang malaikat lain yang naik dari sebelah timur, dengan membawa meterai dari Allah yang hidup; maka berserulah ia dengan nyaring bunyinya kepada keempat malaikat itu, yang telah ditugaskan untuk merusak bumi dan laut. Katanya : ‘Janganlah merusak bumi, atau laut, atau pohon-pohon kayu sampai kami selesai memeteraikan hamba-hamba Allah kita itu pada dahi-dahi mereka. Maka aku dengar angka bilangan mereka yang dimeteraikan itu; maka telah dimeteraikan seratus empat puluh empat ribu orang dari semua suku bangsa bani Israel. Dari suku Jehuda telah dimeteraikan dua belas ribu orang. Dari suku  Reuben telah dimeteraikan dua belas ribu orang.  Dari suku Gad telah dimeteraikan dua belas ribu orang. Dari suku Aser  telah dimeteraikan  dua belas ribu orang. Dari suku Nepthalim telah dimeteraikan dua belas ribu orang.  Dari suku Manasseh telah dimeteraikan dua belas ribu orang. Dari suku Simeon telah dimeteraikan dua belas ribu orang. Dari suku Lewi telah dimeteraikan dua belas ribu orang. Dari suku Issakhar  telah dimeteraikan dua belas ribu orang . Dari suku Zabulon telah dimeteraikan dua belas ribu orang. Dari suku Jusup  telah dimeteraikan dua belas ribu orang. Dari suku Benyamin telah dimeteraikan dua belas ribu orang.”   Wahyu  7 :  1 – 8.

           

Lalu ku pandang, maka heran, seekor Anak Domba berdiri di gunung Sion, dan bersama dengannya mereka seratus empat puluh empat ribu itu, yang memiliki nama Bapanya tertulis pada dahi-dahi mereka. ........ Inilah mereka itu yang tidak tercemar dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka adalah a n a k - a n a k  d a r a. Inilah mereka yang akan mengikuti Anak Domba itu kemana saja ia pergi. Mereka ini ditebus dari  antara manusia, merupakan buah-buah pertama  bagi Allah dan bagi Anak Domba itu. Dan di dalam mulut mereka itu tidak didapati tipu, karena mereka adalah tanpa salah di hadapan tahta Allah.”  Wahyu  14 :  1,  4 - 5.

 

Sekalipun berbagai nubuatan di atas belum pernah digenapi sampai kepada hari ini, namun dari ciri-cirinya itu juga sudah akan dapat diketahui, bahwa mereka 144.000 orang dari  12 suku bangsa bani Israel akhir zaman itu, tak dapat tiada akan muncul keluar dari dalam Sidang Jemaat Laodikea saja. Mereka akan muncul keluar dari dalam kelas lima anak dara yang bijaksana itu, menggenapi nubuatannya pada Wahyu 14 : 4. Mengapa  h a n y a 144.000 yang akan ditebus dari antara  umat manusia,  seyogyanya sudah dapat dimengerti,  bahwa  mereka itu baharu  merupakan buah-buah pertama  yang akan diambil  dari hanya  Sidang Jemaat Laodikea saja. Masih banyak lagi buah-buah kedua yang tak terhitung banyaknya  yang akan ditebus  dari seluruh bumi. Bahkan sekaliannya itupun belum termasuk banyak lagi umat-Nya yang kini beristirahat di dalam lebu bumi. Kemudian  mengapakah harus di gunung Sion dan  Jerusalem, di Palestina, ialah  karena  hanya tanah itulah yang telah diberikan Tuhan Allah  kepada para nenek moyang dari umat-Nya sejak dahulu.

 

K e s i m p u l a n

 

“Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi ini seperti halnya di dalam sorga,” pada kenyataannya telah diucapkan berulang-ulang dalam doa oleh semua umat Kristen sampai kepada hari ini. Padahal tidak mereka sadari bahwa kerajaan sorga yang dimaksud itu tak lain daripada sidang jemaat Laodikea kita sendiri, yang akan dibersihkan daripada kelas anak-anak dara bodoh atau kelas lalang dan sekam yang telah mencemarkannya selama ini. Mereka justru mengira, bahwa kerajaan yang akan datang itu akan turun dari sorga bersama-sama dengan Kristus sebagai RAJA pada kedatangan-Nya yang kedua kali, sebagaimana yang diucapkan Paulus pada 1 Tesalonika 4 : 16, 17. Padahal tidak juga disadarinya, bahwa pada kedatangan-Nya yang kedua kali itu Kristus tidak sampai menjejakkan kakinya di bumi, apalagi untuk merealisasikan kehendak-Nya di bumi ini sama seperti halnya di dalam sorga.

 

Semoga tulisan ini dapat mengungkapkan dengan lebih jelas berbagai persoalan yang berkaitan dengan kerajaan yang akan datang itu, sehingga mulai sekarang kita sudah akan dapat berdoa, sambil mengucapkan: “Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi ini seperti halnya di dalam sorga,” dengan penuh kesadaran dan pengertian.

 

 

 

 

*  *  *