B A P T I S A N

 

Sejumlah pertanyaan yang diantaranya telah disampaikan kepada setiap calon baptisan di depan Sidang adalah sebagai berikut:

 

  1. Adakah Saudara percaya bahwa Alkitab berikut seluruh isinya itu adalah firman Allah?
  2. Adakah Saudara percaya bahwa orang-orang yang diilhami Allah untuk menuliskan Alkitab itu adalah hamba-hamba-Nya yang bergelar N a b i dan Rasul?
  3. Adakah Saudara percaya akan adanya karunia-karunia Roh Nubuatan yang ada dengan Gereja ini (Masehi Advent Hari Ketujuh)?

 

  Pertanyaan-pertanyaan ini tampaknya mudah sekali untuk dijawab, sehingga pada umumnya tidak seorangpun calon baptisan pernah menjawabnya: “Tidak tahu.” Saudara dan saya pernah menjawabnya dengan perkataan “Ya.” Itulah sebabnya, maka kita kini berada dalam Organisasi Gereja yang sama. Namun apabila kita merenungkan kembali sejenak pertanyaan-pertanyaan di atas, maka tak dapat tiada secara jujur harus diakui, bahwa hampir-hampir tidak seorangpun di antara kita umat MAHK pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan jujur. Bahkan sebagian besar para pendeta yang mengajukan sendiri pertanyaan-pertanyaan itu, sesungguhnya belum sepenuhnya memahami artinya.

 

        Kita kini berada dalam sejarah dari nubuatan Wahyu 3 : 14 - 22. Karena menolak pekabaran malaikat Wahyu pasal 18 di pertemuan General Conference Minneapolis tahun 1888 yang lalu, maka General Conference dan para pendetanya sampai kepada hari ini terus membuktikan dirinya menggenapi kondisi “suam rohani” yang dinubuatkan pada Wahyu 3 : 14 - 17. Dalam kondisi rohani yang suam sekarang ini, baik pendeta maupun para calon baptisannya tidak lagi memahami arti dari kata-kata nubuatan yang pasti dari para nabi Wasiat lama maupun dari Yahya Pewahyu. Bahkan apa yang disebut karunia-karunia Roh Nubuatan itu tidak banyak lagi dikenalnya. Akibatnya adalah jelas bahwa:  Sebagian besar pendeta dan para pengikutnya kini percaya pada Alkitab sebagai Firman Allah, bukan karena mereka sudah memahami i s i dari Alkitab itu, melainkan hanya karena Dunia Kristen Internasional (Kristen Babil) sudah lebih dulu mengakui buku itu sebagai Firman Allah yang otentik. Hendaknya diingat bahwa hanya Kristen Protestanlah yang telah menerjemahkan Alkitab itu ke dalam berbagai bahasa di bumi ini dan hanya mereka yang memiliki hak cipta untuk mencetak Alkitab itu selama ini.

 

General Conference dan para pendetanya secara resmi mengakui tulisan-tulisan Ny. Ellen G. White sebagai karunia-karunia Roh Nubuatan, bukan karena mereka sudah memahami dan mengagumi tulisan-tulisan itu, melainkan h a n y a karena keajaiban yang tampak pada waktu Ny. White memperoleh khayal-khayalnya langsung dari Tuhan Allah, yang kemudian telah membukukannya bagi kita. Oleh sebab itu hendaklah kita waspada, karena sekalipun General Conference dan para pendetanya kini mengakui Alkitab dan karunia-karunia Roh Nubuatan itu sebagai Firman Allah, namun pada kenyataannya  terbukti bahwa karunia-karunia Roh Nubuatan itu tidak banyak lagi disukai untuk diajarkan di dalam gereja-gereja kita. Demikian inilah keadaan Gereja kita, dan genaplah kata-kata Roh Nubuatan yang berbunyi:

 

“Tuhan tidak bekerja pada waktu ini untuk membawa banyak jiwa kepada kebenaran, sebab adanya anggota-anggota gereja yang belum pernah bertobat, dan mereka yang pernah bertobat namun sudah jatuh kembali. Pengaruh apakah dari para anggota yang tidak berserah diri ini bagi orang-orang yang baru bertobat? Tidakkah mereka itu menyia-nyiakan pekabaran karunia Allah yang justru harus dibawa oleh umat-Nya?” --  6 Testimonies, p. 371.

 

“Ada    b a n y a k    p e n d e t a   y a n g    b e l u  m    p e r n a h       b e r t o b a t ….. Kristus tidak tinggal di dalam hati mereka oleh iman.” -- Review and Herald, vol.2, p. 337.

 

Ada banyak anggota gereja, bahkan ada banyak juga pendeta yang belum pernah bertobat. Ini membuktikan bahwa banyak dari baptisan mereka itu belum diakui keabsahannya di dalam sorga, maka mereka harus berusaha untuk mendapatkan baptisannya sekali lagi.

 

 

ARTI BAPTISAN

 

 

Hamba Tuhan Nyonya Ellen G. White menuliskannya sebagai berikut :

 

“Peraturan upacara baptisan dan Perjamuan Tuhan adalah dua tiang pilar besar, yang sebuah di luar dan yang lainnya di dalam sidang. Pada kedua peraturan upacara ini Kristus telah mengukirkan nama Allah yang besar.

 

Kristus telah membuat baptisan menjadi tanda masuk ke kerajaan kerohanian-Nya. Ini telah dibuat-Nya menjadi persyaratan yang pasti dengan mana semua orang harus mengikutinya, yaitu setiap orang yang ingin diakui berada di bawah kekuasaan BAPA, ANAK dan ROH SUCI. Sebelum orang dapat menemukan suatu tempat tinggal di dalam sidang, sebelum ia melewati ambang pintu kerajaan kerohanian Allah, ia harus terlebih  dulu  memperoleh    c a p  nama Ilahi, “Tuhan Pembenaran kita.” - Jeremiah 23 : 6.

 

“Baptisan adalah suatu penolakan terhadap dunia yang sangat bersungguh-sungguh. Mereka yang dibaptis dalam tiga rangkap nama dari BAPA, ANAK, dan ROH SUCI, pada permulaan mereka memasuki kehidupan Kristennya, menyatakan di depan umum bahwa mereka telah meninggalkan pelayanan Iblis dan telah menjadi anggota dari keluarga kerajaan, yaitu anak-anak dari Raja Samawi. Mereka telah mematuhi perintah yang berbunyi: “Keluarlah dari antara mereka itu, dan berpisahlah kamu . . . . . dan janganlah menjamah barang yang keji.” Maka kepada mereka akan digenapi janji yang berbunyi: “Aku akan menerima kamu, dan akan menjadi Bapa bagimu, dan kamu akan  menjadi putera-putri-Ku, demikianlah firman Tuhan Serwa Sekalian Alam.” 2 Korinthi 6 : 17, 18.” – 6 Testimonies for the Church, p. 91.

 

SAUDARA! Baptisan ialah tanda masuk menjadi warga negara Kerajaan Sorga di dunia ini. Melalui upacara baptisan status kita berubah dari bukan umat Allah menjadi umat Allah; dari anak-anak manusia menjadi anak-anak Allah. Demikian inilah, maka baptisan itu juga merupakan penolakan terhadap keduniawian yang sangat bersungguh-sungguh. Selanjutnya hamba Tuhan menambahkan:

 

“Maka orang percaya yang bertobat itu, yang menempuh langkah-langkah yang dipersyaratkan dalam pertobatan, ia memperingati dalam baptisannya kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus. Ia turun ke dalam air dalam kesamaan dengan kematian Kristus dan penguburan-Nya, dan ia bangkit keluar dari air dalam kesamaan dengan kebangkitan-Nya bukan untuk memakaikan kembali kehidupan dosanya yang lama, melainkan untuk menghayati suatu kehidupan yang baru dalam Jesus Kristus.” ------ EGW. Bible Commentary, vol. 5, p. 1113.

 

Jelaslah, apabila baptisan itu diikuti dengan benar, maka semua dosa pembawaan semenjak dari lahir akan diampuni. “Para calon baptisan ini akan berhasil masuk ke dalam keluarga Allah, dan nama-nama mereka akan dicatat di dalam buku kehidupan dari Anak Domba.” --- EGW. Bible Commentary, vol. 6, p. 1075.

 

Arti Dari Baptisan Jesus

 

Kemudian datang Jesus dari Galilia ke Yarden kepada Yahya untuk dibaptis olehnya. Namun Yahya menolak-Nya sambil mengatakan: Sayalah yang perlu dibaptis oleh-Mu. Bagaimana mungkin engkau datang minta dibaptis kepada saya? Lalu jawab Jesus kepadanya: Biarkanlah sekarang begitu, karena demikianlah patut bagi kita untuk menggenapi  semua  kebenaran. Lalu dituruti permintaan-Nya.”- Matius 3 : 13 – 15.

 

“Jesus menerima baptisan itu bukan sebagai pengakuan dosa diri-Nya sendiri. Ia mempersamakan diri-Nya bersama-sama dengan orang-orang berdosa, sambil menempuh langkah-langkah yang harus kita tempuh, dan melakukan perbuatan yang harus kita buat. Hidup penderitaan-Nya dan ketahanan-Nya yang sabar sesudah baptisan-Nya juga merupakan teladan bagi kita.” --- Desire of Ages, p. 111.

 

Dapatlah dimengerti, bahwa baptisan Jesus itu bukan untuk memperoleh tanda masuk ke kerajaan-Nya; bukan untuk sesuatu pengampunan dosa bagi diri-Nya; bukan untuk memperoleh status umat Allah, melainkan semata-mata memberi teladan bagi kita, bahwa setiap orang termasuk pula umat-Nya wajib ikut memenuhi semua tuntutan kebenaran.

 

Baptisan Anak-Anak Dari Keluarga

Umat Allah

 

        “Jangan sekali membiarkan anak-anakmu berpikir bahwa mereka adalah bukan anak-anak Allah sebelum usianya cukup tua untuk dibaptis. Baptisan tidak akan  membuat anak-anak itu menjadi orang-orang Kristen; juga ia itu tidak membuat mereka bertobat;  ia itu hanya suatu pertanda lahiriah yang menunjukkan bahwa mereka menyadari bahwa mereka harus menjadi anak-anak Allah oleh mengakui bahwa mereka percaya pada Jesus Kristus sebagai Juruselamatnya dan akan selanjutnya hidup bagi Kristus.” --- Child Guidance, p. 499.

 

Status kewarganegaraan anak-anak akan selalu mengikuti status kewarganegaraan dari orangtuanya, terutama dari ayah. Demikian pula halnya dalam kerajaan kerohanian Kristus. Apabila para orangtua sudah memiliki statusnya sebagai umat Allah, maka dengan sendirinya anak-anaknya pun akan tergolong umat Allah. Tulisan Nyonya White di atas adalah ditujukan kepada keluarga umat Masehi Advent Hari Ke Tujuh sendiri. Tulisan itu terdapat pada Manuscript 5, tahun 1896.

 

        Sebagaimana Jesus dibaptis hanya untuk menggenapi semua kebenaran, maka semua anak dari keluarga umat Allah pun harus dibaptis demikian. Mereka itu dibaptis bukan untuk memperoleh tanda masuk ke dalam keanggotaan sidang, melainkan hanya untuk mengukuhkan semua kebenaran.

 

        Tetapi bagaimanakah status anak-anak yang para orangtuanya oleh Roh Nubuatan dinyatakan ‘belum pernah bertobat?’ Atau bagaimanakah nasib mereka yang oleh Roh Nubuatan dinyatakan ‘pernah bertobat namun sudah jatuh kembali?’ Marilah kita belajar dari pengalaman bangsa Yahudi di zaman Yahya Pembaptis.

 

Baptisan Orang-Orang Yahudi

Di Tangan Yahya

 

        Yahya bukan saja dikenal sebagai Pembaptis, melainkan juga sebagai nabi, bahkan ia dinyatakan sebagai seorang nabi yang terbesar. Matius mengatakan: “Karena semua nabi dan hukum itu bernubuat sampai kepada Yahya.Matius 11 : 13. Ini membuktikan bahwa Yahya Pembaptis tergolong pada nabi-nabi Wasiat Lama. Ia kemudian telah dipenjarakan dan dibunuh sebelum Jesus menyelesaikan missi-Nya pada tahun 31 TM. yang lalu.

 

        Di zaman Yahya, Gereja Kristen belum berdiri. Gereja Kristen baharu dibentuk oleh Kristus sendiri sesudah baptisan-Nya di tangan Yahya, pada tahun 27 TM yang lalu. Dalam pada itu perlu juga diketahui bahwa sampai dengan tahun 31 TM setelah Jesus kembali ke sorga dari missi-Nya di bumi ini, bangsa Yahudi masih memiliki statusnya sebagai umat Allah. Mereka baharu kehilangan statusnya itu pada tahun 34 TM setelah mereka melempari Stephanus dengan batu sampai mati.

 

        Peraturan upacara baptisan itu sendiri baharu pertama kali diperkenalkan oleh Yahya. Sebagai tanda masuk upacara baptisan itu berfungsi untuk membangun Gereja Kristen. Dengan demikian baptisan hanya akan diberikan kepada setiap orang yang telah memenuhi semua persyaratan untuk menjadi umat Allah dalam sejarah Kristen.

 

        Sebaliknya peraturan upacara baptisan tidak dikenal dalam sejarah Wasiat Lama, sebab status sebagai umat Allah selama sejarah yang lalu itu diperoleh hanya melalui garis keturunan. Artinya, apabila para orangtua sudah memiliki status dirinya sebagai umat Allah maka para keturunannya pun akan memiliki status yang sama. Status sebagai umat Allah dalam sejarah Wasiat Lama berada hanya pada bangsa Iberani. Itulah sebabnya mereka dikenal sebagai umat pilihan Allah dalam sejarah yang lalu.

 

        Permasalahannya kini adalah: (1) Mengapakah upacara baptisan itu diselenggarakan oleh Yahya, seorang nabi Wasiat Lama, justru dalam sejarah Wasiat Lama sebelum Gereja Kristen di bangun? (2) Mengapakah upacara baptisan itu diberikan kepada orang-orang Yahudi yang masih memiliki statusnya sebagai umat Allah? Hamba Tuhan mengatakan:

 

        “Yahya memberitakan tentang kedatangan Mesias, dan memanggil orang banyak itu untuk bertobat. Sebagai lambang penyucian dari dosa ia membaptis mereka itu di dalam air-air sungai Yarden. Dengan demikian melalui suatu objek pelajaran yang mengandung arti ia menyatakan bahwa mereka yang mengakui dirinya umat pilihan Allah itu telah tercemar oleh dosa, dan bahwa tanpa pembersihan hati dan kehidupan mereka tidak mungkin memperoleh bagiannya di dalam kerajaan Mesias.” ---- The Desire of Ages, p. 104.

 

        Roh Nubuatan menjelaskan bahwa untuk pertama kalinya nubuatan Maleakhi 3 : 1   telah digenapi oleh Yahya, yang telah datang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Jesus yang pertama. Sebagai persiapan bagi Jesus untuk membangun Gereja Kristen Yahya telah memperkenalkan baptisan sebagai suatu upacara kerohanian yang suci.

 

        Sekalipun sebagai bangsa pilihan Allah orang-orang Yahudi itu masih memiliki status sebagai umat Allah, namun sebagai perseorangan mereka sudah lama tercemar oleh dosa. Tegasnya, sebagai perseorangan banyak dari mereka itu sudah lama kehilangan statusnya sebagai anak-anak Allah. Itulah sebabnya, maka dalam mempersiapkan jalan bagi kedatangan Kristus yang pertama Yahya telah memanggil orang banyak itu untuk bertobat untuk kelak menyambut Jesus sebagai Mesias mereka. Sebagai lambang penyucian dari dosa dan sebagai tanda masuk ke dalam kerajaan Mesias ia membaptiskan mereka itu di sungai Yarden.

 

PERSIAPAN BAGI BAPTISAN

 

Berbicara mengenai persiapan baptisan, marilah kita lihat bagaimana Jesus mempersiapkan Nicodemus, orang besar dan terpercaya di Israel itu, bagi baptisannya. Hamba Tuhan, Nyonya White menuliskannya sebagai berikut:

 

        “Pada waktu Nicodemus, guru besar di Israel itu, datang kepada Jesus, Tuhan membukakan ke hadapannya semua persyaratan dari kehidupan Ilahi, sambil mengajarkan kepadanya urut-urutan pertobatan yang sesungguhnya dari A sampai Z.” ---  6 Testimonies, p. 154.

   

        “Dalam Tanya jawab dengan Nicodemus itu Jesus telah mengungkapkan rencana penyelamatan dan misi-Nya kepada dunia ini. Tidak ada dalam hotbah-hotbah berikutnya Jesus menjelaskan sedemikian lengkapnya, langkah demi langkah, pekerjaan yang perlu dibuat di dalam hati semua orang yang ingin mempusakai kerajaan sorga.” – The Desire of Ages, p. 176.

 

“Sambil mengangkat tangan-Nya dengan tenang dan penuh wibawa Ia memasukkan kebenaran itu dengan jaminan besar: ‘Dengan sesungguhnya Aku mengatakan kepadamu, Orang yang tidak dilahirkan oleh air dan oleh Roh, ia tidak mungkin dapat masuk ke dalam kerajaan Allah.’ Ia yakin bahwa ia sedang berada di hadapan hadirat Dia yang telah diramalkan oleh Yahya Pembaptis sebelumnya.” – The Desire of Ages, pp. 171, 172.

 

    Di zaman Nicodemus Injil Wasiat Baru belum ada. Nubuatan-nubuatan Daniel dan Wahyu yang berkaitan dengan akhir zaman belum terungkap. Demikian  pula halnya dengan nubuatan-nubuatan lainnya dari Wasiat Lama. Namun sejauh semua kebenaran yang sudah terungkap sampai di waktu itu, semuanya itulah yang telah diajarkan Jesus kepada Nicodemus sampai rinci dari A – Z.

 

Di waktu ini, dalam periode akhir zaman sekarang ini, sesuai petunjuk nubuatan Zakharia pasal 4 yang sudah terungkap di antara kita, dapatlah diketahui bahwa seluruh isi Alkitab itu sudah terungkap pengertiannya di dalam ROH NUBUATAN. Dengan demikian kelengkapan FIRMAN diwaktu ini bukan hanya terdiri dari Wasiat Lama seperti halnya di zaman Nicodemus, melainkan juga Wasiat Baru dan ROH NUBUATAN. Hamba Tuhan, Nyonya White mengatakan:

 

“Kita sedang mendekati akhir dari sejarah bumi ini, maka berbagai bidang pekerjaan Allah harus dimajukan dengan lebih banyak berkorban daripada sebelumnya. Pekerjaan bagi akhir zaman ini adalah suatu tugas pengabaran injil. Menyajikan kebenaran mulai dari huruf  pertama urut-urutan abjadnya (A) sampai kepada huruf terakhirnya (Z), berarti usaha penginjilan.” ---- Counsels on Health, p. 300.

 

Usaha penginjilan di waktu ini ialah mengajarkan Alkitab itu sepenuhnya sesuai seluruh interpretasi ilhamnya didalam ROH NUBUATAN. Sebagaimana Jesus telah mempersiapkan Nicodemus bagi baptisannya dengan kebenaran yang lengkap yang dikenal di waktu itu, maka kita pun harus berbuat yang sama di waktu ini. Setiap calon baptisan harus terlebih dulu dipersiapkan dengan semua kebenaran yang sudah terungkap sampai kepada hari ini. Kemudian hendaklah kita memperhatikan petunjuk-petunjuk persiapan baptisan dari hamba Tuhan sebagai berikut:

 

“Adalah perlu suatu persiapan yang lebih menyeluruh pada pihak para calon baptisan. Mereka Itu membutuhkan petunjuk yang lebih jujur daripada yang biasanya diberikan kepada mereka. Prinsip-prinsip kehidupan Kristen harus dibuat jelas bagi mereka itu yang baharu datang kepada kebenaran. Jangan seorangpun bergantung hanya pada pengakuan percaya mereka sebagai bukti bahwa mereka memiliki suatu hubungan yang menyelamatkan dengan Kristus. Kita tidak boleh hanya mengatakan: “Saya percaya,” melainkan juga mempraktikkan kebenaran itu. Adalah oleh menyesuaikan diri dengan kehendak Allah dalam kata-kata kita, dalam pembawaan diri kita, dan tabiat kita, baharulah kita membuktikan hubungan kita dengan-Nya. Apabila seseorang melepaskan dosanya yang merupakan pelanggaran hukum, maka kehidupannya akan dibawa ke dalam penyesuaian dengan hukum, ke dalam penurutan yang sempurna. Inilah pekerjaan dari Roh Suci.Terang dari firman itu dipelajari dengan saksama, suara bathin, perjuangan-perjuangan dari Roh, menghasilkan di dalam hati cinta yang sejati bagi Kristus, yaitu Dia yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai suatu korban yang utuh untuk menebus keseluruhan pribadi, tubuh, jiwa dan roh. Maka cinta akan dimanifestasikan dalam penurutan. Garis pemisah akan menjadi jelas dan mencolok nyata di antara mereka yang mencintai Allah dan memeliharakan perintah-perintah-Nya, dan mereka yang tidak mencintai-Nya dan meremehkan peraturan-peraturan-Nya.”

 

“Pria dan wanita Kristen yang setia harus memiliki kepentingan yang luas untuk menghantarkan jiwa yang sadar kepada pengetahuan kebenaran yang tepat dalam Jesus Kristus. Jika ada yang membiarkan keinginan bagi mementingkan diri sendiri menjadi unggul dalam kehidupan mereka, maka orang-orang percaya yang setia harus mengawasi jiwa-jiwa ini karena merekalah yang harus mempertanggung jawabkannya. Janganlah mereka melalaikan petunjuk yang mengasihi yang jujur dan lemah lembut yang begitu penting kepada orang-orang yang baru bertobat itu supaya tidak akan ada pekerjaan yang setengah hati. Pengalaman yang pertama sekali harus benar.

 

“Setan tidak ingin orang melihat perlunya suatu penyerahan diri yang menyeluruh  kepada Allah. Apabila jiwa-jiwa gagal berserah diri sedemikian ini, maka dosa tidak dapat ditinggalkan; berbagai selera dan napsu-napsu sedang berjuang bagi keunggulan; cobaan-cobaan mengacaukan bathin, sehingga pertobatan yang sebenarnya gagal. Kalau saja semua menyadari akan pertikaian itu yang harus dihadapi oleh setiap jiwa melawan agen-agen iblis yang sedang berusaha untuk menjerat, membujuk, dan menyesatkan, maka akan ada lebih banyak lagi usaha yang bersungguh-sungguh bagi orang-orang yang baru dalam iman.”

 

“Jiwa-jiwa ini, yang dibiarkan sendiri seringkali dicobai dan tidak dapat melihat jahatnya cobaan itu. Biarkanlah mereka itu merasa bahwa adalah hak kewajiban mereka untuk mencari nasehat. Hendaklah mereka berusaha mencarikan lingkungan masyarakat yang dapat membantunya. Oleh bergabung dengan orang-orang yang mencintai dan takut akan Allah mereka akan memperoleh kekuatan.”

 

“Pembicaraan kita dengan jiwa-jiwa ini harus bersifat rohaniah dan membesarkan hati. Tuhan menandai semua pertikaian dari setiap orang yang lemah, yang ragu-ragu, yang sedang bergumul, dan Ia hendak membantu semua orang yang berseru kepada-Nya. Mereka akan melihat sorga terbuka di depannya, dan malaikat-malaikat Allah sedang menuruni dan menaiki tangga yang cerah bersinar-sinar itu yang sedang mereka coba menaikinya.” – 6 Testimonies for the Church, p. 92 – 93.

 

Saudara! Tulisan diatas ini terdapat di bawah judul “PERSIAPAN BAGI BAPTISAN.” Apabila dibaca dengan saksama dapatlah dilihat, bahwa jiwa-jiwa yang baru bertobat pada umumnya masih terus diberi pembinaan selama jangka waktu tertentu sebelum dibaptis. Bahkan sesudah dibaptispun hamba Tuhan  mengatakan:

 

“Setiap kesempatan, setiap manfaat, setiap hak, telah dikaruniakan kepada kita untuk memperoleh pengalaman Kristen yang kaya, tetapi kita tidak dapat mempelajari setiap perkara semuanya sekaligus. Harus ada pertumbuhan . . .  Janganlah kita berpikir bahwa segera setelah kita dibaptis kita akan siap tammat dari sekolah Kristus.” --- EGW. Bible Commentary, vol. 6, p. 1075.

 

Tugas Orangtua Mempersiapkan

Anak-Anaknya

 

Para orangtua yang anak-anaknya ingin dibaptis mempunyai tugas untuk dilaksanakan, baik dalam memeriksa dirinya sendiri maupun dalam memberikan petunjuk yang jujur kepada anak-anak mereka. Baptisan adalah suatu peraturan upacara yang penting dan sangat suci, maka harus terdapat pengertian yang menyeluruh akan artinya. Ia itu berarti pertobatan dari dosa, dan jalan masuk ke dalam suatu kehidupan yang baru dalam Jesus Kristus. Janganlah terburu-buru menerima upacara ini. Para orangtua maupun anak-anak hendaknya memperhitungkan akibatnya. Dalam menyetujui baptisan bagi anak-anaknya para orangtua sendiri mengikat janji yang suci bahwa mereka akan menjadi penatalayan-penatalayan yang setia bagi anak-anak ini untuk membimbing mereka dalam pembangunan tabiatnya. Mereka sendiri berjanji untuk menjaga dengan perhatian yang khusus anak-anak domba dari kawanan domba ini, agar mereka tidak mempermalukan iman yang mereka anut.”

 

        “Petunjuk ibadah harus diberikan kepada anak-anak semenjak dari tahun-tahun permulaan mereka. Ia itu harus diberikan bukan dalam roh yang bersifat tuduhan, melainkan dalam roh bahagia yang menggembirakan. Para ibu perlu senantiasa waspada supaya  jangan pencobaan mendatangi anak-anak itu dalam bentuk yang sedemikian rupa yang tidak dikenal oleh mereka. Para orangtua harus menjaga anak-anak mereka dengan petunjuk yang bijaksana dan menarik. Sebagai teman-teman yang terdekat dari anak-anak yang belum berpengalaman ini, mereka harus membantunya dalam tugas memenangkan, bahwa ia iu berarti segala-galanya bagi mereka untuk mencapai kemenangan. Mereka harus mempertimbangkan bahwa anak-anak mereka sendiri yang sedang berusaha berbuat benar itu ialah anggota-anggota termuda dari keluarga Tuhan, maka mereka harus merasakan kepentingan yang luas dalam membantu anak-anak itu meluruskan jalan-jalannya pada jalan raya penurutan dari Raja. Disertai perhatian yang penuh kasih sayang mereka harus mengajar anak-anak itu dari hari ke hari apa manfaatnya menjadi anak-anak Allah, lalu menyerahkan kemauan dalam penurutan kepada-Nya. Ajarkanlah kepada mereka bahwa kepatuhan kepada Allah itu meliputi juga kepatuhan kepada para orangtuanya. Ini patut menjadi tugas sehari-hari dan setiap jam. Orang-orangtua, berjagalah, berjagalah dan berdoa, dan jadikanlah anak-anakmu itu teman-temanmu sendiri.”

 

        “Apabila periode yang terbahagia dari kehidupan mereka itu tiba, dan mereka dalam hatinya mencintai Jesus lalu ingin dibaptis, maka layanilah mereka dengan sejujurnya. Sebelum mereka menerima baptisan, tanyakanlah kepada mereka apakah benar maksud mereka yang utama dalam hidupnya untuk bekerja bagi Allah. Kemudian beritahukanlah kepada mereka bagaimana memulainya. Itulah pelajaran-pelajaran yang pertama sekali yang sangat berarti. Dalam kesederhanaan ajarkanlah kepada mereka bagaimana mereka pertama sekali membaktikan diri kepada Allah. Buatkanlah tugas itu semudah mungkin untuk dapat dimengerti. Jelaskanlah apa arti berserah diri kepada Tuhan, berbuat sesuai pengarahan dari firman-Nya di bawah nasehat dari para orangtua Kristen.”

 

        “Sesudah berusaha dengan jujur, jika engkau puas bahwa anak-anakmu sudah memahami arti dari pertobatan dan baptisan, dan benar-benar sudah bertobat, maka biarkanlah mereka dibaptis. Namun, saya ulangi, pertama sekali supaya mempersiapkan dirimu sendiri untuk bertindak sebagai gembala-gembala yang setia dalam mengendalikan kaki-kaki mereka yang belum berpengalaman itu pada jalan penurutan yang sempit. Allah harus bekerja dalam orang-orangtua agar mereka dapat memberikan kepada anak-anaknya teladan yang benar dan kasih, sopan-santun, dan kesederhanaan Kristen, dan dalam penyerahan diri yang lengkap kepada Kristus. Jika engkau menyetujui baptisan bagi anak-anakmu dan kemudian membiarkan mereka berbuat sesuai kehendaknya sendiri, tanpa merasa berkewajiban apapun untuk menjaga kaki-kaki mereka pada jalan yang lurus, maka engkau sendiri harus bertanggung jawab sekiranya mereka kehilangan iman dan kemauan dan perhatian dalam kebenaran.” – 6 Testimonies, pp. 93 – 95.

 

        Para orangtua yang dimaksud oleh hamba Tuhan di atas adalah dari dalam sidang Tuhan sendiri. Dengan demikian baptisan yang diberikan kepada anak-anak mereka tidak akan membuat mereka itu menjadi Kristen, karena mereka sedianya adalah anak-anak Allah. Namun karena anak-anak itu belum dewasa, maka para orangtua bertanggung jawab penuh kepada Allah apabila anak itu kelak kehilangan iman dan kemauan dan perhatian dalam kebenaran.

 

Anak-anak pada umumnya belum mantap pendiriannya. Kepercayaan dan keyakinannya masih seringkali berubah-ubah. Itulah sebabnya kepada para orangtua hamba Tuhan mengatakan : “JANGAN TERBURU-BURU MENERIMA UPACARA INI.”

 

Tugas Pendeta

 

        Para calon baptisan yang telah bertumbuh menjadi pria dan wanita dewasa harus lebih memahami kewajiban mereka dari pada orang-orang yang lebih muda; namun pendeta  sidang mempunyai tugas untuk dilakukan bagi jiwa-jiwa ini. Adakah mereka memiliki kebiasaan-kebiasaan dan praktik-praktik yang salah? Adalah kewajiban pendeta untuk mengadakan pertemuan-petemuan khusus bersama mereka. Berikanlah kepada mereka bacaan-bacaan Alkitab, bercakap-cakaplah dan berdoa bersama mereka, dan tunjukkanlah dengan jelas semua kehendak Tuhan atas mereka itu. Bacakanlah kepada mereka ajaran Alkitab yang berkenan dengan pertobatan. Tunjukkanlah apa artinya buah pertobatan, yaitu bukti bahwa mereka mengasihi Allah. Tunjukkanlah bahwa pertobatan yang sungguh  ialah suatu perubahan hati, perubahan pikiran dan maksud-maksud hati. Semua kebiasaan jahat harus dilepaskan. Dosa-dosa karena berbicara jahat, irihati, pendurhakaan, harus dibuang. Harus ada peperangan melawan setiap sifat tabiat yang jelek. Baharulah dia yang percaya itu dapat dengan penuh pengertian menagih janji yang berbunyi; “Pintalah, maka ia itu akan dikaruniakan kepadamu.”  Matius 7 : 7. --- 6 Testimonies for the Church, p. 95.

 

        Saudara! Petunjuk dari hamba Tuhan kepada  p e n d e t a  di atas ini sepintas lalu tampak sederhana. Bahkan tampaknya mudah sekali untuk dilaksanakan. Namun dari teladan Jesus selama Ia mempersiapkan Nicodemus bagi baptisannya, dapatlah diketahui bahwa petunjuk Roh Nubuatan di atas pada hekekatnya jauh lebih sulit diterapkan di waktu ini daripada kepada Nicodemus di masa lalu.

 

        Mempersiapkan Nicodemus jauh lebih mudah, sebab ia benar-benar lapar dan haus akan kebenaran, ia sudah banyak mengenal Alkitab, ia berasal dari dalam bangsa pilihan Allah sendiri, Israel, dan sekalipun seluruh kebenaran diajarkan kepadanya dari A sampai Z, namun Alkitab yang sudah terungkap pengertiannya di waktu itu baharu sebagian kecil dari Wasiat Lama. Wasiat Baru pada waktu itu belum ada.

 

        Sebaliknya upaya mempersiapkan jiwa-jiwa baru di waktu ini akan lebih sulit, sebab tidak semua dari mereka itu lapar dan berhaus akan kebenaran. Banyak yang sama sekali belum mengenal Alkitab, maka apabila seluruh kebenaran harus diajarkan dari A sampai Z, maka akan membutuhkan waktu yang agak lama. Ini hendaknya dipahami, sebab Alkitab yang terungkap sampai di waktu ini, sesuai petunjuk nubuatan Zakharia pasal 4, sudah meliputi seluruhnya, baik Wasiat Lama maupun Wasiat Baru. Pendeta wajib mengajarkan seluruh kebenaran yang tersedia karena “Menyajikan kebenaran mulai dari huruf pertama urut-urutan abjadnya (A) sampai kepada huruf terakhirnya (Z) berarti usaha penginjilan. --- Counsels on Health, p. 300.

 

PEMERIKSAAN TERHADAP

CALON BAPTISAN

 

“Tidak ada ujian masuk kemuridan (discipleship) yang digunakan sedemikian seksama seperti yang harus digunakan terhadap orang-orang yang menyerahkan diri kepada baptisan. Haruslah dimengerti apakah mereka itu hanya memakai nama Masehi Advent Hari Ketujuh, atau apakah mereka sedang mengambil tempat berdiri pada pihak Tuhan, untuk keluar dari dunia dan berpisah lalu tidak menjamah perkara yang keji. Sebelum baptisan hendaknya diadakan suatu penyelidikan yang menyeluruh terhadap pengalaman dari para calon baptisan. Penyelidikan hendaknya dibuat bukan dalam cara yang dingin dan berjarak, melainkan dengan ramah, lemah lembut, sambil mengarahkan orang-orang yang baru bertobat itu kepada Anak Domba Allah yang menyingkirkan dosa dunia. Gunakanlah persyaratan-persyaratan Injil kepada para calon baptisan itu.

 

“Salah satu butir pada mana orang-orang yang baru beriman perlu diberi petunjuk ialah masalah pakaian. Hendaklah orang-orang yang baru bertobat itu dilayani dengan setia. Apakah pakaian mereka itu mencolok? Apakah mereka memiliki kesombongan dalam hati? Mendewa-dewakan pakaian adalah suatu penyakit moral. Ia itu tidak boleh dibawa serta kedalam kehidupan yang baru. Dalam banyak hal, kepatuhan kepada semua persyaratan Injil akan menuntut suatu perubahan yang menentukan dalam pakaian.”

 

“Jangan sekali sembrono dalam pakaian. Demi kepentingan Kristus, yang mana kita adalah saksi-saksi-Nya, kita berusaha menampakkan diri terbaik mungkin. Dalam pelayanan Tabernakel Allah menentukan setiap bagian berkenaan dengan baju-baju mereka yang melayani di hadapan-Nya. Dengan demikian kita diajarkan bahwa Ia mempunyai pilihan tertentu berkenaan dengan pakaian orang-orang yang melayani-Nya. Secara lebih terinci adalah petunjuk-petunjuk yang diberikan mengenai jubah Harun, karena pakaiannya adalah simbolis. Dengan demikian pakaian dari para pengikut Kristus harus juga bersifat simbolis. Dalam segala perkara kita harus menjadi wakil-wakil-Nya. Penampakan diri kita pada setiap kesempatan harus memperlihatkan kerapian, kesederhanaan dan kemurnian. Tetapi firman Allah tidak membenarkan melakukan perubahan-perubahan dalam pakaian yang hanya demi kepentingan mode, sehingga kita dapat tampak seperti dunia. Orang-orang Kristen jangan menghiasi pribadi dengan perlengkapan yang mahal ataupun perhiasan-perhiasan yang berharga.”

 

“Semua perkataan firman yang berkenaan dengan pakaian harus diperhatikan dengan seksama. Kita perlu memahami hal itu, yaitu yang berkenaan bagi Tuhan dalam juga  memakaikan pakaian bagi tubuh. Semua orang yang bersungguh-sungguh berusaha mencarikan karunia kemurahan Kristus akan mau mengikuti kata-kata petunjuk yang berharga yang diilhami oleh Allah. Bahkan bentuk mode dari pakaian akan menyatakan Kebenaran dari Injil.”

 

“Semua orang yang sudah mempelajari kehidupan Kristus dan mempraktikkan ajaran-ajaran-Nya akan menjadi seperti Kristus. Pengaruh mereka akan sama dengan pengaruh-Nya. Mereka akan mengungkapkan kesehatan tabiat. Sementara mereka berjalan pada jalan kepatuhan yang sederhana, sambil melakukan kehendak Allah, mereka membuat pengaruh yang memberitahukan kemajuan kepentingan Allah dan kemurnian yang sehat dari pekerjaan-Nya. Dalam jiwa-jiwa yang sepenuhnya bertobat ini dunia akan menyaksikan kuasa kebenaran yang menyucikan itu pada tabiat manusia.”

 

“Pengetahuan akan Allah dan akan Yesus Kristus yang dinyatakan dalam tabiat akan merupakan suatu pujaan di atas segala-galanya yang dijunjung tinggi di bumi ataupun di sorga. Itulah pendidikan yang tertinggi. Itulah anak kunci yang membuka gerbang-gerbang pintu  kota samawi. Adalah maksud Allah agar semua orang yang memegang Kristus melalui baptisan akan memiliki pengetahuan ini. Dan adalah kewajiban semua hamba Allah untuk menyajikan ke hadapan jiwa-jiwa ini kesempatan istimewa dari panggilannya yang mulia itu dalam Jesus Kristus.”––  6 Testimonies for the Church, pp. 95 - 97.

 

SAUDARA! Apabila masalah pakaian merupakan salah satu persyaratan Kristen yang harus diperhatikan, maka masalah rambutpun sesungguhnya tidak kurang pentingnya. Berbagai mode rambut pria pada waktu ini ternyata tidak lagi serasi dengan kerapian pakaian yang dikenakan. Beberapa bentuk rambut pria ternyata lebih banyak menampakkan pribadi yang sembrono, tidak rapih, agak jorok, bahkan sampai menjijikkan.

 

Satu lagi butir persyaratan pada mana orang-orang yang baru beriman perlu diberi petunjuk ialah masalah reformasi kesehatan. Sebagai pendiri Organisasi Gereja ini hamba Tuhan Nyonya White mengatakan:

 

“Kepada saya ditunjukkan bahwa Allah hendak memberikan kepada umat pemelihara hukum-hukum-Nya suatu makanan yang baru (a reform diet), dan bahwa jika mereka menerima ini, maka penyakit-penyakit dan penderitaan-penderitaan akan sangat berkurang. Kepada saya ditunjukkan bahwa pekerjaan ini akan maju pesat.”– Counsels on Health, p. 531.

 

“Pada tanggal 10 Desember 1871 kepada saya sekali lagi ditunjukkan, bahwa reformasi kesehatan adalah salah satu cabang dari pekerjaan besar yang akan mempersiapkan satu umat bagi kedatangan Tuhan yang akan datang. Reformasi kesehatan itu sangat  erat hubungannya dengan pekabaran malaikat ketiga bagaikan hubungan tangan dengan tubuh.”–1 Testimony Treasures, p. 320.

 

“Reformasi-reformasi yang lebih besar akan tampak di antara orang-orang yang menyatakan sedang menunggu kedatangan Kristus yang segera itu. Reformasi kesehatan akan melaksanakan di antara umat kita suatu tugas yang sebelumnya belum pernah terlaksana… Banyak orang yang kini hanya setengah bertobat dalam masalah makanan daging akan pergi meninggalkan umat Allah, untuk tidak lagi berjalan bersama mereka.” – Counsels on Health, p. 575.

 

“Sebagai umat kita telah diberi tugas untuk memperkenalkan prinsip-prinsip reformasi kesehatan itu. Ada sebagian orang yang mengira bahwa masalah makanan adalah tidak cukup penting untuk diikutsertakan dalam pekerjaan penginjilan mereka. Tetapi yang sedemikian ini justru membuat kesalahan besar. Firman Allah menyatakan: ‘Sebab itu baik kamu makan, atau minum, atau apapun yang kamu perbuat, perbuatlah semuanya itu demi kemuliaan Allah.’ 1 Khorinthi 10:31. Masalah pertarakan, dalam semua kepentingannya, mempunyai tempat yang penting dalam pekerjaan penyelamatan.” – 9 Testimonies for the Church, p. 112.

 

 PELAKSANAAN BAPTISAN

 

“Apabila mungkin, baptisan supaya dilaksanakan di sesuatu danau yang jernih atau sungai yang mengalir. Dan curahkanlah pada kesempatan itu semua kepentingan dan kesungguhan yang dimasukkan kedalamnya. Pada pelayanan yang sedemikian ini malaikat-malaikat Allah akan selalu hadir.”

 

“Orang yang menyelenggarakan upacara baptisan itu harus berusaha membuatnya menjadi suatu kesempatan yang hikmah, menjadi pengaruh yang suci bagi semua penonton yang hadir. Setiap upacara Gereja harus dibuat sedemikian rupa supaya dapat dijunjung tinggi dalam pengaruhnya. Jangan apapun dibuat secara biasa-biasa saja atau murah, atau ditempatkan pada tingkat yang sama dengan perkara-perkara biasa. Gereja-gereja kita perlu dididik untuk lebih menghargai dan menghormati upacara pelayanan Allah yang suci. Sebagaimana para pendeta menyelenggarakan upacara-upacara pelayanan yang berkaitan dengan peribadatan kepada Allah, demikian itu pula mereka mendidik dan melatih umat.  Sedikit saja tindakan–tindakan yang mendidik dan melatih dan mendisiplinkan jiwa bagi hidup kekal akan luas akibatnya dalam mengangkat dan menyucikan sidang.”

 

“Pada setiap gereja jubah-jubah baptisan harus disediakan bagi para calon baptisan. Ini janganlah dianggap sebagai pengeluaran biaya yang tidak perlu. Ia itu merupakan salah satu perkara yang dipersyaratkan dalam kepatuhan kepada anjuran yang berbunyi: ‘Hendaklah segala perkara diselenggarakan dengan rapih dan tertib.”  1 Korinthi 14 : 40.

 

“Adalah tidak baik bagi gereja yang satu untuk bergantung kepada pinjaman jubah-jubah dari gereja lainnya. Seringkali apabila jubah-jubah itu diperlukan, ia itu tidak ditemukan; ada peminjam yang lalai memgembalikannya. Setiap Gereja harus menyediakan bagi semua kebutuhannya sendiri dalam hal ini. Supaya suatu dana dihimpun bagi maksud ini. Jika seluruh gereja bersatu dalam hal ini, ia itu tidak akan menjadi beban yang berat.” – 6 Testimonies for the Church, pp. 97 - 98.

 

SESUDAH BAPTISAN

 

“Janji-janji yang kita ucapkan sendiri pada waktu baptisan banyak mengikat. Dalam nama Bapa, Anak dan Rohulkudus kita dikuburkan dalam kesamaan dengan kematian Kristus, lalu bangkit dalam kesamaan dengan kebangkitan-Nya, lalu kita akan menghayati suatu kehidupan yang baru. Kehidupan kita akan dibungkus dengan kehidupan Kristus. Kemudian dan selanjutnya orang percaya akan ingat selalu bahwa ia berdedikasi kepada Allah, kepada Kristus dan kepada Roh Suci. Ia akan membuat semua permasalahan duniawi menjadi nomor dua terhadap hubungan yang baru ini. Secara resmi ia menyatakan bahwa ia tidak akan lagi hidup dalam kesombongan dan pemanjaan diri sendiri. Ia tidak akan lagi hidup acuh dan sembrono. Ia telah membuat janji dengan Allah. Ia telah mati bagi dunia. Ia akan hidup bagi Tuhan, untuk memanfaatkan bagi-Nya semua kemampuan yang telah dipercayakan kepadanya, tidak pernah melepaskan kesadaran bahwa ia telah membawa tanda-tanda Allah, bahwa ia adalah warga dari kerajaan Kristus, peserta dari alam keIlahian. Ia akan berserah diri kepada Allah semua keadaannya dan semua yang dipunyainya, sambil mempekerjakan semua karunia talentanya bagi kemuliaan nama Allah.

 

“Kewajiban-kewajiban dalam kesepakatan rohani yang diikat dalam janji pada waktu baptisan adalah bersifat timbal balik. Sebagai manusia yang pada pihaknya bertindak dengan kepatuhan yang sepenuh hati, mereka mempunyai hak untuk berdoa: “Kiranya dimaklumi, Tuhan, bahwa Engkaulah Allah di Israel.” Kenyataan bahwa engkau telah dibaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Suci adalah jaminan bahwa jika engkau mau meminta bantuan mereka, para penguasa ini akan membantumu pada setiap keadaan darurat. Tuhan akan mendengar dan menjawab doa–doa dari para pengikut-Nya yang jujur yang memegang beban pikulan Kristus dan belajar di dalam sekolah-Nya kerendahan hati-Nya dan kesederhanaan-Nya.”

 

“Maka jika engkau bangkit bersama dengan Kristus, carilah perkara-perkara itu yang diatas, dimana Kristus duduk pada sebelah kanan Allah. Mantapkanlah hatimu kepada perkara-perkara yang diatas, jangan pada perkara-perkara yang di bumi. Karena engkau sudah mati, dan kehidupanmu ada tersembunyi bersama Kristus dan Allah.”- Kolose 3 : 1 - 3.

 

“Sebagai umat pilihan Allah, yang suci yang dikasihi, maka pakaikanlah perut yang berisikan kemurahan, kebaikan, kesederhanaan pikiran, lemah lembut, panjang sabar; yang sabar terhadap sesama, dan saling memaafkan, sekiranya orang bertengkar melawan sesamanya, sama seperti Kristus telah memaafkan kamu, perbuat juga olehmu demikian. Dan diatas semua perkara ini pakailah kebajikan, yaitu pengikat kesempurnaan… Dan biarlah kedamaian Allah itu memerintah di dalam hatimu, untuk mana engkau juga sudah terpanggil ke dalam satu tubuh; maka hendaklah kamu bersyukur… Maka apapun yang engkau lakukan dalam perkataan dan perbuatan, lakukanlah semua itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil bersyukur kepada Allah dan Bapa oleh Dia.” Kolose 3:12-17.” – 6 Testimonies for the Church, pp. 98 - 99.

 

TELADAN DARI BAPTISAN

NYONYA WHITE

 

Berikut ini kami perkenalkan sepintas lalu sejarah kehidupan hamba Tuhan Nyonya Ellen G. White, khususnya berkenaan dengan baptisannya ditangan seorang pendeta Methodist. Beliau menuliskannya sebagai berikut:

 

“Saya lahir di Gorham, Maine, pada tanggal 26 Nopember 1827. Orangtua saya, Robert Harmon (ayah) dan Eunice Harmon (ibu), selama bertahun-tahun adalah penduduk dari negara bagian ini. Sejak masa muda mereka telah menjadi anggota-anggota yang aktif dan setia dari Methodist Episcopal Church. Di dalam gereja itu mereka memegang hubungan yang terhormat, dan mereka bekerja bagi pertobatan orang-orang berdosa, dan membangun kepentingan pekerjaan Allah, selama periode empat puluh tahun. Selama masa ini mereka gembira karena melihat anak-anaknya, yang berjumlah delapan orang, semuanya bertobat dan berkumpul dalam persekutuan Kristus.

 

“Selagi saya masih kanak-kanak orangtua saya pindah dari Gorham ke Portland, Maine. Di sini, pada usia sembilan tahun kecelakaan terjadi menimpa saya yang telah mempengaruhi seluruh kehidupan saya….” – Life Sketches, p. 11.

 

“Pada usia sebelas tahun saya bertobat, dan setelah berumur dua belas tahun saya dibaptis, lalu menggabungkan diri di Gereja Methodist. Pada usia tiga belas tahun saya mendengar William Miller menyampaikan ceramah-ceramahnya yang kedua kali di kota Portland, Maine.” –Early Writings, p. 11.

 

Menjelang dibaptis

 

“Segera sesudah kami kembali dari perkemahan itu, saya bersama-sama dengan beberapa rekan lainnya dibawa ke dalam gereja untuk diperiksa. Pikiran saya banyak sekali tergugah pada masalah pokok baptisan. Semuda usia saya, saya hanya dapat melihat satu model baptisan yang diakui kebenarannya oleh Alkitab, dan itu adalah diselamkan. Beberapa hari sudara-saudari pengikut Gereja Methodist mencoba dengan sia-sia untuk menyakinkan saya, bahwa percikan itulah baptisan dari Alkitab. Pendeta Methodist setuju untuk menyelamkan para calon baptisan jika mereka secara sadar menghendaki metode itu, sekalipun ia tidak secara langsung menganjurkan bahwa percikan akan sama saja berkenaan kepada Allah.

 

“Akhirnya waktunya ditentukan bagi kami untuk menerima upacara yang hikmah ini. Ia itu suatu hari yang agak berangin sewaktu kami, dua belas orang, turun ke laut untuk dibaptis. Ombak-ombak berdatangan tinggi-tinggi dan menghantam pantai, namun sementara saya mengangkat salib yang berat ini kedamaianku adalah bagaikan suatu sungai. Sewaktu saya keluar dari air, kekuatanku hampir-hampir lenyap, karena kuasa Tuhan berada di atasku. Saya merasa bahwa mulai saat itu saya bukan lagi dari dunia ini, melainkan telah bangkit dari kubur air ke dalam suatu kehidupan yang baru. Pada sore harinya saya diterima ke dalam sidang dalam status keanggotaan penuh.” – Life Sketches, p. 25. 

 

Sesudah dibaptis

 

Sesudah dibaptis dan pada setahun kemudian, “Pada usia tiga belas tahun saya mendengar William Miller menyampaikan ceramah-ceramahnya yang kedua kali di kota Portland, Maine. – Early Writings, p. 11.

 

“Kebanyakan dari keluarga ayah saya adalah orang-orang yang sepenuhnya percaya kepada kedatangan Kristus, dan karena bersaksi mengenai ajaran yang mulia ini kami bertujuh (tujuh orang) pada suatu waktu telah dipecat dari Gereja Methodist. Pada saat itu kata-kata nabi itu menjadi sangat berharga bagi kami: “Saudara-saudaramu yang membenci kamu, yang membuang kamu keluar karena sebab nama-Ku. Sekalipun mereka itu mengatakan: biarlah Tuhan di permuliakan; namun IA akan muncul bagi kegembiraan kamu, dan mereka itu akan dipermalukan.” Jesaya 66:5.” – Early Writings, p. 13.

 

Beberapa Catatan Penting

dari Baptisan itu

 

Pelajaran penting yang perlu diambil dari pengalaman Hamba Tuhan Nyonya Ellen G. White di atas adalah sebagai berikut:

  • Sekalipun seluruh keluarga Nyonya White (keluarga Harmon) di kenal sebagai orang-orang percaya dan patuh di dalam gereja Methodist, namun Nyonya White baharu mengakui dirinya bertobat pada usia sebelas tahun, setelah mereka menyambut ceramah-ceramah dari William Miller pada kedatangannya yang pertama di kota Portland, Maine, USA.
  • Sekalipun sudah bertobat pada usia sebelas tahun ia ternyata baharu menyerahkan diri kepada baptisan setahun kemudian. Persiapan baptisan yang memakan waktu kira-kira setahun lamanya itu membuktikan, bahwa ia tidak terburu-buru menyerahkan diri kepada baptisan.
  • Sekalipun Nyonya White telah dibaptis di tangan seorang pendeta Methodist yang belum mengenal doktrin “Baptisan secara di selamkan” yang dikumandangkan oleh  Alexander Campell, salah seorang pemuka madzab Gereja Baptist, namun baptisannya itu telah berkenaan kepada Allah. Ini membuktikan, bahwa sah atau tidaknya sesuatu baptisan dihadapan Allah akan sangat bergantung pada persiapan dari pihak calon baptisan itu sendiri. Inilah pula sebabnya, maka Nyonya White menegaskan: “ADALAH PERLU SUATU PERSIAPAN YANG LEBIH MENYELURUH PADA PIHAK PARA CALON BAPTISAN.” – 6 Testimonies for the Church, p. 91.
  • Setiap baptisan yang sudah benar penyelenggaraannya di gereja Kristen manapun, ia itu tidak perlu lagi diulangi di dalam Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, karena Nyonya White tidak pernah mengulangi baptisannya di dalam Gereja kita. Ini juga membuktikan masih ada sebagian pelaksanaan Firman yang benar di dalam gereja-gereja Kristen lainnya, yang masih diakui kebenarannya oleh sorga. Inilah pula alasannya mengapa Nyonya White mengatakan:

“Apabila sebuah pekabaran datang dalam nama Tuhan kepada umat-Nya, maka tidak seorangpun boleh menghindarkan diri untuk tidak menyelidiki tuntutan-tuntutannya. Tidak seorangpun boleh berdiri dibelakang dengan sikap acuh dan percaya diri sendiri, sambil mengatakan: ‘saya tahu artinya kebenaran. Saya puas dengan kedudukan saya. Saya sudah berketetapan hati, dan saya tidak mau beralih dari kehidupan sebab, apapun yang terjadi. Saya tidak mau mendengarkan pekabaran dari juru kabar ini, karena saya tahu bahwa ia itu tidak mungkin kebenaran.’ ADALAH KARENA MENGIKUTI JALAN YANG SEDEMIKIAN INI, MAKA GEREJA-GEREJA YANG TERKENAL  TELAH  TERTINGGAL  DALAM   K E G E L A P A N   S E B A G I - A N, DAN INILAH SEBABNYA MENGAPA PEKABARAN-PEKABARAN SORGA TIDAK BERHASIL MENCAPAI MEREKA.” – Counsels on Sabbath School Work, p. 28.

  • Baptisan terhadap anak-anak dari keluarga umat Allah diperkenankan oleh Roh Nubuat, asalkan mereka dipersiapkan dengan seksama dalam waktu yang cukup memadai.
  • Dalam mempersiapkan diri bagi baptisan Nyonya White ternyata tidak hanya bergantung pada kelengkapan kebenaran yang tersedia di dalam Madzab gereja Methodistnya, melainkan ia juga belajar dari ceramah-ceramah William Miller yang memberikan Terang Baru melengkapi terang yang sudah ada. Inilah sebabnya, maka sekalipun ia sudah bertobat pada usia 11 tahun, ia masih terus mempersiapkan diri selama setahun berikutnya untuk menghadapi baptisannya.
  • Sesudah dibaptis Nyonya White terus membuktikan dirinya sebagai penyelidik Alkitab yang haus kebenaran. Karena kebenaran itu juga ia telah ditentang oleh saudara-saudara segerejanya, dan pada akhirnya telah dipecat dari keanggotaan sidangnya.

 

BAPTISAN ADALAH BAGIAN DARI PROSES PEMBENARAN OLEH IMAN

 

 Hamba Tuhan Nyonya White mengatakan:

 

Langkah-langkah yang dipersyaratkan dalam pertobatan, dalam semua perkara, adalah  I m a n,   p e r t o b a t a n,   dan   b a p t i s a n  dengan demikian Gereja Kristen yang benar akan bersatu dalam Tuhan, satu I m a n, satu baptisan.” – The Story of Redemption, p. 289.

 

“Pekerjaan bagi akhir zaman ini adalah suatu tugas pengabaran Injil. Menyajikan kebenaran mulai dari huruf pertama urut-urutan abjadnya (A) sampai kepada huruf terakhir (Z), berarti usaha penginjilan.”– Counsels on Health, p. 300.

 

Pertobatan adalah termasuk dalam I m a n, karena iman tanpa pertobatan adalah sia-sia. Orang yang beriman adalah orang yang percaya dan bertobat. Seberapa kalipun ia jatuh, dia akan bertobat kembali. Dia akan terus bertobat sesuai semua petunjuk Injil yang diperolehnya dari A sampai Z.

 

Sesudah sepenuhnya percaya dan bertobat, artinya, sesudah benar-benar ber-Iman, maka langkah yang pertama berikutnya adalah menyerahkan diri kepada baptisan. Oleh baptisan yang sedemikian inilah semua dosa pribadi akan diampuni, karena sekaliannya itu dialihkan kepada Yesus. Urut-urutan prosesnya dapat diikuti melalui gambar bagan berikut ini.

Jelaslah dipahami, bahwa hanya orang-orang yang sudah benar-benar beriman yang akan berkenaan baptisannya di hadapan Allah. Hanya mereka itulah yang berhak memperoleh tempat di dalam sidang Tuhan di bumi karena mereka adalah warga negara dari Kerajaan Kristus.

 

DI BAWAH  BIMBINGAN  ROH, SEBELUM DAN  SESUDAH  BAPTISAN

 

        Yesus menjelang kembali ke Sorga dari missi-Nya di bumi ini, mengatakan bahwa Ia akan menugaskan ROH SUCI turun untuk mewakili-Nya di bumi ini. Roh Suci itu juga dikenal sebagai ROH KEBENARAN. Kata-Nya: “Apabila Roh Kebenaran itu datang, ia akan membimbing kamu kepada segala kebenaran. . . . . .  dan  ia akan menunjukkan kepadamu segala perkara yang akan datang.”- Yahya 16 : 13. Hamba Tuhan Nyonya White selanjutnya mengatakan:

 

        Curahan Roh di zaman rasul-rasul dahulu adalah  p e r m u l a a n  dari hujan awal atau hujan pendahuluan itu, dan hasilnya adalah gilang gemilang. Sampai  kepada  akhir  sejarah kehadiran  Roh  itu  akan  menetap dengan  s i - d a n g  y a n g  b e n a r.” ---- The Acts of the Apostles, pp. 54, 55.

 

        Sidang yang benar di akhir sejarah dunia sekarang ini tak lain daripada Sidang Jemaat Laodikea saja, yaitu Gereja Masehi Advent Hari Ke Tujuh, sebab hanya di dalam Gereja ini SELURUH FIRMAN TERTULIS YANG OTENTIK ditemukan. Hanya di dalam Gereja ini Roh Suci akan membimbing kita untuk menemukan segala kebenaran dan segala perkara yang akan datang itu, sampai kepada baptisan dan seterusnya.

 

        Gereja-Gereja yang terkenal lainnya telah tertinggal dalam ‘kegelapan sebagian’ karena mereka telah menolak pekabaran-pekabaran sorga. Artinya, mereka telah menolak Roh Suci yang menghantarkan kepada mereka pekabaran-pekabaran itu. Akibatnya, sekalipun mereka masih memiliki sebagian terang kebenaran dari Alkitab, namun sebagai Organisasi Roh Suci tidak lagi menetap dengan Gereja-Gereja mereka.

 

        Sekalipun sebagai Organisasi Roh Suci tidak lagi membimbing, namun sebagai pribadi-pribadi Roh Suci ternyata masih mau membimbing, khususnya mereka yang lapar dan haus akan kebenaran. Dalam pengalaman dari Nyonya White tampak jelas, bahwa sekalipun Roh Suci tidak lagi membimbing pendeta Methodistnya sebagai wakil dari Organisasi, namun Nyonya White sebagai pribadi terus dibimbing kepada baptisannya yang benar, bahkan sampai kepada akhir hayatnya.

 

 Sebelum Baptisan

 

        “Bahkan di antara orang-orang kapir terdapat orang-orang yang memiliki roh baik hati. Sebelum firman kehidupan sampai ke telinga mereka, mereka telah menemani para missionaris Kristen, bahkan membantu mereka itu dengan resiko bahaya bagi nyawa mereka sendiri. Di antara orang-orang kapir terdapat orang-orang yang berbakti kepada Allah secara bodoh, yaitu mereka yang belum pernah memperoleh terang melalui perantaraan manusia, namun mereka tidak akan binasa. Sekalipun tidak mengenal hukum Allah yang tertulis, mereka telah mendengar suara-Nya yang berbicara kepada mereka dalam alam, maka mereka telah melakukan perkara-perkara yang dipersyaratkan oleh hukum. Perbuatan-perbuatan mereka itu membuktikan bahwa  R O H   S U C I  telah menyentuh hati mereka, maka mereka diakui sebagai anak-anak Allah.”-- The Desire of Ages, p. 638.

 

Tidak sedikit orang kapir yang menggabungkan diri dengan gereja-gereja kita di seluruh dunia. Juga tidak sedikit para anggota dari Gereja-Gereja lain telah menggabungkan diri dengan kita. Proses penggabungan ini tentunya melalui upacara baptisan. Untuk penggabungan sedemikian ini hamba Tuhan memperingatkan:

 

“Berdoalah bersama mereka, berbicaralah dengan mereka, tetapi jangan membolehkan mereka bergabung dengan umat Allah dalam persekutuan sidang sebelum mereka membuktikan secara pasti bahwa ROH ALLAH sedang bekerja di dalam hati mereka.” – Review & Herald, May 21, 1901.

 

Sesudah Baptisan

 

        “Kristus telah menjanjikan karunia ROH SUCI kepada sidang-Nya, dan janji itu berlaku bagi kita sama banyaknya seperti kepada murid-murid yang pertama dahulu. Namun seperti halnya dengan setiap janji yang lain, ia itu diberikan sesuai dengan persyaratan-persyaratannya. Ada banyak yang percaya dan mengakui memperoleh janji Tuhan itu; mereka berbicara tentang Kristus dan tentang ROH SUCI, namun mereka tidak memperoleh manfaat apapun. Mereka tidak menyerahkan jiwanya untuk dikendalikan dan dikontrol oleh agen-agen Ilahi itu. Kita tidak mungkin dapat menggunakan ROH SUCI itu, ROH itulah yang menggunakan kita. Melalui ROH, ALLAH bekerja di dalam umat-Nya “mengendalikan kemauan dan melaksanakan kehendak-Nya yang baik.” Philipi 2 : 13. Tetapi banyak yang tidak mau tunduk kepada hal ini. Mereka ingin mengatur dirinya sendiri.” --- The Desire of Ages, p. 672.

 

        Kata-kata Roh Nubuatan di atas ini ditujukan kepada sidang, kepada kita yang sudah dibaptis. Kepada kita dijanjikan ROH SUCI yang sama banyaknya dengan apa yang telah diberikan kepada para murid Yesus dahulu. Namun ada persyaratan-persyaratannya, yaitu:

       

1.   Harus menyerahkan jiwa untuk dikendalikan dan dikontrol oleh agen-agen Ilahi. Karena ROH SUCI tidak tampak dan tidak dapat diraba oleh pancaindera, maka produk-produknya itulah yang dimaksud dengan agen-agen Ilahi; yaitu Kesaksian-Kesaksian dari  ROH-NYA atau ROH NUBUATAN.

 

2.   Kita tidak mungkin dapat menggunakan ROH SUCI itu sesuai keinginan pribadi atau Organisasi kita. Roh itulah yang akan mengendalikan kita sesuai kehendak Allah.

 

3.   Ingatlah selalu bahwa “Tidak seorangpun dapat menjadi Kristen tanpa memiliki ROH KRISTUS; dan jika ia sudah memiliki ROH itu, ia itu akan dimanifestasikan dalam suatu tabiat yang baik dan sopan”, -- In Heavenly Places, p. 180.

 

MENGAMATI  BERBAGAI  BAPTISAN  YANG

DISELENGGARAKAN  SELAMA  INI

 

        ‘BAPTISAN ADALAH SUATU PERATURAN UPACARA YANG PENTING DAN SANGAT SUCI, MAKA HARUS TERDAPAT PENGERTIAN YANG MENYELURUH AKAN ARTINYA. IA ITU BERARTI PERTOBATAN DARI DOSA, DAN JALAN MASUK KE DALAM SUATU KEHIDUPAN YANG BARU DALAM YESUS KRISTUS. JANGANLAH TERBURU-BURU MENERIMA UPACARA ITU.” ---- 6 Testimonies for the Church, p. 93.

 

        Berpedoman pada kata-kata Firman di atas ini dapatlah diketahui beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum baptisan, yaitu:

 

1.   Harus terdapat pengertian yang menyeluruh akan artinya. Artinya, baik pendeta sebagai penyelenggara maupun para calon baptisannya harus benar-benar memahami ROH NUBUATAN.

2.   Harus ada pertobatan dari dosa. Artinya, setiap pelanggaran terhadap ROH NUBUATAN sebagai rangkaian Peraturan Pelaksanaan dari Undang-Undang Dasar Torat harus dihentikan.

3.   Harus terlebih dahulu menghayati suatu kehidupan yang baru. Tegasnya harus terlebih dahulu bereformasi.

4.   Jangan terburu-buru menerima upacara baptisan.

 

Tetapi bagaimanakah kenyataannya dalam berbagai penyelenggaraan baptisan selama ini? Dari semua pengalaman selama ini dapatlah disaksikan, bahwa pada umumnya belum ada satupun dari keempat persyaratan di atas yang dipenuhi. Tampak jelas para Penguasa Gereja dengan sengaja telah melalaikan persyaratan-persyaratan Ilahi itu, lalu menggantikannya dengan persyaratan-persyaratan ciptaannya sendiri, yang terutama dimotivasi oleh target jumlah penarikan jiwa. Terdorong oleh berbagai angka target penarikan jiwa yang ditetapkan dari atasannya, maka para pendeta dan para tua-tua sidang makin hari makin jauh menyeleweng daripada persyaratan-persyaratan ilahi di atas. Akibatnya:

       

ROH NUBUATAN sebagai himpunan Peraturan-Peraturan Pelaksanaan dari Undang-Undang Dasar Torat tidak lagi diajarkan kepada para calon baptisan. Bahkan tidak ada lagi satupun nubuatan Alkitab yang berhasil diungkapkan secara tertulis di dalam gereja-gereja kita.

 

        Pertarakan Kristen sebagai produk dari reformasi kesehatan yang digariskan di dalam ROH NUBUATAN tidak dipatuhi, baik sebelum baptisan maupun sesudahnya. Bahkan reformasi pakaian (dress reform) yang diwajibkan kepada setiap umat Allah di waktu ini ternyata sama sekali tidak lagi diperhatikan. Demikian pula halnya dengan berbagai petunjuk lainnya dari ROH NUBUATAN. Alhasil, pembangunan dan reformasi yang dikumandangkan oleh hamba Allah Nyonya White semenjak dari tanggal 25 Pebruari 1902 belum pernah dipatuhi sampai kepada hari ini.

 

        Demikian inilah, maka gantinya memberikan persiapan-persiapan yang memadai dan memeriksa para calon baptisan dengan saksama, mereka itu justru dibujuk-bujuk dan ditakut-takuti agar segera menyerahkan diri kepada baptisan. Bahkan setelah dihadapkan di depan sidang, pada waktu pemeriksaan calon dilakukan di depan umum, ternyata tidak seorangpun menentang pemberian baptisan yang sedemikian itu.

 

        Saudara! Apakah karena telah direstui oleh seluruh hadirin (sidang), tanpa memenuhi persyaratan-persyaratan Ilahi yang ada, sesuatu baptisan sudah dapat berkenan kepada Allah? Mungkinkah suatu kebulatan suara dari seluruh anggota sidang, dapat mengalahkan sesuatu persyaratan Ilahi? Jauh-jauh hari sebelumnya Tuhan Allah oleh perantaraan hamba-Nya telah  mengamarkan sebagai berikut:

 

        “Masuknya  anggota-anggota  yang  belum  memperbaharui hatinya dan  m e r e f o r m a s i k a n  kehidupannya adalah menjadi sumber kelemahan bagi sidang. Kenyataan ini seringkali dilalaikan. Sebagian p e n d e t a dan gereja-gereja sedemikian rupa mendambakan peningkatan jumlah anggota, sehingga mereka tidak memberikan kesaksian yang jujur melawan kebiasaan-kebiasaan dan praktik-praktik yang bukan Kristen. Orang-orang yang menyambut kebenaran tidak diajarkan bahwa mereka itu tidak mungkin berbahagia dengan keduniawian dalam hidupnya, sementara mereka sebagai Kristen hanya dalam nama saja.” --- Evangelism, p. 319.

 

        “Terlalu banyak pekerjaan yang terburu-buru yang dilakukan dalam menambah nama-nama baru pada buku keanggotaan sidang. Cacad-cacad yang serius terlihat pada tabiat sebagian orang yang menggabungkan diri dengan sidang. Orang-orang yang menerima mereka itu mengatakan: Kami akan pertama sekali memasukkan mereka ke dalam sidang, baharu kemudian mereformasikan mereka. Tetapi ini adalah keliru. Pekerjaan yang pertama sekali dilakukan ialah pekerjaan mereformasikan. Berdoalah dengan mereka, berbicaralah dengan mereka, tetapi jangan membiarkan mereka bergabung dengan umat Allah dalam ikatan persekutuan sidang sebelum mereka membuktikan secara meyakinkan bahwa Roh Allah sedang bekerja pada hati mereka.

 

        “Banyak  dari mereka yang nama-namanya tercatat pada buku-buku sidang adalah bukan orang-orang Kristen.” --- Review & Herald, May 21, 1901.

 

Baptisan Yang Gagal

 

        Baptisan yang gagal ialah baptisan yang tidak berkenan kepada Allah karena tidak memenuhi semua persyaratan hukum ROH NUBUATAN. Mereka yang gagal baptisannya ialah mereka yang tidak memperoleh bimbingan Roh Suci. Akibatnya mereka tidak berhasil dibimbing sampai kepada segala kebenaran, mereka tidak berhasil bertobat selengkapnya, mereka tidak berhasil memperoleh pengampunan dari dosa-dosanya, mereka tidak berhasil beriman dengan selayaknya, dan akhirnya mereka tidak dapat diterima manjadi Kristen di dalam buku keanggotaan sidang di dalam sorga. Dari hal mereka ini hamba Tuhan Nyonya White mengatakan:

  1. “Banyak dari mereka yang nama-namanya tercatat pada buku-buku sidang adalah bukan   orang-orang Kristen..” --- Review & Herald, May 21, 1901.
  2. “Ada  b a n y a k   p e n d e t a  yang   b e l u m   p e r n a h   bertobat. . . . . Review & Herald, Oktober 8, 1898.

 

Kesempatan bertobat yang pertama sekali dalam kehidupan Kristen ialah pada waktu baptisan. Apabila seseorang dikatakan ‘belum pernah bertobat,’ maka berarti semenjak   dibaptis sampai kepada hari ini ia belum pernah berhasil memperoleh tanda masuk ke dalam kerajaan Kristus. Sebab apa? Karena baptisannya belum berkenan kepada Allah. Memang, “Tidak ada ujian masuk kemuridan (keanggotaan) yang digunakan sedemikian saksama seperti yang harus digunakan terhadap orang-orang yang menyerahkan diri kepada baptisan”. 6 Testimonies for the Church, p. 95.

 

 

 

*  *  *